September 25, 2016

Generasi tak sabaran


Sadar gak sih, kadang-kadang kita dijebak oleh sosial media untuk menjadi manusia-manusia yang tidak sabaran. Kita menuntut dan dituntut untuk mengeluarkan banyak ide, komentar dan obrolan-obrolan yang pada akhirnya akan menjadi sampah. Kata tanpa 'pesan', asal ada respon dan cepat saja. Bukan nyinyir gaes, ini kenyataan.

Contohnya pada dua aplikasi yang rutin saya gunakan BBM dan WA. Aplikasi BBM dengan fitur D berwarna biru dan R berwarna hijau yang masing-masing artinya diterima dan dibaca. Kalau pesan kita lama dengan status D pasti ada rasa kesal walau sedikit, dan akan menjadi bencana ketika berhenti pada status R. “What? Pesan guweh cuman di Read doang?” Dan muncullah ribuan pertanyaan kenapa dan kenapa atas tragedi 'diread doang' itu.

Di WA pun lebih complicated lagi. Selain fitur pesan sampai dan dibaca oleh penerima, ada juga fitur last seen yang bisa membuat kita melihat kapan si pengguna terakhir kali membuka aplikasi WA. Dan nyatanya fitur ini bisa membuat perang dunia berkobar. Kalau di BBM ya paling tidak kita bisa mengelak yah,”sorry balasnya lama hape sayah tibatiba ngehang/lowbat/atau kelupaan”, dan lagi jika kita tidak meng-update status tidak akan kelihatan kalau ternyata kita memang mengabaikan pesan yang masuk. Sementara pesan via WA mah bahaya, pergerakan terdeteksi secara ketat. Ketahuan bangetlah kalau kita mengabaikan pesan orang. Dan karena diabaikan itu nyakitin, jadinya hanya gegara pesan tidak di ladeni dengan fast respon, tanpa sengaja kadang-kadang bisa melukai perasaan seseorang. Terdengar lebai sih ya.

Padahal mungkin si Penerima tidak maksud mengabaikan. Mungkin mereka sedang repot, mungkin ada yang lebih penting untuk diperhatikan, atau mungkin memang butuh waktu lama untuk memikirkan balasan yang tepat atas setiap pesan yang masuk. Dan masih banyak lagi kemungkinan yang bisa kita pertimbangkan. Positifnya sih begitu.

Kalau saya cari amannya saja. Dengan me non-aktifkan semua fitur dewa di WA. Jadi saya memastikan orang tidak bisa melihat kapan saya terakhir membuka apkikasi WA, dan apakah saya telah membaca pesan mereka atau belum. Konsekuensinya, saya pun tidak bisa melihat last-seen mereka, pun saya tidak lagi bisa melihat apakah mereka sudah membaca pesan saya. Dan mulai berharap, seandainya bisa status online dan sedang mengetik juga di-hidden. Dengan begitu, dunia jauh lebih damai dan sentosa. Untuk di BBM sendiri, saya juga mulai jarang pakai sih selain memang aplikasinya yang suka pending-pending pesan orang seenaknya saja.

Akhir kata, mari kita coba kembalikan social media kepada fungsinya. Just a messengger application. Sebagaimana namanya, fungsi messengger adalah sebagai penyampai pesan. Jadi, jangan berharap lebih yang terpentingkan pesannya sampai. Kalau memang urusan kita butuh respon cepat, gunakan fitur memanggil. Just call them, karena bicara jauh lebih baik. 


Salam super dari sayah,
SYAM.

September 18, 2016

September rain


Sepertinya hampir seminggu ini pada sore hari Pinrang diguyur hujan, durasinya sekitar 2-3 jam dengan debit air yang cukup besar, lalu akan kembali lagi pada ke-esokan harinya.
Dan apakah terlalu cepat jika saya katakan, SELAMAT DATANG MUSIM PENGHUJAN,?!
Because i miss them a lot. Saya rindu dengan suara gemercik air dari atap rumah yang membuat saya bisa tidur lebih nyenyak dari biasanya, saya rindu dengan selimut yang entah kenapa jauh lebih lembut dan empuk dari biasanya, saya rindu malas mandi di pagi hari karena suhu yang terlalu dingin dari biasanya, saya rindu seduhan teh melati hangat dengan kandungan "endorphine" yang lebih kental dari biasanya, saya rindu kuyup karena kehujanan, dan saya rindu tidak bisa kemana-mana dengan alasan "diluar sedang hujan". 
Dear rainy day, come early please..
More than all the sentimental reasons above just come to save me from APEL PAGI ;p.


With love,
SYAM.

September 16, 2016

social pressured



Suatu hari saya pernah bertanya pada seorang teman perempuan saya perihal cincin dijari manisnya, bagi saya sedikit janggal karena cincin itu menyerupai cincin kawin yang pada umumnya dipakai orang-orang, sementara status dia saat ini adalah single (tapi tidak jomblo).

"Sengaja, kadang-kadang cincin ini menyelamatkan hidup saya dari komentar orang-orang"
"Tentang menikah-kah?"

"Iya"

Lalu pada obrolan lain, teman perempuan saya itu pun pernah menyampaikan bahwa saat ini dia hanya membutuhkan status, sebagai istri, lalu melahirkan anak, setelah itu jika si pria ingin pergi ya sudah, pergi saja.

What a mind. Apa salah satu tujuan menikah adalah sekedar membungkam prasangka orang-orang? Apa benar sedangkal itu pemikiran mereka? Tolonglah! hidup itu bukan cuman perkara kawin, masih banyak hal yang harus dipikirkan.

Saya yakin, apa yang keluar dari mulut teman saya ini tak lain dan tak bukan adalah bentuk pesimisme dalam hidupnya, dia lelah dengan tuntutan orang-orang tentang bagaimana rupa/konsep hidup normal pada umumnya, belum lagi pressured pekerjaan dikantor yang semakin menggila. Diusia dimana semua orang sudah memiliki anak, dia justru masih menebak-nebak dengan siapakah dia akan berjodoh nantinya. Ditambah tekanan tekanan yang begitu memojokkan dari lingkungan, apalagi daerah kabupaten tempat saya bertugas saat ini, nikah mudah seolah menjadi prestasi, dan yang belum menikah itu (agak) sial. Janda usia 20-tahunan akan lebih terhormat dibanding perempuan lajang 30-tahunan. AKOH KZL!!!

Padahal teman perempun saya itu lebih muda dari saya, lantas apa saya juga harus merasa tertekan? mungkin dulu pernah, tapi sekarang saya sudah melewati masa-masa fragile about marriage status. So if someone ask me today- absolutely not! I just feel her so deep, but i prefer to still believe.. the best one come yet. So i'm ignoring all the pressured and keep walking on. Ngapain juga buang buang waktu dan pikiran menghadapi kaum nyinyirisme, kalau cuman jadi penilai dan komentator sih ya saya juga bisa, manusia itu tidak ada dan tidak akan bisa sempurna jadi selalu ada celah untuk men-judge. Kita manusia cuman diminta untuk selalu berharap, berdoa dan berusaha.

Man proposed God dispose, selesai perkara.

September 15, 2016

a good thought to carry




You lived your life without ever worrying about whether you are happy or not, you chose to feel enough, and that keeps you in humble gratitude for eternity. You decide not to hold a grudge against anything in life because you’ve mastered the art of accepting things as they are, and that leads you to forgive easily. It took me a while to realize that by doing so, nothing can hurt you - we only let ourselves be weak when we let the ego lead our desire to win over something, while you, you have settled in feeling enough and wanting nothing more for yourself because you see this life as kind. True strength comes when we surrender on what we believe are ours, and willing to accept the what’s not.

a love letter from Lucedale

September 13, 2016

be positive


Hidup mengajarkan saya untuk tidak meletakkan kebahagiaan pada hal-hal rapuh, hal yang terlalu mudah untuk berubah-ubah, hal yang bahkan tak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, jika segala sesuatu berlalu dan tidak berjalan seperti biasanya;

Just let it flow, everythings change for a good reason..

Se- sederhana itu?
"IYA"