27 February 2008

Shout Together






UNHAS BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN
punkagree5peace





23 February 2008

Rame-rame jadi penyanyi

Sudah dua bulan belakangan ini, saya lebih sering menghabiskan waktu di rumah, pulang larut pun sudah tak pernah lagi. Dibilang "home sick" kayaknya tidak begitu juga, cuman sepertinya lagi nyaman saja bermalas2an dirumah, sambil melirik2 buku terbitan terbaru, beres2 rumah, tidur2an, atau bahkan hanya menghabiskan waktu melongo di depan TV.


Dan saya kembali akrab dengan TV, tapi masih tetep ndak nengok sinetron. Kabar-kabar mengatakan bahwa sinetron itu kayak candu, sekali nonton susah untuk berhenti jadi saya memilih alih chanel saja dari pada kecanduan?. Di chanel2 lain justru rame2 nampilkan acara yang berGENRE adu bakat hebat2an vokal atau dengan kata lain menyanyi.


Yang seru dari acara sejenis ini adalah, pesertanya sebagian besar dari dunia entertainment juga; mereka adalah aktor, aktris, presenter, dll. Wah… ada apa yah? sepertinya para artis2 yang bukan berasal dari dunia tarik suara sekarang berlomba2 rame2 jadi penyanyi. Bahkan rumor yang lebih dahsyat mengabarkan beberapa diantara mereka sudah bikin First Single (album), semisal Hengki Kurniawan, Julia Peres, Cut memey, Indra Brugman. Mungkin mo ngikut sm kesuksesannya BCL atau Intan, beberapa orang bahkan menganggap apa yang dilakukan para entertainer2 itu adalah cara untuk mempertahankan ketenaran dan meraup lebih banyak lagi keuntungan. Who knows? Yang namanya motif kembali lagi ke pribadi masing2.


Tapi, apapun itu pelajaran yang didapat dari semuanya ini adalah seseorang itu musti pintar memanfaatkan peluang yang ada. Karena peluang/kesempatan itu tidak akan datang dua kali dalam kondisi yang benar2 sama. Perlu diingat juga, untuk sampai kepuncak itu butuh banyak anak tangga/batu loncatan, dan anak tangga/batu mana yang tepat untuk dijadikan pijakan?, hanya kitalah yang tahu. Yang penting tidak pake jurus Culas, Picik dan Licik, InsyaALLAH ndak bakalan terpeleset.


17 February 2008

Ekonomi Baru

Memasuki milenium ke-3, istilah ekonomi baru (new economic) makin marak terdengar. Ada yang berpendapat bahwa ekonomi baru itu ditandai dengan tingginya penggunaan komputer dan internet dalam setiap perilaku transaksi perdagangannya, hal inilah yang disebut dengan digital economic. Sedangkan untuk ekonomi lama sendiri tidak.

Setelah muncul istilah ekonomi baru, belakangan muncul pula beberapa istilah-istilah yang terkait dengan kemunculan economy baru seperti:

Information economy, istilah ini berawal dari trilogi revolusi yaitu pertanian, industri dan informasi. Dimana dalam ekonomi baru ini informasi ekonomi sangat penting

Network economy, maksudnya ekonomi baru dipengaruhi oleh jaringan baik berupa technology (jarinngan internet) maupun fisik dimana sekarang ini adanya globalisasi memungkinkan terbukanya batas2 antar negara secara luas.

Knowledge economy, dalam perkembangannya ekonomi baru ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh para pelaku ekonominya.


Menurut Pac Brogan dari Macromedia, ada 4 pilar/bidang yang dapat mempercepat pertumbuhan dari ekonomi baru tadi, diantaranya yaitu; komputer, semi konduktor, healt care, dan medicine. Dan keempat pilar/bidang inilah yang nantinya akan terus berkembang pesat dan ikut mempengaruhi bidang2 lain di dunia ini.


>>> tO bE ConTinUE


Tentang Burung

Senja ini aku berbasah hujan

Bukan karena kuyup, tapi aku memang sedang rindu bermain bersama titik-titik air langit itu

Dalam main kutatap langit

Bersih nian, putih nian

Hanya sesekali lewat awan pekat menggumpal


Tak hanya aku,

Kawanan burung kecil pun sedang asyik bermain diguyur hujan

Tapi tak sendiri, seperti aku

Mereka ramai, mereka kerumun, mereka bebas

Terbang kesana kesini, tinggi rendah, berputar2

Sesekali mereka bertabrak

Tapi tak lantas saling labrak


Terus saja mereka terbang

Tanpa dibayangi sesal akan hari kemarin

Tanpa dibayangi cemas akan hari esok

Terbang mereka pasti

Tanpa khawatir apakah petir akan menyambar, dan menghanguskan

Ataukah justru kan indah berakhir pelangi


Ada damai disana


Senja ini aku berbasah hujan

Semoga besok aku tak sakit hujan


11 February 2008

Memiliki Kehilangan

Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada
Bagimu tetap merasa masih memilikinya
Kesan kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia akan sirna 
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Kesan kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Memiliki kehilangan, menurut seorang CHaM lagu ini mengandung dua makna.

Pertama, tak ada yang abadi di dunia ini. Akan ada masa dimana sesuatu itu berakhir,berubah, pergi, hilang, sirna, mati, terserah apalah namanya… yang pasti sesuatu itu tak akan sama lagi.

Kedua,"kesan kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya" betul!!!, kehilangan akan ada jika pernah memiliki, memiliki disini melibatkan rasa dan asa. Tapi, yang perlu diingat jangan punya rasa kepemilikan yang total apalagi sampai2 kedirian kita melekat padanya/pada sesuatu. Karena seperti poin pertama diatas, tak ada sesuatu yang benar2 konstan di dunia ini, tidak ada yang abadi. Semuanya kan berubah dan jika itu terjadi, maka hilanglah dirikita bersama seorang/sesuatu itu, dan jadilah kita seorang yang hanya punya raga tanpa jiwa (mirip2 orang gila). Kesimpulannya, yah... hanya orang bodoh yang merana sepanjang tahun meratapi perpisahan, meratapi kepergian, meratapi kehilangan, dan lebih bodoh lagi jika meratapi kematian. Mang mau ikut mati juga??? Saya jadi teringat sebuah quote anggun dari seorang Muhidin M Dahlan (di Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta) 
"Jadi sesungguhnya bukan yang dikasihi yang membujur itu ia tangisi, tapi ia sedang menangisi dirinya sendiri, yang sesak, yang terasing, yang terlempar oleh sebuah tanya: setelah ia pergi, lalu aku mau apa?" 
So sweeeeeet…...

Pemulung Curhat

Deretan kata ini, khusus ku buat untuk seorang kawan. sebagai hadiah sebuah perayaan usia di tanggal 6 Februari Kemarin, "Tak ada yang bisa saya beri kawan, hanya beberapa bait kata karena ituji yang sa punya... belum punya penghasilan kodong"

... HaPPy B'daY Sista!!! ... 

Minggu, 10 Februari 2008
Pukul 20:00

Tak jua monitorku dijejaki kata, kecuali keluhan ini…
Seandainya aku penyair, maka bersyairlah aku

Tapi, aku hanyalah pemulung yang gemar mengais kenangan
Kemudian ku kumpulkan dan kujadikan mozaik
Dalam deretan kata
Untuk dikenang

Dan maukah kau mengenangnya bersamaku?
Ditengah derasnya hujan yang menghujam
Tak apalah sesekali angin menampar
Untuk mengais perbincangan hangat di suatu sudut BTP
Di bawah langit oranye nan romantis
Kala itu hujan tak turun
Tapi hati ini gerimis
Hati ini tertampar
Jadilah hati ini terdampar di teras hatimu, kutemukan jendela kecil disana

Dan kini jendela itu kau bata,
Semenjak hari mendung itu
Tak kutemukan lagi tempat bahkan untuk kusekedar mengintip
Ada apa didalam?
Argh… Hujan semakin deras hari ini

Dan tahukah engkau, jika sekarang adalah dahulu sebelum kemarin?

Oh… Tuhanku
Seandainya hari ini adalah kemarin…

9 February 2008

Saya , AKU, BUKU dan SEPOTONG SAJAK CINTA

Hari ini ndak ada kuliah, tapi tetap kekampus menunaikan kewajiban.

Dalam perjalanan kekampus, seperti biasanya saya memilih buku menemani saya selama 1jam di pete-pete. maklumlah, saya orang kota tinggalnya di daerah cendrawasih, sementara kampus letaknya jauh di pelosok, dekat2 perbatasan kota Makassar. Nah, seminggu ini saya lagi ditemani oleh Muhidin M Dahlan dengan buku lawasnya (lagu kapang^_^) Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta. buku ini dah lama saya cari, tapi baru dapat saja. kata orang, kalo baca nie buku bisa langsung buat orang yang ndak suka nulis jadi mau menulis. apa iya??? entahlah... bukunya juga blum abis dibaca.

So, saya mau cerita apa???

Mmm, saya bukan mau nulis resensi. Cuman mau ungkapkan saja tentang responku sama buku ini. awalnya sih biasa saja, tapi... semakin dalam saya membuka lembaran2, semakin jauh saya di bawah terbang ke suatu masa. Masa dimana ketika saya mengingatnya, rasa sesal selalu saja memburu. Masa yang tak pernah bisa saya lupa.

Dan... kesalahan terbesarku pada Masa itu adalah, salah memilih.

Intinya, hidup manusia selalu dihadapkan pada pilihan2, dimana disetiap pilihan dah ada konsekuensi yang bergelantungan. suka tidak suka, senang tidak senang atas pilihan2 yang ada... we must choice. Peluang kesalahan itu mutlak. jadi wajar saja ketika sesal di iringi dengan statement "seandainya" itu ada. toh manusia hanya manusia, sebagaimana kodratnya. Tak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok, peramal sekalipun. Wuuuuuihhhhh, kenapa juga rasa sesal mesti ada dalam deretan rasa manusia??? buang2 energi, dan sumpah!!! Sesal itu batu, di usir sekalipun masih hinggap juga. Nyamuk saja gak segitunya......

Aaaaarghhhh.... saya jadi pusing ndiri, apa yang sudah saya tulis yah???

Standar Auditing

Standar auditing berkaitan dengan kriteria atau ukuran mutu kinerja audit, dan berkaitandengan tujuan yang hendak dicapai dengan menggunakan prosedur yang ada. Standar auditing terdiri dari 10 yang dikelompokkan kedalam 3 bagian, diantaranya standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Dalam banyak hal, standar-standar tersebut saling berhubungan dan saling bergantung satu dengan lainnya. “materialitas” dan “resiko audit” melandasi penerapan semua standar auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.

A. STANDAR UMUM

Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan mutu pekerjaannya. Standar umum ini mencakup tiga bagian, yaitu:


1. udit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memilki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
Dalam melaksanakan audit sampai pada suatu pernyataan pendapat, auditor harus senantiasa bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang akuntansi dan bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dari pendidikan formal ditambah dengan pengalaman-pengalaman dalam praktik audit dan menjalani pelatihan teknis yang cukup. Asisten junior yang baru masuk dalam karir auditing harus memperoleh pengalaman profesionalnya dengan mendapatkan supervisi yang memadai dan review atas pekerjaannya dari atasannya yang lebih berpengalaman.
Pelatihan yang dimaksudkan disini, mencakup pula pelatihan kesadaran untuk secara terus-menerus mengikuti perkembangan yang terjadi dalam bidang bisnis dan profesinya. Ia harus mempelajari, memahami, dan menerapkan ketentuan-ketentuan baru dalam prinsip akuntansi dan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.


2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dan sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
Standar ini mengharuskan seorang auditor bersikap independen, yang artinya seorang auditor tidak mudah dipengaruhi, karena pekerjaannya untuk kepentingan umum. Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor independen sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Untuk menjadi independen, seorang auditor harus secara intelektual jujur.
Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam Kode Etik Akuntan Indonesia, agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat. Independensi secara intrinsik merupakan masalah mutu pribadi, bukan merupakan suatu aturan yang dirumuskan untuk dapat diuji secara objektif. BAPEPAM juga dapat menetapkan persyaratan independensi bagi auditor yang melaporkan tentang informasi keuangan yang akan diserahkan, yang mungkin berbeda dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).


3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menekankan tanggung jawab setiap profesional yang bekerja dalam organisasi auditor. Selain itu juga menyangkut apa yang dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaannya tersebut. Seorang auditor harus memiliki “tingkat keterampilan yang umumnya dimiliki” oleh auditor pada umumnya dan harus menggunakan keterampilan tersebut dengan “kecermatan dan keseksamaan yang wajar”. Untuk itu, auditor dituntut untuk memiliki skeptisme profesional dan keyakinan yang memadai dalam mengevaluasi bukti audit.


STANDAR PEKERJAAN LAPANGAN


Standar pekerjaan lapangan terdiri dari tiga, yaitu:
1. Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
Poin ini menjelaskan bahwa, penunjukan auditor independen secara dini akan memberikan banyak manfaat bagi auditor maupun klien. Penunjukan secara dini memungkinkan auditor merencanakan pekerjaannya sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat dan efisien serta dapat menentukan seberapa jauh pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan sebelum tanggal neraca.


2. Pemahaman memadaai atas pengendalian interen harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
Untuk semua auditor harus memperoleh pemahaman tentang pengendalian internal yang memadai untuk merencanakan audit dengan melaksanakan prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan dengan audit atas laporan keuangan, dan apakah pengendalian interen tersebut dioperasikan. Setelah memperoleh pemahaman tersebut, auditor menaksir resiko pengendalian untuk asersi yang terdapat dalam saldo akun, golongan transaksi, dan komponen pengungkapan dalam laporan keuangan. Kemudian, auditor dapat mencari pengurangan lebih lanjut resiko pengendalian taksiran untuk asersi tertentu.
Auditor menggunakan pengetahuan yang dihasilkan dari pemahaman atas pengendalian interen dan tingkat resiko pengendalian taksiran dalam menentikan sifat, saat dan luas pengujian substantive untuk asersi laporan keuangan.


3.Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memahami untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.
Sebagian besar pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan terdiri dari usaha untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti audit. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap kesmpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan. Relevansi, objektivitas, ketepatan waktu, dan keberadaan bukti lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti.


STANDAR PELAPORAN
Standar pelaporan terdiri dari empat item, diantaranya:

1. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Standar pelaporan pertama ini tidak mengharuskan untuk menyatakan tentang fakta (statement of fact), namun standar tersebut mengharuskan auditor untuk menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi tersebut. Prinsip akuntansi berlaku umum atau “generally accepted accounting principles” mencakup konvensi, aturan dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi praktik akuntansi yang berlaku umum diwilayah tertentu dan pada waktu tertentu.

2. Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

Standar ini juga disebut dengan standar konsistensi. Standar konsistensi menuntut auditor independen untuk memahami hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan. Kurangnya konsistensi penerapan prinsip akuntansi dapat menyebabkan kurangnya daya banding laporan keuangan.
Standar ini bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan diantara kedua periode dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya. Caranya, dengan menambahkan paragraf penjelasn yang disajikan setelah paragraf pendapat.


3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.

Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum di Indonesia mencakup dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material, diantaranya bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan serta catatan atas laporan keuangan. Auditor harus selalu mempertimbangkan apakah masih terdapat hal-hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan fakta yang diketahuinya pada saat audit.
Dalam mempertimbangkan cukup atau tidaknya pengungkapan, auditor menggunakan informasi yang diterima dari kliennya atas dasar kepercayaan bahwa auditor akan merahasiakan informasi tersebut. Tanpa kepercayaan, auditor akan sulit untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menanyatakan pendapat atas laporan keuangannya.


4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor.
Tujuan standar pelaporan ini adalah untuk mencegah salah tafsir tentang tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan. Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keungan jika ia mengizinkan namanya dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan tersebut. Bila seorang akuntan menyerahkan kepada kliennya atau pihak lain suatu laporan keuangan yang disusunnya atau dibantu penyusunannya, maka ia juga dianggap berkaitan dengan laporan keuangan tersebut, meskipun ia tak mencantumkan namanya dalam laporan tersebut.

4 February 2008

Seperti Do'a

Ketenangan hilang bersama senyap

Tatkala dosa menjadi kenikmatan yang mengiringi kehidupan

Pikuk tapi sepi

Tertawa tapi gelisah

Walau nikmat, Semuanya semu

Dosakah? Azabkah?

Toh semua dibawah kuasanya

Sementara sembah tak lagi sujud

Serta merta, tenang hanya menjadi sepi

Tak lagi hening

Tak lagi khidmat

Pun air mata hanya sekedar menangis

Tak lagi asin

Hilang rasanya.

Atau mungkin aku yang tak lagi punya rasa?

"… Ya rabbi ijinkanlah aku kembali padamu meski mungkin takkan sempurna aku sebagai hambamu. Ampunkanlah aku terimalah taubatku sesungguhnya engkau sang maha pengampun dosa, berikanlah aku kesempatan waktu aku ingin kembali, kembali kepadamu Dan meski tak layak sujud padamu dan sungguh tak layak aku…" (Opick-Taubat)

7 Latifah (kehalusan dan kelemahlembutan)

Latifah pertama: Cinta dunia dan senantiasa ragu,

Latifah kedua: selalu merasa khawatir, rakus, tamak dan bakhil.

Latifah ketiga: pencemburu, kalap, dan membunuh.

Latifah keempat: iri, dengki, fitnah.

Latifak kelima: ujub atau mengagung-agungkan diri, riya, sombong dan merasa paling benar sendiri.

Latifah keenam: panjang angan-angan.

Latifah ketuju: masa bodoh.


Ketujuh latifah tersebut adalah pintu hidayah

Ketujuh latifah tersebut yang menjadi inti pencapaian dan kedamaian sejati. Yang senantiasa harus dijaga ketujuhnya agar senantiasa halus dan lembut agar nurilahi akan dapat tertangkap oleh jiwa.


Cinta dunia dan senantiasa merasa ragu adalah penyakit yang ditimbulkan jika latifah pertama tidak terjaga. Obatnya adalah cinta akhirat.


Penyakit yang muncul jika latifah kedua tidak terjaga adalah selalu khawatir, rakus, dan tamak. Obatnya adalah berkecukupan atau merasa cukup.


Pencemburu, kalap dan membunuh obatnya adalah sabar. Iri, dengki, fitnah obatnya adalah ikhlas. Ujub, sombong, mengagung-agungkan diri sendiri, merasa paling benar sendiri obatnya adalah rendah hati. Panjang angan-angan obatnya adalah memikirkan yang perlu. Masa bodoh obatnya adalah mutmainnah.


Pemurnian keinginan akan tercapai jika ketujuh latifah tersebut dijaga tetap latif, halus, lembut. Nur, sirr, ruh, nafsu, akal, maka semua itu akan senantiasa terjaga pada fungsi dan tempatnya secara`proporsional, dan rapat.


1 February 2008

Hanya tak ingin menangis

Suatu hari di sebuah perlombaan balapan mobil mainan, tampak lima orang anak yang tengah siap2 untuk memperlombakan mobil mainan mereka. Sebelum start dimulai, salah satu dari mereka terlihat sedang berdoa, kepalanya menunduk dan mulutnya berkomat-kamit. Tak lama kemudian, dia telah siap. Dan "tembakDooorrrrrrrr….." perlombaan dimulai. Semua mobil mainan itu melaju kencang, semua penonton tampak bersorak setelah beberapa lama memutari jalur, akhirnya yang memenangkan perlombaan adalah anak yang tampak berdoa tadi dan ia pun berdoa kembali, mulutnya berkomat-kamit. Salah seorang dari penonton memberinya selamat seraya berucap, "tuhan telah mengabulkan doamu tadi, kau telah menang nak" dengan senyuman anak itu berujar "waktu berdoa tadi, saya tidak minta supaya tuhan memenangkan saya, saya hanya meminta supaya saya tidak menangis jika kalahngakak"

Cerita ini saya ambil dari sebuah artikel, sebetulnya tidak sesingkat ini tapi kurang lebih seperti inilah ceritanya… saya suka dengan artikel ini, karena sanggup membuat saya merenung kembali. Telah berapa lama dan berapa sering saya berusaha mendikte tuhan lewat doa2 yang saya selalu lantunkan? Saya mendikte dengan meminta segala sesuatu yang saya inginkan.

Pernahkah kita berdoa agar diberikan yang terbaikdoa, apa pun itu?

Terkadang kita lupa dan menganggap tuhan tak tahu apa2 tentang kita dan kebahagiaan kita, Meminta dan berdoa untuk sesuatu, ketika harapan yang telah dituangakan dalam doa tak terwujud sebegaimana yang diinginkan serta merta tuhanlah yang salah dengan tuduhan tuhan maha tidak adil, tuhan tidak menyayangi kita. Yang jadi pertanyaan, apakah sesuatu yang baik untuk kita juga baik menurut tuhan?

Hanya tak Ingin menangis

Suatu hari di sebuah perlombaan balapan mobil mainan, tampak lima orang anak yang tengah siap2 untuk memperlombakan mobil mainan mereka. Sebelum start dimulai, salah satu dari mereka terlihat sedang berdoa, kepalanya menunduk dan mulutnya berkomat-kamit. Tak lama kemudian, dia telah siap. Dan "Dooorrrrrrrr….." perlombaan dimulai. Semua mobil mainan itu melaju kencang, semua penonton tampak bersorak setelah beberapa lama memutari jalur, akhirnya yang memenangkan perlombaan adalah anak yang tampak berdoa tadi dan ia pun berdoa kembali, mulutnya berkomat-kamit. Salah seorang dari penonton memberinya selamat seraya berucap, "tuhan telah mengabulkan doamu tadi, kau telah menang nak" dengan senyuman anak itu berujar "waktu berdoa tadi, saya tidak minta supaya tuhan memenangkan saya, saya hanya meminta supaya saya tidak menangis jika kalah"


 

Cerita ini saya ambil dari sebuah artikel, sebetulnya tidak sesingkat ini tapi kurang lebih seperti inilah ceritanya… saya suka dengan artikel ini, karena sanggup membuat saya merenung kembali. Telah berapa lama dan berapa sering saya berusaha mendikte tuhan lewat doa2 yang saya selalu lantunkan? Saya mendikte dengan meminta segala sesuatu yang saya inginkan.


 

Pernahkah kita berdoa agar diberikan yang terbaik, apa pun itu?


 

Terkadang kita lupa dan menganggap tuhan tak tahu apa2 tentang kita dan kebahagiaan kita, Meminta dan berdoa untuk sesuatu, ketika harapan yang telah dituangakan dalam doa tak terwujud sebegaimana yang diinginkan serta merta tuhanlah yang salah dengan tuduhan tuhan maha tidak adil, tuhan tidak menyayangi kita. Yang jadi pertanyaan, apakah sesuatu yang baik untuk kita juga baik menurut tuhan?