Powered by Blogger.

BELANJA SAMPAI MATI!

KONYOLLL!!!!!

cita-cita jadi revolusioner sejati, tap bagaimana bisa ku melakukan revolusi kalau nafsuku saja belum di kerangkeng dengan baik.Apalagi ketika menginjakkan kaki di gedung megah nan menawan nan mewah yang berisi puluhan etalase pengumbar nikmat duniawi, yang menjajakan keinginan diatas kebutuhan, yang semu barangnya begitu mahal (bisa ampai 3x lipat dari aslinya), yang Wcnya harus dibayar, yang tempat sholatnya mojok,jorok,kucel,terpencil, yang setiap hari disesaki ribuan orang dengan berbagai motif dan parahnya lagi makin tumbuh subur saja. Tergoyah juga aku!!! apa yang ku liat rasanya ingin ku bawa pulang dan pertahananku semakin runtuh tatkala ku berujar “iiiiiiihhhhhhhhhh lucunyaaaaaa”. Yah, niatnya mau cuci mata jadinya cuci otak.

Maka seketika Bhulsitlah slogan REVOLUSI SAMPAI MATI di benakku, berganti menjadi BELANJA SAMPAI MATI. Pasalnya belum mati saja, semua lahan-lahan kosong maupun tidak(tinggal digusur beres!!!) sudah direvolusi duluan menjadi pusat-pusat perbelanjaan. Begitu gilanya para investor itu menggerogoti kota kecilku yang polos ini, sama gilanya kapitalisme yang begitulicik menggerogotiku, lingkunganku, bangsaku lewat pemikiran, media, makanan. Parahnya lagi aku dan mereka sadar akan hal itu. Betul-betul KONYOLLL!!!!

Dan yang paling KONYOL, ketika ternyata aku (mungkin mereka juga) harus merasakan dilema saat diperhdapkan pada pilihan REVOLUSI atau kampungan/katro/wongdeso. Au ah... apalagi kalau sampai harus shalat istikharah agar mendapatkan pilihan yang tepat? Atau kata seorang temanku “revolusioner Funky, ala distro gitu loch!” atau pepatah bilang sambil menyelam minum air, tapi airnya sedikit-sedikit supaya tidak tenggelam. Hualaaaahhhhhhhh.

Maka tololnya aku jika kegemerlapan dan kemewahan ternyata mampu menumbangkan, nahkan menanggalkan revolusi yang ingin ku lakukan. Kapan perubahan itu akan datang kalau disini (telunjuk di letakkan di kepala tepat diatas telinga: orang bilang di otak, di pemikiran) saja belum bisa ku rubah, kutaklukkan. Padahal kuncinya kan disini (masih menunjuk ketempat yg sama), disininya keluargaku, disininya teman-temanku, di sininya semua manusia, karena disinilah asaran empuknya kapitalisme. Nenekku pernah berpesan “kobaran api itu, berasal dari percikan-percikan kecil”

Yah, aku tak mau kapitalisme dan kacung-kacungnya tersenyum puas!!! mereka harus mati, mereka harus ku bunuh seperti perbuatan mereka yang telah membunuh kemanusiaan dan menghidupkan nafsu binatang manusia-manusia lugu, ALLAHU AKBAR!!!!

jadi, ada yang mau membantai bareng aku? Sekalian cuci mata gitu!!!!

1 comment

  1. ihh..lucunya :D ada yg menggugat yg namanya kapitalisme, tp tak bs lepas dr jeratannya.mgkn kmu spt yg tmnku blg, cukup dijadikan cara utk menyebarkan ideologi lain(kapitalisme=ideologi kah?), substansinya bkn itu.buntut2nya kan pasar yg jd acuan, cos katanya dia gak bs lepas dr yg namanya wujud kapitalisme.misalnya berdakwah dgn memanfaatkan produk2 kapitalis yg mengglobal itu.kyak ngeblog gini deh..produk kapitalis, tp kita menghujat2 dia.hahaha...
    klo gitu semangat aja lah..memanfaatkan apa yg ada (kampanye di Jakarta aja, yg menang yg bnyk ngeluarin modal, yg bnyk spanduknya, yg bnyk money politic nya, dsb.)
    (bingungka ngomong apa..)

    ReplyDelete