Powered by Blogger.

Oleh-Oleh dari Kampung Halaman; Aku Ingin Jadi Orang Kaya!

Hari ini aku kembali pada rutinitas, tak banyak yang berubah, hanya saja perasaan hati kali ini lebih sumringah dari biasanya. Well, aku punya sedikit cerita itung2 sebagai oleh2 dari kampung, hehhe…

Hitungannya hampir dua minggu sejak aku meninggalkan rutinitas kantor, tak lagi bertandang ke kampus ataukah sekedar jalan-jalan menghabiskan akhir pekan di dalam gedung2 mewah khas perkotaan. Aku puas dengan perjalanan idul fitri-ku kali ini, mengunjungi rumah teman2 lama yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, back to village di saat2 semua orang mengakhiri mudiknya dan diakhiri dengan ajojing pagi di pantai Losari bersama my little sister, puas… puas… puas…!!!

Ternyata aku suka pulang kampung, selain membuat keluarga lebih besar dan hangat banyak pelajaran yang bisa aku dapat dari perjalanan itu. Setelah 7 tahun tidak bertandang ke kampung halaman, baru pada idul fitri 2 tahun terakhir ini aku menyempatkan diri untuk kembali ke daerah kelahiran orang tuaku, daerah dimana ku menghabiskan masa kecilku. Rindu mungkin ada hanya tidak begitu menggebu karena kampung halaman adalah tempat yang telah menjadi asing bagiku. Keberadaanku dikampung memancing satu persatu peristiwa/kejadian masa kecilku melintas diingatan. Hmhmh… begitu manis rupanya!

Banyak yang berubah dari kampungku, tanah yang kian kering, pematang yang didominasi warna coklat keriput, debu bebas beterbangan, rumah2 khas perkotaan pun telah banyak berdiri, di kampungku tak ada distro yang berjejer tapi remajanya mayoritas berdandan ala distro, remaja2 perempuan pun telah bebas dan banyak berkeliaran dengan motor ataukah hanya nongkrong di “panyingkulu” pokoknya kampungku ini telah bereinkarnasi menjadi perkotaan, perlahan tapi pasti!

Dari dulu aku tahu bahwa untuk bertahan hidup itu hanya perlu “cukup”, tapi lingkungan dan pergaulan mengajarkanku untuk tak berhenti pada kata cukup saja, hidupku tidak berlimpah tak juga mewah pun tak menjadi ambisi bagiku untuk mengejarnya, hanya saja aku telah dilenakan oleh pola hidup konsumtif. Dan tahukah kalian bahwa dikampungku ini, di daerah pedalaman/pedesaan Kabupaten Jeneponto banyak orang2 yang masih bisa bertahan hidup dengan kondisi serba kekurangan, “mencukupkan” itu yang mereka lakukan untuk bisa tertawa dan bernafas lega, jangan tanyakan soal sekolah karena tidak ada yang gratis di dunia ini bahkan untuk orang yang terlalu miskin sekalipun. Aku tidak perlu menjadi peserta reality show “Jika Aku Menjadi” untuk tahu betapa timpangnya hidup di Negara ini, ataukah hanya duduk membaca surat kabar, cukup dengan pulang kampung feelnya lebih dapat.

Setidaknya aku sedikit disadarkan, bahwa aku dan keluargaku bukan siapa2, bahwa kami adalah keluarga yang biasa2 saja, aku pribadi patut bersyukur bahwa aku lahir di anak keturunan yang berpandangan bahwa sekolah adalah kunci untuk membawa keluargaku lebih baik dari sebelumnya bukan dengan menikah muda, karena sekolah tidak sekedar untuk mengangkat derajat tapi juga untuk bisa tahu mana yang benar2 “benar” atau “salah”, dan benar2 “baik” atau “buruk”.

Saat ini, aku nazarkan jalanku lurus, “memiliki segala” yang mampu membuat “mereka” hidup lebih layak. Aku ingin jadi Orang Kaya…………!


2 comments

  1. S.E.T.U.J.U,memang mudik dan berkumpul brsama keluarga paling maknyusss....
    Tiada yg lebih berarti dari keluarga dan bersyukur selalu buat semua hal yg boleh terjadi dalam hidup kita...

    ReplyDelete
  2. iyyah... musti jadi manusia yg pandai bersyukur

    ReplyDelete