Powered by Blogger.

Soe Hok Gie

Dua jempol mungkin tak cukup untuk memuji kehebatan Nicholas Saputera di film GIE. Begitu hebatnya dia yang bisa menyampaikan perasaan seorang GIE lewat sorot matanya, yah walaupun hanya sebuah film, tapi ku bisa merasakan kesepian dan kesendirian yang dirasakan oleh GIE semasa hidupnya.

Film ini membelai-belai perasaanku, hati nuraniku, mataku, dan kemanusianku. Ku tidak tau kenapa, yang ku tau kembali ku dibuat tertunduk dan terpojok “tuhan… ku pun mahasiswa”.

Menonton film ini membuatku berhenti berharap akan sebuah perdamaian/kedamaian. Bukan karena pesimis, tapi biarkanlah… biarkanlah seperti itu. Apalah arti kedamaian tanpa keributan, apalah arti kebaikan tanpa keburukan, apalah arti senyum tanpa tangis bukankah penilaian itu butuh pembeda?. Toh kebenaran tak akan pernah berdiri sendiri, butuh kesengsaraan/perjuangan/pengorbanan untuk merasakan berharganya sebuah kebenaran. Ku kira ini sudah menjadi hukum tuhan semenjak dia menciptakan iblis dan manusia, sejak habil dan Qabil lahir kemuka bumi. Lebih dari itu, ku hanya ingin menjadi saksi hidup lahirnya manusia-manusia pilihan, mereka yang pejuang, mereka yang bercita-cita menegakkan kebenaran di muka bumi ini.

Sita pun berakting memukau di film ini, senyum tipis manis serta lirikan-lirikan santun yang senantiasa di perlihatkannya semakin menegaskan akan keindahan, romantis, dan misteriusnya sebuah cinta rahasia.

No comments