Powered by Blogger.

Perempuan rumah kenangan

Perempuan, rumah kenangan; M Aan Mansyur; Insist Press; April 2007; 185+ Halaman


Sampul krem kecoklatan dengan gambar seorang ibu yang seolah-olah membujuk anaknya yang sedang bersedih, entahlah apa seperti itu tapi hanya itu yang bisa ku tangkap dari penampakan luar novel ini. Lalu halaman pertama ku buka, selain judul yang tertera dari penerbitnya, aku menemukan catatan kecil-tulisan tangan- yang ditulis dengan tinta hijau:

------- Kepada Nur Alfia Sam
; Salam kenal
Hati-hati pada lelaki!
(ada tanda tangannya)
-M Aan Mansyur-
19/06/07

“Apa maksud pesan itu?” pikirku kemudian, tapi setelah menyelami ke-185 lembaran putih novel ini membuatku dapat menyimpulkan dan serta merta dapat menjawab pertanyaanku tadi, pertanyaan atas pernyataan peringatan untuk mewaspadai laki-laki yang ternyata berasal dari laki-laki pula.

Well, ku kehabisan kata untuk menilai novel ini, penilaian dari seorang biasa untuk karya yang luar biasa. Rasanya tak ada kosakata yang pantas untuk mempersunting novel ini; keren, sempurna, bagus, great, cool, mantap… dll, ku rasa itu terlalu standart. “Apa yah namanya?” mungkin tak begitu penting lagi, yang paling penting sekarang adalah Ku telah di buat Jatuh Cinta, “kenapa begitu?” yah karena memang begitu, novel ini menceritakan kehidupan yang begitu dekat denganku –bukan aku saja, teman-temanku pun begitu- jelasnya, pembaca akan di buat seolah merekalah yang empunya novel autobiografi ini. Ku hanya bisa berkesimpulan, bahwa sepi itu adalah sesuatu yang mutlak ada pada manusia, hanya saja masih samar. Karena pada dasarnya sepi tidak sama dengan sendiri.

Pelajaran, pesan moral, cinta, persahabatan, pandangan hidup, kata-kata indah, keluarga, pertemanan, kesetian, perselingkuhan, tanggung jawab; telah diramu sedemikian elok dalam novel ini, hanya saja ku tak akan menceritakannya atau memetikkan kata-kata indah seperti kebiasaanku dalam menuliskan resensi. Kalian harus membacanya dan menemukannya sendiri. Selami dan rasakan. Lagi pula ini persoalan selera.

Walapun ku mencintai novel ini, tak serta merta menutup mataku atas ketidaksenaganku yang muncul (ini subjektifitasku ji cess….). ku begitu kagum dengan cara penulis memaknai cinta dan kesetiaan. Tapi, tidak dengan perlakuannya terhadap cinta dan kesetiaan itu sendiri. Bahkan ku dibuat membenci.

No comments