Powered by Blogger.

Bukan GIE


Beberapa hari yang lalu, saya terlibat percakapan dengan seorang kenalan baru. Kenalan yang juga simpatisan saudara-ku Soe Hok Gie. Di situ saya banyak bercerita, berkisah, atau apalah sebutannya… intinya saya sebagai pemeran utama diadegan itu. Pertemuan yang bukan kebetulan. Dan hari itu entah sengaja atau tidak, dia menggunakan baju kaos merah yang bergambarkan GIE.

Dalam pembicaraan kami, saya sempat mengutarakan perasaan saya tentang kebingungan akan makna merdeka. Yah, jujur sampai sekarang saya masih ragu apakah merdeka itu ada, bayangkan saja, untuk mengambil keputusan terkadang sangat sulit, mengapa demikian? Karena banyak sekali tekanan (biasanya disebut variabel) dari luar yang harus dipertimbangkan. Bahkan terkadang kita lebih mengutamakan tekanan itu dan mengabaikan diri sendiri, entahlah apa ini yang disebut dengan pengorbanan. Mungkin persoalan merdeka, tidak merdeka sama artinya kita bicara tentang ke-EGO-an. Berbicara tentang kepentingan pribadi ataukah orang lain. Its okay, hidup tidak boleh dijalani dengan menutup telinga. Tapi, apa merdeka itu?

Mungkin pemahamanku salah, isi kepalaku belum bisa mencerna hal itu…

Ketika, saya menjelaskan pandangan tentang merdeka tadi. Si kawan berkata "janganlah terlalu ingin seperti GIE". Saya hanya bisa tersenyum tanpa menjelaskan apa2, yah… saya memang suka/simpati sama GIE, saya memiliki beberapa kesamaan (tepatnya menyama2kan) dengan dia yaitu; berteman dengan sepi dan susah dimengerti oleh orang lain. Tentang isi kepala, ideologi ataukah prinsip tidak sama sekali. Lagi pula, siapa GIE itu?, saya tak tau banyak tentang dia, kalau bukan karena kepiawaian Mas Riri Reza dan penjiwaan Nicholas saputra, saya sangsi bisa kenal sama pemuda perawakan cina itu.

Saya tau saya bukan GIE, dan mungkin benar kata si kawan "kita lebih beruntung dari GIE" walaupun mungkin saja GIE sendiri telah merasa lebih beruntung karena telah mati muda. Saya tertarik kenal GIE lebih jauh...

No comments