December 23, 2016

[Toraja] 1st_Rafting at Maiting river

 

Sejak bulan juni/juli lalu, teman saya @ervantangke sudah sibuk meng-arrange rencana outing kami (Prajabpn2014-Sulsel) untuk kesekian kalinya. Kali ini tujuannya lebih jauh, lebih lama dan lebih ekstrim dari biasanya, Rafting a.k.a Arung jeram di sungai Maiting Kabupaten Toraja utara - Sulawesi selatan. Untuk perjalanan menuju Kabupaten toraja saja, menghabiskan waktu hampir setengah hari atau kurang lebih 11-12 jam perjalanan sampai di Kota Rantepao (Ibu kota kabupaten Toraja), lalu dari situ -pada keesokan harinya/11des2016- kami menuju strating point kegiatan Rafting di Kecamatan Dende Piongan dengan jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil penumpang melawati jalur yang kebanyakan menanjak.

Ditengah perjalanan, kami terpaksa berganti mobil penumpang menjadi mobil bak terbuka dikarenakan urusan teknis. Mungkin kalau kejadiannya di kota, ini akan sangat menjengkelkan tapi karena ini dalam rangka berwisata-alam saya pribadi amat sangat menikmatinya. KAPAN LAGI!!! Kami yang tadinya ada dalam 2 mobil terpisah, disatukan bersama logistik Rafting plus beberapa orang guide dari Toraja One Stop Adventure (TOSA), bertumpukan seperti sayur mayur. HAHA. Tapi ke-seruan petualangan kami justeru dimulai dari sini.
 
 
 
 

Disempanjang perjalanan kami bertanya-tanya, dimanakah kiranya sungai itu berada? tidak ada tanda-tanda atau suara-suara aliran air deras, kecuali hamparan sawah dan bukit-bukit tinggi. Hingga akhirnya mobil yang kami tumpangi berhenti, logistik dibongkar dan waktunya memasang perlengkapan safety yang akan kami gunakan untuk ber-arung jeram. Pelampung-Helm-Dayung. Setelah semuanya siap, kami diajak menyusuri jalur trekking sepanjang 2 km yang cukup melelahkan tapi menyenangkan hingga akhirnya kami benar-benar melihat sungai yang diselimuti tebing dan vegetasi hutan. Masya Allah, indahnya.


Bagi pemula seperti saya, pasti ada rasa takut yang tiba-tiba mendominasi fikiran. Tentang apa-apa dan akan kenapa-kenapa. Kaki saya gemetar sesaat akan menaiki perahu, yang saya pastikan pertama adalah saya ada dalam satu perahu dengan teman yang saya percaya akan menolong saya pada situasi-situasi sulit seperti yang sudah-sudah. Selebihnya teman-teman dari TOSA akan mengecek ketepatan penggunaan pelampung dan helm, membagi rombongan yang berjumlah 12 orang kedalam 3 perahu karet ditambah 2 orang pemandu dimasing-masing perahu, yang kemudian memberikan instruksi terkait hal-hal yang akan kami hadapi selama mengarungi Sungai Maiting dan bagaimana untuk melaluinya, mendengarkan dan mematuhi aba-aba yang diberikan oleh pemandu. Saya suka bagaimana mereka menjelaskan dan memberikan rasa aman/nyaman. Full of positive suggestion.. sepertinya mereka benar-benar sudah di berikan training yang cukup untuk bagaimana membuat petualang-petualang pemula tidak merasa takut. From regret being gregett.

Kami mengarungi sungai kurang lebih 4 jam lamanya, mengikuti arus sungai yang kadang tenang kadang deras menuju titik pemberhentian di Desa Tamparan - Kecamatan Rantetayo. Beberapa kali perahu tertubruk tebing yang justru kami sambut dengan tawa-super excited, atau sensasi perahu akan terbalik saat melewati area dengan arus deras dan jeram yang cukup dalam. Beberapa kali menepi untuk saling menunggu, atau sekedar untuk mengambil foto dan menyantap makan siang bersama yang sudah disiapkan oleh pengelola. Pemandangan yang disuguhkan benar-benar indah, rasanya ingin banyak mengambil gambar landscape, tapi apa daya tak ada kamera anti air yang saya bawa, dan lagi kadang-kadang bahagia itu cukup untuk dirasakan, bukan untuk diperlihatkan. Over all, saya bahagia, saya puas dan saya benar-benar segerrr lahir batin, hehe.. hanya saja ke-esokan harinya dan beberapa hari setelahnya badan terasa remuk redam seperti berat badan saya bertambah ber-kilo-kilo.

 
 
 
 


***

Post from IG:
Ada rasa takut yang tak bisa di-definisikan, pada hari-hari menjelang rencana rafting di sungai Maiting - Tanah toraja ini. Alasannya banyak, mulai dari cuaca yang tak menentu, kaki kiri yang masih saja terasa belum pulih betul pasca keseleo beberapa bulan yang lnalu, pengalaman tenggelam, dll.. yang sifatnya remeh-temeh dan cenderung diada-ada-kan. Seperti itulah, selalu saja pengalaman buruk dan rasa takut bisa membuat nyali ciut.

Tapi penasaran saya jauh lebih besar ternyata, melawan rasa takut. Menelusuri jalur trekking sepanjang 2 km diarea sawah dan perbukitan menuju lokasi rafting. Masih sempat was-was, masih sempat gemetaran sampai ketika naik keatas boat karet yang akan kami gunakan. Bismillah. Mau- tidak mau, saya sudah di atas perahu yang siap mengarungi arus sungai. Kurang lebih di-5menit pertama, perahu kami nyangkut di bebatuan akibat arus kencang dan salah arah, was-wasnya makin jadi.. dan setelah kami bisa melaluinya, melalui kerja keras dua pemandu dan tim yang solid, entah kenapa rasa was-was/takut/bingung/nekkere/dan smua nyali cetek saya mendadak hilang, berubah menjadi teriakan-teriakan lantang, dan setelah itu saya bisa benar-benar menikmati permainan. Semakin deras arusnya, semakin seru. Semakin dalam jeramnya, semakin menyenangkan.

Keren pokoknaaaah, totally awesome. Alhamdulillah.

Big thanksnya tetep dong, sama Om boss @ervantangke, yang selalu saja meyakinkan saya kalau ikut ke Tator akan lebih worth dari kemana-mana yg ternyata memang ndak kemana-mana. Eh, plus Om ganteng @arman_tandipai yang selalu menjadi penolong teman yang selalu bisa diandalkanG di area-area ekstrim, darat - laut & udara. See you on the next trip, all gaes. MUACH.

***

[About guide]

Well seperti yang telah banyak saya sebutkan dalam cerita diatas, kami dipandu oleh teman-teman dari Toraja One Stop Adventure (TOSA). High recomended for you-lah, to enjoying Toraja with different taste. Karena toraja ternyata tidak melulu soal wisata budaya dan adat istiadat, soal kuburan, soal lautan awannya. Saya pribadi baru tahu dan YES! it's AMAZE ME! Untuk kegiatan Rafting kemarin kami membayar sebesar IDR 550K/Org, harga sudah termasuk peralatan dan perlengkapan untuk rafting, makan siang, snack, softdrink, dan pelayanan yang super ramah. Worth-lah. 


For future just Call/Whatsapp Miss Aurora (+62812-2128-0714) atau kunjungi situs mereka di http://www.torajaonestopadventure.com/

Welcome adventure!!!

With Love,
SYAM.

November 15, 2016

Change!

Beberapa hari ini saya banyak berbicara dengan beberapa kawan baik saya, intinya.. semua masalah yang pada akhirnya kita hadapi saat ini adalah akumulasi dari masa lalu. Hal-hal yang dahulunya kita anggap sepeleh bisa jadi semakin membesar dan berat pada masanya. Ketika kita merasa ada yang salah, merasa bersalah dan ingin berubah/merubah semua menjadi baik terkadang kita tidak menemukan cara. Pada titik ini meminta maaf memang perkara mudah, tapi kondisi tidak akan serta-merta berbalik. Semuanya terlanjur berjalan pada jalurnya masing-masing, terbiasa asing.

Tapi, yang patut di syukuri adalah Allah tidak akan serta merta memberikan kepada kita kemauan untuk merubah/berubah, pasti ada sesuatu yg telah dirancangnya sehingga dia memilih saat ini, bukan kemarin-kemarin atau nanti-nanti. Ia maha kuasa, pasti tahu apa yang paling baik untuk kita.

With love,
SYAM.

October 30, 2016

[Bira] Perjalanan sebentar

Tepat seminggu lalu (23/10) saya ada dalam perjalanan pulang selepas trip singkat ke daerah wisata Tanjung Bira, Bulukumba – Sulawesi selatan. Trip ini adalah trip paling melelahkan, paling dipaksakan dan paling drama, tapi entah kenapa efek bahagianya jauh lebih berkualitas.

Awalnya saya dapat ajakan main dari seorang teman di Balikpapan sana, ke Bandung atau kalau bukan ke Jogja, pun saya sudah sangat ingin main juga sudah lama tidak kemana-mana. Tapi karena saya punya agenda lain di hari sabtunya yang sifatnya amat sangat penting maka saya tidak bisa meninggalkan kota Makassar sampai tanggal 22 Oktober siang, dan lalu saya ajaklah dia main ke tempat saya saja. Dengan mengiming-imingi main ke Pantai Bira. Yes. Sebelumnya saya sudah menghubungi seorang teman yang kira-kira bisa Sopirin kita ke Lokasi, dan Alhamdulillah bersambut. Doi main IYA saja, yang jelas bensin ditanggung sama yang punya planning. Haha.

Semuanya berjalan sesuai rencana sampai H-1, Nay sudah mendarat di Makassar satu hari setelah diskusi kami soal mau main kemana, saya juga mengajak Nure biar rame, dan ternyata dia mengajak dua orang temannya lagi. Almost perfect! Sampai tiba-tiba Tuan Sopir menelepon dan tiba-tiba cancel, damn! Saya biasanya emosi kalau seperti ini, tapi sudahlah.. ya kalau orangnya tidak bisa musti gimana lagi? Jalan satu-satunya adalah, lupakan dan cari jalan keluar lainnya. Pokoknya mendadak semua jadi berantakan, tidak ada yang mengantar, berarti penginapan di lokasi pun harus di-cancel sesuai dengan jumlah rombongan saja. Dan diperparah dengan hujan yang tidak pernah berhenti. Mak, bagaimana ini? Saya tidak ingin mengecewakan teman saya yang sudah jauh-jauh datang dari luar kota. Hiks.

Singkat cerita, saya memutuskan untuk ke Bulukumba dengan menumpangi kendaraan umum lalu di Bulukumba akan dijemput oleh sopir dari kantor lama saya untuk menemani kami sepanjang berwisata ke Pantai Bira. Untuk penginapan terpaksa saya menghubungi Kak Deddy, cowok teman saya yang memang seorang guide di Bira. Penginapan yang dulu-dulunya selalu saya tempati setiap kali berkunjung. Fix-nya mungkin seperti itu, tapi sepanjang perjalanan menuju terminal saya masih saja berdoa semoga menemukan alasan untuk tiba-tiba cancel, lucu sih, tapi saya juga tidak bilang ke Nay kalau kita cancel saja berhubung hujannya kok ndak nyantee begini. Saya sibuk dengan fikiran sendiri. Padahal dari awal Nay sudah mewanti-wanti, “JANGAN REPOTIN DIRIMU”.

Mobil yang kami tumpangi berangkat meninggalkan Makassar sekitar pukul 4 sore, selepas Ashar. Hujan deras, lapar, macet, kecelakaan, sopir yang singgah-singgah semaunya, membuat liburan yang dibayangan saya akan sempurna mendadak suram. Tapi kami tetap mendiamkannya dalam pikiran masing-masing, kami hanya bercerita tentang banyak hal yang menyenangkan saja. Kami tiba di Bulukumba pukul 9 lebih, terlambat 1 jam dari waktu yang ditentukan. Tak lama, kami diantarlah oleh tuan sopir ke Bira dan kami baru bisa benar leyeh-leyeh di penginapan pada pukul 10 malam. Lelahnya itu dimana-mana. Sampai pagi hujan masih turun dengan derasnya, alamat wisata pantai gagal inih. Tapi alhamdulillahnya, pukul 7 pagi hujannya berhenti.. dan dimulailah perjalanan kami yang amat sangat menyenangkan di endingnya. Saya suka kebersamaan dengan orang-orang asing ini, saya suka terik matahari yang sangat mengerti maunya kami, saya suka dengan setiap candaan dan tawa yang keluar dengan spontanitas. Trip ini saya nobatkan menjadi trip yang paling berkualitas, bagaimana tidak kami hanya menikmati exploring Bira dari pukul 7 pagi sampai pukul 1 siang. Lebih lama waktu dijalannya. Tapi bahagia-lah. Lelah karena piknik itu jauh lebih enak dari pada lelah karena kerjaan/masalah. 


KE PANTAI BARA

 
 
 
 
 


KE APPALARANG

 
 

 
 
 


KE TANA BERU

 


Kalau niatnya sudah tulus ingin membahagiakan orang lain, pasti mudah saja urusannya, dan pastinya akan kecipratan bahagianya juga. 

“Alhamdulillah”


With love,
SYAM.

October 29, 2016

Menikmati sendiri


Pinrang jauh lebih sepi dibandingkan Parepare, apalagi kalau dibandingkan dengan Makassar-Gowa, dan saya akan jauh lebih merasakan sepi saat libur akhir pekan. Adakalanya saya tidak nyaman dengan sendiri, seperti dua bulan belakangan ini jalan satu-satunya saya harus merelakan banyak waktu dan uang untuk sekedar pulang ke Makassar disetiap akhir pekan. Saya tidak lagi merasa lelah menghabiskan 4-6 jam waktu dalam perjalanan setiap hari Jum’at dan Senin, semuanya saya lalui demi bertemu keluarga dirumah. Saya butuh amunisi yang banyak, suntikan semangat yang tak usah di-ungkapkan sudah jelas terlihat dari wajah-wajah orang yang saya kasihi. Tapi kadang-kadang saya juga merasa terlalu lelah untuk pulang, membayangkan 4-6 jam perjalanan menuju kota kelahiran, dan lalu hanya dalam jeda 1-2 hari harus kembali melalui 4-6 jam perjalanan untuk kembali ke perantauan. Apalagi ditambah rasa malas yang memuncak sesaat akan kembali, argh!

Oh Tuhan, hidup itu memang harus berjuang yah. Minimal berjuang melawan diri sendiri, berjuang melawan rasa malas, rasa lelah, rasa-rasa lainnya yang sifatnya negatif. Saya bukannya tidak nyaman, karena saya memang tidak mencari kenyamanan, saya hanya merasa bahwa menjadi perempuan, bekerja, dan jauh dari rumah itu PR-nya sangat banyak sekali. Harus pintar jaga diri, jaga pergaulan. Saya bisa saja tertawa-tawa bersama kawan-kawan saya di perantauan, tapi jauh disana, jauh didalam hati seorang Ibu tersimpan banyak rasa khawatir tentang keadaan Puterinya. Bahkan ketika sambungan telepon sudah saling menghubungkan setiap malam untuk berbagi kabar, tetap saja rasa khawatir itu ada.

Tapi, bagaimanapun hidup yang saya jalani sekarang adalah hidup yang amat sangat saya syukuri. Alhamdulillahirobbil-alamin. Saya hanya butuh menemukan banyak cara untuk menikmati sendiri, mungkin suatu hari nanti saya akan merindukan saat-saat seperti ini, tempat ini, dan sepi seperti ini.

"Sunyi ini merdu seketika sunyi ini merdu seketika" ... (payung teduh)

With love,
SYAM

October 13, 2016

Penyusunan pagu definitif ta. 2017 tingkat Kanwil



Makassar, 10-12 Oktober 2016. Tiada hal yang lebih melelahkan dari yang beginian, tapi oleh mereka dibuat asik saja dengan caranya masing-masing, ada saja yang bisa menjadi bahan tertawaan bersama. Ini sudah menjadi resiko pekerjaan orang-orang keuangan disemua instansi pemerintahan, setiap tahunnya pada tiga periode penyusunan. Dan saya pribadi sudah melewati yang beginian dalam kurun dua tahun anggaran.
Dari meja ini, dari wajah-wajah lelah dan mumet seantero ruangan, saya (/kami) berharap bisa memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara yang lebih baik lagi kedepannya.
Amin. Amin. Amin.