Powered by Blogger.

PEMIMPIN ERA BARU

“Reshuffle bukan sesuatu musibah, tapi sesuatu yang harus disambut dengan gembira. Mereka yang terkena reshuffle artinya telah bebas merdeka dan dengan kebebasan itu, mereka tak usah lagi pusing2, tak usah lagi mendengar omelan2 DPR atau mendengar demonstrasi mahasiswa yang protes karena kinerja yang kurang memuaskan. Toh orang2 besar diindonesia adalah korban reshuffle –sby dan kalla juga-. Intinya reshuffle bukanlah sesuatu momok yang harus ditakuti, dan mereka yang terkena reshuffle sebaiknya berbesar hati”

Kurang lebih seperti itulah statement pak wakil presiden pada temu santai dirumah jabatannya. Dalam kesempatan ini, beliau mengundang jajaran media cetak dan elektronik untuk minum teh bersama yang lalu dilanjutkan dengan nonton bareng film Naga Bonar Jadi 2. pertemuan ioni juga diselingi dangan bincang2 mengenai reshuffle cabinet jilid 2.

Kembali pada penuturan si bapak, ditengah bincang2nya.

Bagaimana yah? Lucu saja saat sibapak memberikan ucapan selamat pada beliau2 yang terkena reshuffle, sebagai bentuk terbebasnya mereka. Ketika tugas yang diemban merupakan sesuatu yang membuat seseorang merasa tertekan dan tidak bebas, maka sah2 saja jika para pembesar kita lebih mendahulukan haknya dari kewajiban. Bercermin dari hal itu, tak heran jika isu2 yang trend beberapa bulan terakhir berkutat pada peningkatan kesejahteraan orang2 elit, baik itu berupa tunjangan, pengadaan fasilitas maupun kenaikan gaji. Berbagai macam bentuknya.

Bukankah menjadi seorang pembesar pada sebuah negri bukan suatu kewajiban, tapi sebuah pilihan yang bersumber dari diri mereka sendiri, dan konsekuensi dari sebuah pilihan adalah TANGGUNG JAWAB.

Dewasa ini, banyak orang yang lebih mendahulukan hak lalu kewajiban, atau dengan kata lain menanyakan berapa lalu kemudian apa.

Selayaknya jabatan2 dipemerintahan itu, seperti misalnya presiden, mentri, DPR, MPR…….dll yang merasa pengusa/pemimpin bukan dijadikan sebagai profesi karena akan mengarah ke pencapaian profit atau apa yang akan diperoleh. Tapi, jabatan itu dijadikan sebagai kerja social atau sebagai bentuk pengabdian sehingga maknanya pun akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mungkin saya terlalu sering mendengar dan menyaksikan kisah2 pemimpin masa lalu, pemimpin yang benar2 tulus, pemimpin yang jauh dari kepentingan2, pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya, pemimpin yang mampu mendengar jeritan hati rakyatnya. pemimpin yang mantap puasanya, pemimpin yang begitu sederhana, pemimpin yang benar2 sejatinya pemimpin.

Saya masih ingin menemukan sosok itu dizamanku ini. Tapi seandainya jika dizaman moderen ini pemimpin dalam hal ini sejatinya pemimpin tak jua dilahirkan oleh sebuah negeri, yang harus kita lakukan adalah mendefinisikan kembali apa sebenarnya pemimpin itu. Ini bukan bentuk kepasrahan atau keputus asaan. Tapi, perlu kiranya kita memaknai kembali mengenai pemimpin era modern supaya kita tidak terlalu terjebak pada romantisme masa lalu atau menuntut agar semuanya bisa seperti dulu lagi, mengingat begitu banyak hal(nilai) yang mulai bergeser seiring dengnan pergeseran waktu.

Pemimpin itu bukan anak kandung dari musyawarah atau pemilihan umum semata, tapi pemimpin adalah anak kandung dari realitas.

1 comment

  1. pemimpin.....
    penguasa.....
    semuanya sama aja asalkan mereka tau tanggung jawab atas apa yang mereka pimpin atau mereka kuasai.....
    dan bagaimana seharusnya bertidak sesuai dengan karakter apa yang mereka pimpin atau kuasai.....
    mulut bicara manis......bagaimanas dengan realitas????......sebuah janji yang sulit di laksanakan......

    ReplyDelete