Powered by Blogger.

Apresiasi Untuk Andrea Hirata

Mungkin karena saya tak pandai membaca buku, kesan saya terhadap ke-3 buku Andrea Hirata tak begitu heboh seperti kebanyakan teman-teman dikampus yang telah lebih dulu membacanya, juga seperti orang2 yang telah menuliskan resensi buku tersebut di blognya.

Mungkin kagum, atau tepatnya terkagum2, lebih pantas menggambarkan apresiasi saya terhadap ke-3buku ini, kagum akan kekuatan Andrea bercerita mengenang kisah lalu, kagum atas luasnya wawasan pria keriting dari belitong itu, terlebih lagi kagum dengan Lintang yang tak sama sekali memiliki ego seorang anak, ataukah Arai yang punya banyak kejutan dikepalanya, kagum dengan sosok orang tua yang "pintar" menempatkan peran dan tentu saja kepolosan Jimbron. Semuanya terasa menyata.

Saya masih ingat 2 bab di novel pertama; LASKAR PELANGI, bab yang membut saya berderai2… yah, layaknya Ikal, pun saya adalah orang yang tidak suka akan kesia-siaan. Saya tak suka ending yang menceritakan nasib siJenius Lintang yang ayahnya meninggal, putus sekolah, dan akhirnya hanya menjadi supir troton, demi menjadi tulang punggung keluarga, Kejam!!!, tapi… sekali lagi saya harus tersadar, inilah hidup. Hidup itu mahal, tapi pendidikan lebih mahal tentunya. Kalau ingat Lintang, dada saya sedikit sesak. Apalagi ingat statementnya saat Ikal sedih melihat nasibnya, dengan kecerdasan abadinya dia hanya berujar ”Jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan...”. Lintang yang mbuat saya sedikit malas melirik kembali buku1 nya bung Andrea.

"Tuhan bertahun-tahun telah memeluk mimpi kami, telah menyimak harapan-harapan sepi dalam hati kami… " kurang lebih seperti itu kalimat luar biasa yang tertera dalam paragraf terakhir buku ke-2 Andrea Hirata; SANG PEMIMPI. Kalimat yang hanya keluar pada seorang pemimpi yang ketika mimpinya tercapai tak melupakan TuhanNya. Saya orang yang juga percaya akan kekuatan mimpi, dan sebagai pemimpi yang baik pelajaran moral (pinjam isilahnya bung andrea) yang saya dapatkan adalah: "kita tak'kan pernah mendahului nasib". Terkadang sayapun berlaku tolol seperti Ikal. Selalu menebak takdir…. Musuh besar sikap optimis.

Kegigihan Ikal dan Arai mencapai mimpinya, membuat saya nyaris berteriak… Wait for me!!! (refers to sebuah negara yang hanya saya yg tau)

Dalam menyelami novel ke-2 ini, sering sekali sy dibuat takjub akan kelakuan-kelakuan pelaku2nya. Terlebih lagi kehadiran seorang JIMBRON, segala tingkah laku dan kepolosannya membuat saya semakin yakin untuk meneriakkan pada dunia bahwa KETULUSAN itu masih ada, karena ketulusan itu bukan untuk dikatakan atau untuk dilihat. Tapi, ketulusan itu hanya akan kasat ketika kita dapat menaklukkan pikiran/EGO kita. Yah, kurang lebih seperti itu.

Lain halnya di buku ke-3, dihalaman2 pertama saya disambut dengan sebuah Quote dari pesohor dunia

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desai holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun yang terjadi secara kebetulan. Ini fakta pencapaian yang tak terbantahkan.
Diinterpretasikan dari pemikiran agung
Harun Yahya

Brenti ngetik dulu,

Waktunya membaca lagi.



No comments