March 27, 2017

Asisten Pak Bendahara

Me & Pak Bendahara

Sejak saya pindah dinas ke Pinrang, cakupan pekerjaan saya semakin luas. Saya yang tadinya hanya sebatas operator komputer di bidang keuangan, sekarang mulai dapat kerjaan bantu-bantu Pak bendahara. Sebenarnya, jobdes saya tidak sampai kesana hanya saja karena saya dan Pak bendahara sama-sama pemula di bagian keuangan jadinya kami berkomitmen untuk saling bantu-bantu tidak mengkota-kotakkan pekerjaan, pekerjaan dia adalah pekerjaan saya dan pekerjaan saya adalah pekerjaan dia juga. Awalnya semua mulus-mulus saja, tapi setelah negara api menyerang kami mulai membagi-bagi tanggungjawab. Tetap saling bantu-bantu tapi tidak lagi terikat tanggung jawab secara penuh.

Selama menjadi asisten Pak bendahara, saya semakin mengerti bagaimana proses pencairan keuangan pada satu instansi pemerintah. Mulai dari terbitnya DIPA yang didalamnya terdapat pagu anggaran, pembuatan SPP, SPM, Gaji, Uang makan, hingga mengajukan dokumen-dokumen tersebut ke KPPN setempat, dan setelah semua kegiatan belanja-belanja itu dilaksanakan dalam satu bulan kegiatan, lalu pada awal bulan berikutnya dibuatlah LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) Bendahara Pengeluaran, dan setelah itu kemudian dilakukan rekonsiliasi antara satker dan KPPN yang mana ini dimaksudkan untuk melakukan kontrol antara pengguna keuangan dan penyalur dana biar pencatatannya sama.

Sedikit monoton memang pekerjaan di bagian keuangan, dalam sebulan melakukan kegiatan yang sama selama berbulan-bulan, selama bertahun-tahun. Yang menjadi tantangan sesekali adalah ketika aplikasi yang kami gunakan error, mengatasinya kadang susah kadang juga mudah saja, modal googling saja atau bertanya kesana kemari. Saya suka segala proses yang membuat saya harus melibatkan diri berdiskusi dengan orang-orang yang lebih banyak ilmunya, dan tidak sungkan untuk membagikannya.

Sempat terbersit keinginan membuat blog yang isinya tutorial proses membuat dokumen-dokumen keuangan hingga akhirnya bisa dibawah ke KPPN hingga terbitnya SP2D dan uangnya masuk kedalam rekening satker, hal yang berulang, tapi untuk pemula jelas ini cukup rumit harus dibiasakan sampai hapal diluar kepala semua step-stepnya. Butuh salah dulu untuk tahu jalan keluar semua permasalahan yang ada pada aplikasi. So far, saya menikmatinya.. dan karena saya tak lagi intens mengerjakan semua pekerjaan Pak bendahara, ada baiknya saya menuliskannya sebelum saya benar-benar dibuat lupa.Semoga. Haha.

March 25, 2017

Mengalah


Sesekali, saya ingin mendendangkan sebuah bait yang terdapat pada lagu Seventeen..

"mengapa, harus aku yang selalu mengalah"

Well, berhadapan dengan seseorang yang egonya ada diatas kita memang tidak mudah. Pertama, kita harus senantiasa berkompromi pada diri sendiri, membujuk diri sendiri untuk menghadapi semua situasi dan kondisi dengan hati yang lebih dilembut-lembutkan. Kedua, kita mengalah sebagai manifestasi kemenangan pada diri sendiri. Ketika saya memilih mengalah, itu bukan karena keluhuran budi saya.. semata untuk kepentingan diri sendiri juga, bahwa saya tidak ingin membuat segala hal semakin berantakan yang justru akan berdampak jauh lebih buruk bagi saya kedepannya.

Sedikit berat ternyata. Setelah kita mengangkat bendera putih, maka serta merta syaiton dan gerombolannya mengadakan camping di "pikiran negatif" kita, dengan banyak topeng.. "kok dia ndak hargai usaha saya melunak?", "kok saya mau merendahkan diri saya?", "kok saya bisa selemah ini?" dan masih banyak kok kok kok lainnya. Yang memposisikan bahwa kita ini oke dari segala-galanya diluar kita. Huft. Tapi, saya akan selalu ingat bahwa, ketika kita merasa orang lain salah belum tentu kita pun ada diposisi benar. Terkadang kita hanya berlindung dibalik pembenaran-pembenaran yang membuat kita merasa menang saja.

Saya bersyukur, banyak banyak bersyukur.. dititipkan Allah pada situasi yang banyak membuat saya belajar untuk semakin mengasah kecerdasan emosi saya. Tidak gampang memang. Tertatih-tatih diawalnya, semoga bersama semua hal-hal emosional ini ada kesuksesan yang pelan-pelan juga mendatangi saya. InsyaAllah. Amin.


**catatan sebelum tidur, Gowa-24032017 at 23:29 p.m.

March 11, 2017

Hal yang saya pelajari dari Ego

Pada beberapa relationship  khususnya dua tahun belakangan ini  saya tidak pernah merasakan betul-betul jatuh cinta hingga akhirnya saya harus dihadapkan pada kehilangan. Otak saya mungkin berkata “tidak masalah syam.. all is well” tapi disaat yang bersamaan, sang otak mengirimkan sinyal yang meremukkan perasaan. Alhasil cuman nangis sama curhat yang bisa bikin semuanya lebih baik. Saya patah hati, siyal! Haha.

Padahal, jika semuanya masih baik-baik saja.. semisal si A atau si B masih memperlakukan saya semanis biasanya saya tidak akan pernah sadar bahwa saya membutuhkan mereka, walaupun saya tidak benar-benar ingin mereka menjadi bagian dari kehidupan saya. Mereka datang dan menempati tempat kosong yang belum saya biarkan benar-benar di-isi oleh siapapun juga, saya merasa nyaman, saya merasa dimanjakan dan itu semua sudah cukup bagi saya, sampai akhirnya saya yakin bahwa saya butuh lebih dari itu semua, saya ingin memiliki. Tapi, sadarnya saya selalu datang ketika mereka sudah tidak semanis biasanya. Siyal! Tak jarang saya menanyai diri saya, “apa saya inginkan si A atau si B?” tanpa perlu berfikir lama, saya menjawab “tidak”, tapi disaat yang sama saya merasa frustasi jika mereka tidak memberikan perhatian sebagaimana biasanya. Saya tahu, Ego sedang mempermainkan saya, dan saya yang bodoh ini mau-maunya saja dimainin.. errr, itulah terkadang yang bikin saya menyesal luar dalam.

EGO, ya.. saya tahu dari dulu bahwa saya satu dari sekian banyak orang yang memiliki Ego setinggi langit. Selalu merasa benar, selalu ingin dituruti.. dan ketika semua itu tak saya peroleh mendadak Ego yang setinggi langit itu meluncur turun secara drastis yang membuat saya justru menjadi orang yang minder, insecure dan bahkan cenderung arogan. I’m try to build my self defense… sedih banget kadang-kadang kalau saya menemukan diri saya sedang dalam kondisi seperti ini. Tapi, untuk sekarang ini saya merasa terlalu besarrr untuk bisa dikalahkan oleh Ego. Pelan-pelan, saya belajar untuk berdamai dengan segala tuntutan saya pada hidup, dan justru saat-saat seperti inilah Ego berbalik mengambil perannya mengajarkan saya banyak hal untuk bisa menjadi diri saya sendiri.

Kemudian saya menemukan bahwa Ego itu ada positifnya ada negatifnya. Ego itu positif ketika bisa meningkatkan rasa percaya diri dan tidak melulu merasa kecil dihadapan orang lain terlepas apapun bentuk kekurangan dan keterbatasan kita, Ego itu negatif ketika secara sadar atau tidak kita mulai menguasai dan merendahkan orang lain; seem’s like im okay.. you not okay! Dan itu amat sangat sombong jadinya. Better late than never kan yah, learning need a long process.. learning take a time.. pokoknya sekarang dalam segala hal saya banyak-banyak introspeksi diri, banyak mikir sebelum bicara/bertindak, banyak minta maaf, banyak mengalah, banyak memilah-milah penting atau tidak penting, and not to take things personally.. dan itu semua yang diajarkan Ego pada saya setelah sekian lama saya memanjakannya. Yah, namanya juga hidup harus lewatin yang pait-pait dulu. 

I ain’t much, baby – But I’m all I got..

March 03, 2017

Entrepreneur


Tumpukan buku ini sepertinya menjadi saksi, menjadi tempat saya menitipkan mimpi-mimpi yang amat sangat menggebu-gebu sekitaran tahun 2007-2013. Menjadi seorang entrepreneur, memiliki usaha sendiri yang bisa menghasilkan dan mempekerjakan orang-orang. Being independent. Tapi ternyata, diakhir tahun 2013 takdir berkata lain. Usaha saya, kemauan saya dan segala yang saya lakukan justru membawa saya menjadi seorang ASN. Mengabdi adalah kerja utama saya, amat sangat jauh dari apa yang saya impikan awalnya. 

That’s life!

December 23, 2016

[Toraja] 1st_Rafting at Maiting river

 

Sejak bulan juni/juli lalu, teman saya @ervantangke sudah sibuk meng-arrange rencana outing kami (Prajabpn2014-Sulsel) untuk kesekian kalinya. Kali ini tujuannya lebih jauh, lebih lama dan lebih ekstrim dari biasanya, Rafting a.k.a Arung jeram di sungai Maiting Kabupaten Toraja utara - Sulawesi selatan. Untuk perjalanan menuju Kabupaten toraja saja, menghabiskan waktu hampir setengah hari atau kurang lebih 11-12 jam perjalanan sampai di Kota Rantepao (Ibu kota kabupaten Toraja), lalu dari situ -pada keesokan harinya/11des2016- kami menuju strating point kegiatan Rafting di Kecamatan Dende Piongan dengan jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil penumpang melawati jalur yang kebanyakan menanjak.

Ditengah perjalanan, kami terpaksa berganti mobil penumpang menjadi mobil bak terbuka dikarenakan urusan teknis. Mungkin kalau kejadiannya di kota, ini akan sangat menjengkelkan tapi karena ini dalam rangka berwisata-alam saya pribadi amat sangat menikmatinya. KAPAN LAGI!!! Kami yang tadinya ada dalam 2 mobil terpisah, disatukan bersama logistik Rafting plus beberapa orang guide dari Toraja One Stop Adventure (TOSA), bertumpukan seperti sayur mayur. HAHA. Tapi ke-seruan petualangan kami justeru dimulai dari sini.
 
 
 
 

Disempanjang perjalanan kami bertanya-tanya, dimanakah kiranya sungai itu berada? tidak ada tanda-tanda atau suara-suara aliran air deras, kecuali hamparan sawah dan bukit-bukit tinggi. Hingga akhirnya mobil yang kami tumpangi berhenti, logistik dibongkar dan waktunya memasang perlengkapan safety yang akan kami gunakan untuk ber-arung jeram. Pelampung-Helm-Dayung. Setelah semuanya siap, kami diajak menyusuri jalur trekking sepanjang 2 km yang cukup melelahkan tapi menyenangkan hingga akhirnya kami benar-benar melihat sungai yang diselimuti tebing dan vegetasi hutan. Masya Allah, indahnya.


Bagi pemula seperti saya, pasti ada rasa takut yang tiba-tiba mendominasi fikiran. Tentang apa-apa dan akan kenapa-kenapa. Kaki saya gemetar sesaat akan menaiki perahu, yang saya pastikan pertama adalah saya ada dalam satu perahu dengan teman yang saya percaya akan menolong saya pada situasi-situasi sulit seperti yang sudah-sudah. Selebihnya teman-teman dari TOSA akan mengecek ketepatan penggunaan pelampung dan helm, membagi rombongan yang berjumlah 12 orang kedalam 3 perahu karet ditambah 2 orang pemandu dimasing-masing perahu, yang kemudian memberikan instruksi terkait hal-hal yang akan kami hadapi selama mengarungi Sungai Maiting dan bagaimana untuk melaluinya, mendengarkan dan mematuhi aba-aba yang diberikan oleh pemandu. Saya suka bagaimana mereka menjelaskan dan memberikan rasa aman/nyaman. Full of positive suggestion.. sepertinya mereka benar-benar sudah di berikan training yang cukup untuk bagaimana membuat petualang-petualang pemula tidak merasa takut. From regret being gregett.

Kami mengarungi sungai kurang lebih 4 jam lamanya, mengikuti arus sungai yang kadang tenang kadang deras menuju titik pemberhentian di Desa Tamparan - Kecamatan Rantetayo. Beberapa kali perahu tertubruk tebing yang justru kami sambut dengan tawa-super excited, atau sensasi perahu akan terbalik saat melewati area dengan arus deras dan jeram yang cukup dalam. Beberapa kali menepi untuk saling menunggu, atau sekedar untuk mengambil foto dan menyantap makan siang bersama yang sudah disiapkan oleh pengelola. Pemandangan yang disuguhkan benar-benar indah, rasanya ingin banyak mengambil gambar landscape, tapi apa daya tak ada kamera anti air yang saya bawa, dan lagi kadang-kadang bahagia itu cukup untuk dirasakan, bukan untuk diperlihatkan. Over all, saya bahagia, saya puas dan saya benar-benar segerrr lahir batin, hehe.. hanya saja ke-esokan harinya dan beberapa hari setelahnya badan terasa remuk redam seperti berat badan saya bertambah ber-kilo-kilo.

 
 
 
 


***

Post from IG:
Ada rasa takut yang tak bisa di-definisikan, pada hari-hari menjelang rencana rafting di sungai Maiting - Tanah toraja ini. Alasannya banyak, mulai dari cuaca yang tak menentu, kaki kiri yang masih saja terasa belum pulih betul pasca keseleo beberapa bulan yang lnalu, pengalaman tenggelam, dll.. yang sifatnya remeh-temeh dan cenderung diada-ada-kan. Seperti itulah, selalu saja pengalaman buruk dan rasa takut bisa membuat nyali ciut.

Tapi penasaran saya jauh lebih besar ternyata, melawan rasa takut. Menelusuri jalur trekking sepanjang 2 km diarea sawah dan perbukitan menuju lokasi rafting. Masih sempat was-was, masih sempat gemetaran sampai ketika naik keatas boat karet yang akan kami gunakan. Bismillah. Mau- tidak mau, saya sudah di atas perahu yang siap mengarungi arus sungai. Kurang lebih di-5menit pertama, perahu kami nyangkut di bebatuan akibat arus kencang dan salah arah, was-wasnya makin jadi.. dan setelah kami bisa melaluinya, melalui kerja keras dua pemandu dan tim yang solid, entah kenapa rasa was-was/takut/bingung/nekkere/dan smua nyali cetek saya mendadak hilang, berubah menjadi teriakan-teriakan lantang, dan setelah itu saya bisa benar-benar menikmati permainan. Semakin deras arusnya, semakin seru. Semakin dalam jeramnya, semakin menyenangkan.

Keren pokoknaaaah, totally awesome. Alhamdulillah.

Big thanksnya tetep dong, sama Om boss @ervantangke, yang selalu saja meyakinkan saya kalau ikut ke Tator akan lebih worth dari kemana-mana yg ternyata memang ndak kemana-mana. Eh, plus Om ganteng @arman_tandipai yang selalu menjadi penolong teman yang selalu bisa diandalkanG di area-area ekstrim, darat - laut & udara. See you on the next trip, all gaes. MUACH.

***

[About guide]

Well seperti yang telah banyak saya sebutkan dalam cerita diatas, kami dipandu oleh teman-teman dari Toraja One Stop Adventure (TOSA). High recomended for you-lah, to enjoying Toraja with different taste. Karena toraja ternyata tidak melulu soal wisata budaya dan adat istiadat, soal kuburan, soal lautan awannya. Saya pribadi baru tahu dan YES! it's AMAZE ME! Untuk kegiatan Rafting kemarin kami membayar sebesar IDR 550K/Org, harga sudah termasuk peralatan dan perlengkapan untuk rafting, makan siang, snack, softdrink, dan pelayanan yang super ramah. Worth-lah. 


For future just Call/Whatsapp Miss Aurora (+62812-2128-0714) atau kunjungi situs mereka di http://www.torajaonestopadventure.com/

Welcome adventure!!!

With Love,
SYAM.

November 15, 2016

Change!

Beberapa hari ini saya banyak berbicara dengan beberapa kawan baik saya, intinya.. semua masalah yang pada akhirnya kita hadapi saat ini adalah akumulasi dari masa lalu. Hal-hal yang dahulunya kita anggap sepeleh bisa jadi semakin membesar dan berat pada masanya. Ketika kita merasa ada yang salah, merasa bersalah dan ingin berubah/merubah semua menjadi baik terkadang kita tidak menemukan cara. Pada titik ini meminta maaf memang perkara mudah, tapi kondisi tidak akan serta-merta berbalik. Semuanya terlanjur berjalan pada jalurnya masing-masing, terbiasa asing.

Tapi, yang patut di syukuri adalah Allah tidak akan serta merta memberikan kepada kita kemauan untuk merubah/berubah, pasti ada sesuatu yg telah dirancangnya sehingga dia memilih saat ini, bukan kemarin-kemarin atau nanti-nanti. Ia maha kuasa, pasti tahu apa yang paling baik untuk kita.

With love,
SYAM.

October 30, 2016

[Bira] Perjalanan sebentar

Tepat seminggu lalu (23/10) saya ada dalam perjalanan pulang selepas trip singkat ke daerah wisata Tanjung Bira, Bulukumba – Sulawesi selatan. Trip ini adalah trip paling melelahkan, paling dipaksakan dan paling drama, tapi entah kenapa efek bahagianya jauh lebih berkualitas.

Awalnya saya dapat ajakan main dari seorang teman di Balikpapan sana, ke Bandung atau kalau bukan ke Jogja, pun saya sudah sangat ingin main juga sudah lama tidak kemana-mana. Tapi karena saya punya agenda lain di hari sabtunya yang sifatnya amat sangat penting maka saya tidak bisa meninggalkan kota Makassar sampai tanggal 22 Oktober siang, dan lalu saya ajaklah dia main ke tempat saya saja. Dengan mengiming-imingi main ke Pantai Bira. Yes. Sebelumnya saya sudah menghubungi seorang teman yang kira-kira bisa Sopirin kita ke Lokasi, dan Alhamdulillah bersambut. Doi main IYA saja, yang jelas bensin ditanggung sama yang punya planning. Haha.

Semuanya berjalan sesuai rencana sampai H-1, Nay sudah mendarat di Makassar satu hari setelah diskusi kami soal mau main kemana, saya juga mengajak Nure biar rame, dan ternyata dia mengajak dua orang temannya lagi. Almost perfect! Sampai tiba-tiba Tuan Sopir menelepon dan tiba-tiba cancel, damn! Saya biasanya emosi kalau seperti ini, tapi sudahlah.. ya kalau orangnya tidak bisa musti gimana lagi? Jalan satu-satunya adalah, lupakan dan cari jalan keluar lainnya. Pokoknya mendadak semua jadi berantakan, tidak ada yang mengantar, berarti penginapan di lokasi pun harus di-cancel sesuai dengan jumlah rombongan saja. Dan diperparah dengan hujan yang tidak pernah berhenti. Mak, bagaimana ini? Saya tidak ingin mengecewakan teman saya yang sudah jauh-jauh datang dari luar kota. Hiks.

Singkat cerita, saya memutuskan untuk ke Bulukumba dengan menumpangi kendaraan umum lalu di Bulukumba akan dijemput oleh sopir dari kantor lama saya untuk menemani kami sepanjang berwisata ke Pantai Bira. Untuk penginapan terpaksa saya menghubungi Kak Deddy, cowok teman saya yang memang seorang guide di Bira. Penginapan yang dulu-dulunya selalu saya tempati setiap kali berkunjung. Fix-nya mungkin seperti itu, tapi sepanjang perjalanan menuju terminal saya masih saja berdoa semoga menemukan alasan untuk tiba-tiba cancel, lucu sih, tapi saya juga tidak bilang ke Nay kalau kita cancel saja berhubung hujannya kok ndak nyantee begini. Saya sibuk dengan fikiran sendiri. Padahal dari awal Nay sudah mewanti-wanti, “JANGAN REPOTIN DIRIMU”.

Mobil yang kami tumpangi berangkat meninggalkan Makassar sekitar pukul 4 sore, selepas Ashar. Hujan deras, lapar, macet, kecelakaan, sopir yang singgah-singgah semaunya, membuat liburan yang dibayangan saya akan sempurna mendadak suram. Tapi kami tetap mendiamkannya dalam pikiran masing-masing, kami hanya bercerita tentang banyak hal yang menyenangkan saja. Kami tiba di Bulukumba pukul 9 lebih, terlambat 1 jam dari waktu yang ditentukan. Tak lama, kami diantarlah oleh tuan sopir ke Bira dan kami baru bisa benar leyeh-leyeh di penginapan pada pukul 10 malam. Lelahnya itu dimana-mana. Sampai pagi hujan masih turun dengan derasnya, alamat wisata pantai gagal inih. Tapi alhamdulillahnya, pukul 7 pagi hujannya berhenti.. dan dimulailah perjalanan kami yang amat sangat menyenangkan di endingnya. Saya suka kebersamaan dengan orang-orang asing ini, saya suka terik matahari yang sangat mengerti maunya kami, saya suka dengan setiap candaan dan tawa yang keluar dengan spontanitas. Trip ini saya nobatkan menjadi trip yang paling berkualitas, bagaimana tidak kami hanya menikmati exploring Bira dari pukul 7 pagi sampai pukul 1 siang. Lebih lama waktu dijalannya. Tapi bahagia-lah. Lelah karena piknik itu jauh lebih enak dari pada lelah karena kerjaan/masalah. 


KE PANTAI BARA

 
 
 
 
 


KE APPALARANG

 
 

 
 
 


KE TANA BERU

 


Kalau niatnya sudah tulus ingin membahagiakan orang lain, pasti mudah saja urusannya, dan pastinya akan kecipratan bahagianya juga. 

“Alhamdulillah”


With love,
SYAM.

October 29, 2016

Menikmati sendiri


Pinrang jauh lebih sepi dibandingkan Parepare, apalagi kalau dibandingkan dengan Makassar-Gowa, dan saya akan jauh lebih merasakan sepi saat libur akhir pekan. Adakalanya saya tidak nyaman dengan sendiri, seperti dua bulan belakangan ini jalan satu-satunya saya harus merelakan banyak waktu dan uang untuk sekedar pulang ke Makassar disetiap akhir pekan. Saya tidak lagi merasa lelah menghabiskan 4-6 jam waktu dalam perjalanan setiap hari Jum’at dan Senin, semuanya saya lalui demi bertemu keluarga dirumah. Saya butuh amunisi yang banyak, suntikan semangat yang tak usah di-ungkapkan sudah jelas terlihat dari wajah-wajah orang yang saya kasihi. Tapi kadang-kadang saya juga merasa terlalu lelah untuk pulang, membayangkan 4-6 jam perjalanan menuju kota kelahiran, dan lalu hanya dalam jeda 1-2 hari harus kembali melalui 4-6 jam perjalanan untuk kembali ke perantauan. Apalagi ditambah rasa malas yang memuncak sesaat akan kembali, argh!

Oh Tuhan, hidup itu memang harus berjuang yah. Minimal berjuang melawan diri sendiri, berjuang melawan rasa malas, rasa lelah, rasa-rasa lainnya yang sifatnya negatif. Saya bukannya tidak nyaman, karena saya memang tidak mencari kenyamanan, saya hanya merasa bahwa menjadi perempuan, bekerja, dan jauh dari rumah itu PR-nya sangat banyak sekali. Harus pintar jaga diri, jaga pergaulan. Saya bisa saja tertawa-tawa bersama kawan-kawan saya di perantauan, tapi jauh disana, jauh didalam hati seorang Ibu tersimpan banyak rasa khawatir tentang keadaan Puterinya. Bahkan ketika sambungan telepon sudah saling menghubungkan setiap malam untuk berbagi kabar, tetap saja rasa khawatir itu ada.

Tapi, bagaimanapun hidup yang saya jalani sekarang adalah hidup yang amat sangat saya syukuri. Alhamdulillahirobbil-alamin. Saya hanya butuh menemukan banyak cara untuk menikmati sendiri, mungkin suatu hari nanti saya akan merindukan saat-saat seperti ini, tempat ini, dan sepi seperti ini.

"Sunyi ini merdu seketika sunyi ini merdu seketika" ... (payung teduh)

With love,
SYAM

October 13, 2016

Penyusunan pagu definitif ta. 2017 tingkat Kanwil



Makassar, 10-12 Oktober 2016. Tiada hal yang lebih melelahkan dari yang beginian, tapi oleh mereka dibuat asik saja dengan caranya masing-masing, ada saja yang bisa menjadi bahan tertawaan bersama. Ini sudah menjadi resiko pekerjaan orang-orang keuangan disemua instansi pemerintahan, setiap tahunnya pada tiga periode penyusunan. Dan saya pribadi sudah melewati yang beginian dalam kurun dua tahun anggaran.
Dari meja ini, dari wajah-wajah lelah dan mumet seantero ruangan, saya (/kami) berharap bisa memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara yang lebih baik lagi kedepannya.
Amin. Amin. Amin.

October 09, 2016

Playlist oktober


Kalau ditanya genre musik apa yang saya paling gemari?

Hmm.. semua genre yang easy listening. Yang beatnya enak, yang liriknya bagus, clipnya keren, bahkan ada beberapa lagu yang saya suka hanya karena moment first listeningnya itu pas, entah lagi nongkrong dimana ngobrol apa sama siapa, tau-tau selalu teringat-ingat.

Semenjak saya merantau – dan yang seperti yang kalian tau perantau itu agak baperan – saya kembali menyukai lagu-lagu yang upbeat, alasannya sih kalau dengar lagu mellow sendirian agak seram kecuali saya dalam kondisi mood yang benar-benar stabil ya. Teman-teman baru saya mulai terbiasa dengan telinga saya, dengan musik saya dan yang agak sedikit surprisenya adalah suatu waktu ketika muka saya terlihat kusut bin manyun dikantor padahal kerjaan sedang banyak-banyaknya, teman saya R tiba-tiba memutar lagu-lagu up-beat yang sedang menjadi most-recommended video di youtube, sementara dia sendiri adalah penggemar lagu India. Tanya kenapa? biar mood saya bisa enakan katanya. Haha. Saya kan kalau lagi badmood bisa menjadi monster yang paling menyebalkan sejagad raya, dan Allah selalu saja mengirimkan teman yang bisa sedikit mengambil celah untuk menetralisir sifat monster saya. Terimakasih.
  
Eniwei, sekalian saya mau sharing beberapa lagu yang sedang menjadi favorit saya dalam kurun waktu 2 minggu terakhir; 

  • Adele – Send my love (to your new lover)
  • DJ. Snake feat. Justin Bieber – Let me love you
  • Calvin Harris feat. Rihanna – This is what you came for
  • The Chainsmokers feat. Halsey – Closer
  • The Chainsmokers feat. Daya – Don’t  let me down 
  • Coldplay - Adventure of a life time
  • Sia feat. Sean Paul - Cheap thrill
 
Alasan kenapa saya suka lagu-lagu diatas adalah lebih karena liriknya yang enak-enak ditelinga saya, bukan maksud mau baper, tapi memang enak kok, ditambah musik yang juga menyenangkan dan suara penyanyinya yang oke punya, asli sometimes saya bisa dibikin joged-joged alay sendirian dikamar. Alasannya tidak terlalu spesifik memang, tapi coba deh dengar, lagu-lagu diatas adalah lagu yang so far paling menyenangkan yang bisa menemani kalian sembari menyetir sepanjang jalan pergi/pulang kantor, atau seperti saya yang lebih sering mendengarkan lagu ketika mengerjakan tugas-tugas kantor yang lumayan mumetin. Semakin mumet, lagunya harus semakin kencang. Ini serius, hal yang aneh tapi nyata dari saya dan selalu dimaklumi oleh teman-teman kerja saya dari jaman masih kerja ngikut dosen di kampus.

Kalau kamu, sekarang ini sukanya lagu apa?

September 25, 2016

Generasi tak sabaran


Sadar gak sih, kadang-kadang kita dijebak oleh sosial media untuk menjadi manusia-manusia yang tidak sabaran. Kita menuntut dan dituntut untuk mengeluarkan banyak ide, komentar dan obrolan-obrolan yang pada akhirnya akan menjadi sampah. Kata tanpa 'pesan', asal ada respon dan cepat saja. Bukan nyinyir gaes, ini kenyataan.

Contohnya pada dua aplikasi yang rutin saya gunakan BBM dan WA. Aplikasi BBM dengan fitur D berwarna biru dan R berwarna hijau yang masing-masing artinya diterima dan dibaca. Kalau pesan kita lama dengan status D pasti ada rasa kesal walau sedikit, dan akan menjadi bencana ketika berhenti pada status R. “What? Pesan guweh cuman di Read doang?” Dan muncullah ribuan pertanyaan kenapa dan kenapa atas tragedi 'diread doang' itu.

Di WA pun lebih complicated lagi. Selain fitur pesan sampai dan dibaca oleh penerima, ada juga fitur last seen yang bisa membuat kita melihat kapan si pengguna terakhir kali membuka aplikasi WA. Dan nyatanya fitur ini bisa membuat perang dunia berkobar. Kalau di BBM ya paling tidak kita bisa mengelak yah,”sorry balasnya lama hape sayah tibatiba ngehang/lowbat/atau kelupaan”, dan lagi jika kita tidak meng-update status tidak akan kelihatan kalau ternyata kita memang mengabaikan pesan yang masuk. Sementara pesan via WA mah bahaya, pergerakan terdeteksi secara ketat. Ketahuan bangetlah kalau kita mengabaikan pesan orang. Dan karena diabaikan itu nyakitin, jadinya hanya gegara pesan tidak di ladeni dengan fast respon, tanpa sengaja kadang-kadang bisa melukai perasaan seseorang. Terdengar lebai sih ya.

Padahal mungkin si Penerima tidak maksud mengabaikan. Mungkin mereka sedang repot, mungkin ada yang lebih penting untuk diperhatikan, atau mungkin memang butuh waktu lama untuk memikirkan balasan yang tepat atas setiap pesan yang masuk. Dan masih banyak lagi kemungkinan yang bisa kita pertimbangkan. Positifnya sih begitu.

Kalau saya cari amannya saja. Dengan me non-aktifkan semua fitur dewa di WA. Jadi saya memastikan orang tidak bisa melihat kapan saya terakhir membuka apkikasi WA, dan apakah saya telah membaca pesan mereka atau belum. Konsekuensinya, saya pun tidak bisa melihat last-seen mereka, pun saya tidak lagi bisa melihat apakah mereka sudah membaca pesan saya. Dan mulai berharap, seandainya bisa status online dan sedang mengetik juga di-hidden. Dengan begitu, dunia jauh lebih damai dan sentosa. Untuk di BBM sendiri, saya juga mulai jarang pakai sih selain memang aplikasinya yang suka pending-pending pesan orang seenaknya saja.

Akhir kata, mari kita coba kembalikan social media kepada fungsinya. Just a messengger application. Sebagaimana namanya, fungsi messengger adalah sebagai penyampai pesan. Jadi, jangan berharap lebih yang terpentingkan pesannya sampai. Kalau memang urusan kita butuh respon cepat, gunakan fitur memanggil. Just call them, karena bicara jauh lebih baik. 


Salam super dari sayah,
SYAM.