Powered by Blogger.

Kata Mereka saya EGOIS


Kata mereka saya egois, apa iya?

Tapi, mungkin itu benar, buktinya tidak 1 atau 2 orang saja yang berpandangan sama, tapi banyak. Toh ini juga hasil penilan mereka setelah melalui hari-hari bersama, setelah membiarkan hatinya teririr-iris oleh segala tindak tandukku, dan setelah mereka berhenti untuk diam dan akhirnya memutuskan untuk mengatakan

“egois sekaliko!!!!”

Saya akui, dalam hal mengembil keputusan saya tetap masih butuh pertimbangan dan masukan dari orang yang ada disekitar. Tapi cukup sampai disitu, karena ketika saya telah memutuskan apakah ya atau tidak, maka sekali ya tetap ya dan sekali tidak tetap tidak, dan tak ada yang bisa mengganggu gugat karena hal ini bukan sesuatu yang bisa ditawar-tawar lagi.

“tidak adaji salahnya berubah, siapa tau ada yang lebih rasional” 

Kata seorang teman pada saya. Sontak saya pun kaget, “apa? Rasional?”

Hari ini, rasional tak lebih dari sebrapa kuat kita mampu mempertahankan pendapat agar bisa diterima orang lain, melalui proses dialektika atau lebih tepatnya berdialog/berdebat. Lantas, apa yg bisa kita andalkan dari symbol rasional hari ini, bukankah rasionalisasi yang menyebabkan jauhnya jarak antara teory dan realitas, antara perkataan dan perbuatan sehingga menyebabakan kekecewaan? Bukankah rasionalisasi yang menyebabkan pembesar-pembesar itu memenangkan dan kemudian menuduki kursi empuknya? Dan bukankah rasionalisasi pula yang membuat orang yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin?

Bukannya mau sok pintar, tapi menurut saya di balik sebuah rasionalisasi bukan segalanya, ada kekuatan lain yang lebih bisa diandalkan yaitu jauh dari dalam hati dan hanya kita yang bisa mendengarnya. Ketika kita mulai kebingungan, lantas hati mengatakan ya kenapa tidak kita memutuskan ya, walaupun mereka bilang itu tidak rasional. Toh apapun yang terjadi, orang lain tak bisa mewakili rasa sesal dihati. Itulah yang saya pegang sampai hari ini, karena pada dasarnya tidak ada orang yang mau disalahkan, dan dengan begitu tidak ada alasan untuk menyesal.

Apakah ini yang dinamakan egois?

Apa lagi, masalah berhubungan. Dari zamannya saya SD orang tua selalu bilang “jadi orang, harus punya prinsip” apakah salah kalau itu saya tanamkan dalam diri. Apakah salah jika dalam prakteknya saya memilih untuk pergi setelah lelah mengingatkan mereka. Mereka yang membuat saya muak, mungkin mereka nyaman dengan hal itu tapi tidak untuk saya, dan ketika saya mulai menjauh mereka pun mengatakan “dasar pengecut, tak bertanggung jawab”. Maaf saja kawan, saya mau belajar untuk tidak menyakiti diri, karena saya cuma mau belajar untuk jujur pada diri sendiri. Dan Maafkan saya karena memang pada dasarnya saya bukan orang BIJAK.

Apakah ini yang disebut egois?

Pertanyaan saya, adakah orang yang tidak egois didunia ini? Sementara Tuhan telah memberikan hak-hak untuk manusia yang tidak dapat dilanggar oleh siapapun, dan hak-hak itulah yang disebut dengan ego. Katanya ego itu tak ubahnya seperti binatang piaraan yang harus selalu diberikan makanan, dan makannya bukan seperti makanan makhluk hidup tapi lebih ke hal yang bersifat penghormatan, persetujuan dan perasaan puas.

Entahlah,
Mungkin memang benar saya ini egois
Tapi, akan lebih egois lagi jika saya tetap menulis
Berusaha untuk membangun benteng pertahanan
Dan tetap saja berkutat pada kenikmatan pikiran
Akan semua penilaian mereka
Sementara diluar sana, ada berjuta-juta orang
Yang masih kedinginan
Yang masih kelaparan
Yang masih merintih sakit
Dan mereka lah korban-korban keegoisan yang sesungguhnya
Yang memilih untuk tetap diam

No comments