Powered by Blogger.

Surat Untuk Sahabat

Ass Wr, Wb......

Hi sob, lama tak bersua. Sombongyah sekarang, sempat bingung juga nih dimana2 yang ada orang sombong. Tapi tak apalah, mungkin bagus untuk obat jantungan. Terakhir kita ketemu beberapa tahun yang lalu, waktu itu kita masih menggunakan seragam putih biru. Aduh, jadi kangen juga.

Kalo ingat dulu -duh ngerasa tua banget yah-, kayak gimana gituw…….

Masa SMP ato masa putih biru, mereka bilang masa peralihan, dan kita pun tak peduli apalah nama masa itu. Kala itu, kita masih lugu-lugunya, dan hidup pun terjalani begitu indah dengan segala kenaifan yang kita punya. Hidup saat itu adalah bisa makan, bisa minum, bisa tidur, bisa sekolah, belajar, bisa tertawa, bisa bermain, bersenang-senang, sesekali juga kita menagis itu kalo dimarahi sama guru, sama orang tua, atau karena dijaili sama anak laki-laki teman sekelas. Ndak ada cerita kita nangis gara-gara rebutan pacar, patah hati ato semacamnyalah kayak anak-anak SMP sekarang seperti yang digambarkan/contohkan di tipi-tipi.

Asyiklah pokoknya. Yah saking asyiknya…. Kita tidak tau kalo diluar sana (Negara ini) terancam bahaya, kita juga tidak tau kalo ternyata di Negara ini sedang berlangsung penjajahan besar-besaran dan diam-diam pula, padahal aku yakin guru PPKN dan guru SEJARAH ndak bermaksud membohongi kita saat bilang Indonesia telah merdeka disetiap pertemuannya.

Ancaman itu yang orang-orang sebut dengan Kapitalisme. Pernah dengar sih sebelumnya, yah lagi-lagi di pelajaran SEJARAH, tapi kalo ndak salah ingat waktu itu ibu guru tidak bilang kalo Indonesia juga dijangkiti virus kapitalisme, jadi mana kita tahu.

ngkin saja kalo kita tau, kitapun gak bakalan ngerti. Toh dulu orang miskin dan kaya tetap rukun-rukun saja, tetap berdiri berdampingan tanpa pernah berfikir untuk mengambil kepentingan dari orang lain.

Eh sob, ingat pak saiful ndak? Guru olah raga kita, yang setiap pagi dengan senyumnya menunggui kita di gerbang sekolah untuk memastikan kita mematuhi aturan, dan datang tepat waktu. Tau tidak, dia itu sempat diproses dipolisi loh, rumor yang beredar malah bilang kalo dia sempat dipenjara. Kasian yah? Dia kan orang baik

Tapi, lebih mengagetkan lagi kalo kau tau apa sebabya. Katanya bapak itu tersangkut kasus penganiyayaan terhadap siswa. Sontak aku kaget, “apakah benar? Secepat itukah bapak yang kami idolakan dulu berubah” pikirku. Tapi, kalo diliat-liat ternyata kasus yang serupa tidak terjadi disekolah kita saja. Hampir disemua sekolah di Negara ini mengalaminya. Berarti ada yang salah memang.

Tapi apa yah? Yang ku lihat, sekarang ini antara guru dan murid tidak sedekat dulu. Sekarang itu, hubungan mereka hanya sebatas untuk transfer ilmu dan berhenti sampai disitu, tanpa ada proses penanaman nilai. Selain itu, guru tak punya hak penuh untuk mengatur siswanya bahkan dalam lingkungan sekolah sekalipun. Teguran akan mengakibatkan siswa merasa di intimidasi dan sentuhan fisik akan membuat mereka merasa teraniyaya. Dan jadilah penjara dan proses peradilan yang menyelesaikan semuanya.

Dan benarlah slogan “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”, tak ada yang menandakan kalo seorang guru adalah layaknya pahlawan yang harus dihormati. Maka mudahlah untuk mereka diremehkan dan diinjak-injak. Jadi tak salah jika diantara sekian banyak guru berusaha menyelamatkan citranya, maka dibuat halal pulalah bagi seorang guru untuk berbuat sesuatu diluar dari nilai-nilai kepahlawanan. Dan hal itupun dianggap wajar, selama dengan begitu orang menjadi sadar kalo guru memang benar-benar pahlawan, yang harus dihormati walau terkadang sebagian dari mereka berbuat selayaknya pecundang.

Sob, tau tidak… ternyata ini ulah si kapitalisme itu. Yang semakin membuat manusia merasa berkuasa dan merasa memiliki segalanya jika punya uang. Semuanya dibuat mudah saja, mereka anggap harga diripun termasuk barang jualan yang dapat dibeli dengan uang. Akibatnya rasa penghormatan terhadap orang lain pun mulai sirna, “kenapa tidak selama dengan begitu aku bahagia” begitu katanya.
Eh sob, kalo ke Makassar main kerumahku yah. Masih ingatkan jalannya, tapi kalo tidak salah kamu menandai dengan pohon-pohon yang ada sepanjang jalan. Waduh, bisa gawat dong kalo gitu pasti kamu akan kesasar, karena disini pohon itu jarang tumbuh liar mungkin beberapa tahun lagi ada payung hukum untuk satu pohon agar tidak punah. Lama-lama dibuat geram juga aku sama kapitalisme ini, masa biar pohon-pohon dibabat juga, dijadikan gedung kotak berlantai berlapis-lapis. Sumpah kalo kamu kesini, ndak jelas yang mana produsen yang mana konsumen bahkan cenderung semua jadi produsen, jadi jangan heran kalo suatu hari nanti di Makassar ini system barter berlaku lagi.

Sudahlah, tak akan habis KAPITALISME itu kalo mo dibahas.

Gila juga yah, beberapa tahun saja tidak bertemu banyak sekali yang terjadi, dan tak tanggung-tanggung satu persatu korban jatuh akibat amukan/ego alam bergantian amukan/ego manusia. Belum lagi semangat perjuangan ynag mulai menciut, sebagian orang muak dan memilih untuk apatis saja dan sebagian lagi memilih untuk menikmatinya. Tapi saya yakin, masih ada orang yang akan berjuang sampai mati, tinggal masalah waktu saja.

Sob, aku rindu sama kamu, rindu mendengar tawamu, rindu bermain bersamamu. Walau tak bisa ku pungkiri akupun ridu dengan masa yang dulu itu.

Besdt regards
Syam.

No comments