Powered by Blogger.

tentang maaf.


" … karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.
Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina …"
SENO GUMIRA ADJIDARMA
Sepotong Senja Untuk pacarku (cerpen pilihan KOMPAS 1993)

Membaca potongan cerpen ini, saya tiba2 teringat seorang kawan, kawan yang sesekali dengan nada bercanda menyatakan lelah dan mulai tak mempercayai esensi dari kata maaf. Dalam sebuah email dia pernah menyampaikan bahwa maaf itu hanya untuk TUHAN. Karena pada dasarnya hanya TUHAN yang bisa mengampunkan manusia untuk dosa2 ataukah kesalahan2 yang telah diperbuatnya. Tapi, jika memang maaf itu diperuntukkan untuk sesama manusia, maka tujuannya bukan untuk pengampunan ataukah penghapusan dosa tapi untuk lebih menegaskan dosa2 yang telah tercipta. Hanya itu!!!

Saya jadi ingat waktu SMA dulu, waktu itu saya tak begitu royal mengeluarkan kata maaf bahkan bisa dibilang tak pernah saya meminta maaf, bukan karena saya sombong atau angkuh karena bagi saya maaf itu sangat sakral, dan bukan sekedar ucapan belaka. Tapi, seiring waktu saya pun menjadi seseorang yang di setiap detik hidupnya hanya bisa meminta maaf. Saking seringnya, sekarang maaf itu terasa hambar, hanya sekedar terlontar dari mulut saja. Bahkan bukan itu saja, untuk seseorang yang gampang megeluarkan kata maaf (permintaan maaf) peluang untuk melakukan kesalahan lagi sangatlah besar.

Kawan, sekarang saya mau belajar lagi… mengembalikan makna dari MAAF itu sendiri (setidaknya untuk saya pribadi dululah). Karena, pun saya tak ingin kata itu hanya sekedar menjadi kata yang tak ada artinya, sia2 belaka dan celakanya tak mampu merubah apa2. Mungkin saja umur dunia masih lama… dan kasian untuk generasi berikutnya jika mendapati segalanya yang serba "hambar"

No comments