Powered by Blogger.

Skripsiku: HUBUNGAN INTELLECTUAL CAPITAL DAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN: STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI TAHUN 2002-2007

Latar Belakang Masalah
Globalisasi, inovasi teknologi dan persaingan yang ketat pada abad ini memaksa perusahaan-perusahaan mengubah cara mereka menjalankan bisnisnya. Agar dapat terus bertahan, perusahaan-perusahaan mengubah bisnisnya dari bisnis yang berdasarkan pada tenaga kerja (labor-based business) menuju bisnis yang berdasarkan pada pengetahuan (knowledge based business), dengan karakteristik utama ilmu pengetahuan. Seiring dengan perubahan ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based) dan dengan penerapan manajemen pengetahuan (knowledge management) maka kemakmuran suatu perusahaan akan bergantung pada suatu penciptaan transformasi dan kapitalisasi dari pengetahuan itu sendiri.

Dalam sistem manajemen yang berbasis pengetahuan (knowledge based) ini, maka modal yang konvensional seperti sumber daya alam, sumber daya keuangan dan aktiva fisik lainnya menjadi kurang penting dibandingkan dengan modal yang berbasis pada pengetahuan dan teknologi. Dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi akan dapat diperoleh bagaimana cara menggunakan sumber daya lainnya secara efisien dan ekonomis, yang nantinya akan memberikan keunggulan bersaing (Rupert, 1998 dalam Sawarjuwono, 2003). Lebih lanjut Rupert (1998) mengungkapkan bahwa berkurangnya atau bahkan hilangnya aktiva tetap dalam neraca perusahaan tidak menyebabkan hilangnya penghargaan pasar terhadap perusahaan. Hal ini tercermin dari banyaknya perusahaan yang memiliki aktiva berwujud yang tidak signifikan dalam laporan keuangan namun penghargaan pasar atas perusahaan-perusahaan tersebut sangat tinggi.

Perhatikan tabel berikut:


Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat bahwa terdapat selisih antara market value dan net asset (book value), dengan kata lain adanya selisih antara kedua item tersebut menandakan adanya hidden value yang tidak diungkapkan dalam laporan keuangan. Hal serupa diungkapkan oleh Stewart, 1997 dalam Astuti, 2005 bahwa terjadinya selisih tersebut karena terdapat intangible asset yang tidak dicatat dalam neraca oleh perusahaan. Adanya selisih antara nilai buku dan nilai kapitalisasi saham pada knowledge based industries menunjukkan terjadinya missing value pada laporan keuangan yang oleh Stewart kemudian disebut sebagai intellectual capital. Intellectual capital merupakan faktor utama yang dapat meningkatkan nilai suatu perusahaan. 

Di Indonesia, fenomena intellectual capital mulai berkembang terutama setelah munculnya PSAK No. 19 (revisi 2000) tentang aktiva tidak berwujud. Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit sebagai intellectual capital, namun lebih kurang intellectual capital telah mendapat perhatian. Menurut PSAK No. 19, aktiva tidak berwujud adalah aktiva non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif. Walaupun begitu, menurut Abidin (2000) intellectual capital masih belum dikenal secara luas. Dalam banyak kasus, sampai dengan saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung menggunakan conventional based dalam membangun bisnisnya, sehingga produk yang dihasilkannya masih miskin kandungan teknologi. Disamping itu perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan perhatian lebih terhadap human capital, structural capital, dan customer capital. Padahal semua ini merupakan elemen pembangun intellectual capital perusahaan. Hal ini juga dibuktikan dengan minimnya informasi mengenai intellectual capital yang diperoleh penulis dari Indonesia.

Lebih lanjut Abidin (2000) menyatakan bahwa jika perusahaan-perusahaan tersebut mengacu pada perkembangan yang ada, yaitu manajemen yang berbasis pengetahuan, maka perusahaan-perusahaan di Indonesia akan dapat bersaing dengan menggunakan keunggulan kompetitif yang diperoleh melalui inovasi-inovasi kreatif yang dihasilkan oleh intellectual capital yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini akan mendorong terciptanya produk-produk yang semakin favourable di mata konsumen. Oleh karena itu intellectual capital telah menjadi aset yang sangat bernilai dalam dunia bisnis modern. Hal ini menimbulkan tantangan bagi para akuntan untuk mengidentifikasi, mengukur dan mengungkapkannya dalam laporan keuangan.

Terkait dengan hal tersebut, sampai saat ini belum ditemukan dan ditetapkan metode pengukuran intellectual capital. Misalnya, Pulic (1998) tidak mengukur secara langsung intellectual capital perusahaan, tetapi mengajukan suatu ukuran untuk menilai efisiensi dari nilai tambah sebagai hasil dari kemampuan intelektual perusahaan (Value Added Intellectual Coefficient – VAIC™). Komponen utama dari VAIC™ dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu physical capital (VACA – value added capital employed), human capital (VAHU – value added human capital), dan structural capital (STVA – structural capital value added) (Ulum, 2008).

Lebih lanjut menurut Pulic (1998), tujuan utama dalam ekonomi yang berbasis pengetahuan adalah untuk menciptakan value added. Sedangkan untuk dapat menciptakan value added dibutuhkan ukuran yang tepat tentang physical capital (yaitu dana-dana keuangan) dan intellectual potential (direpresentasikan oleh karyawan dengan segala potensi dan kemapuan yang melekat pada mereka). Lebih lanjut Pulic (1998) menyatakan bahwa intellectual ability (yang kemudian disebut dengan VAIC™) menunjukkan bagaimana kedua sumber daya tersebut (physical capital dan intellectual potential) telah secara efektif dimanfaatkan oleh perusahaan.

Penelitian ini berusaha mengukur pengaruh intellectual capital (dalam hal ini diproksikan dengan VAIC™) terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur. Pemilihan perusahaan manufaktur sebagai sampel dalam penelitian ini dikarenakan Dari 391 jumlah perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia, terdapat sekitar 142 perusahaan manufaktur atau sekitar 40% dari jumlah perusahaan yang listing di bursa efek (ICMD, 2007).

Pemilihan model VAIC™ sebagai proksi atas intellectual capital mengacu pada penelitian Ulum (2008) yang mengacu pada penelitian Firer dan William (2003); Chen et al. (2005); dan Tan et al. (2007). Kinerja keuangan yang digunakan adalah profitabilitas, ROA (Return On Total Asset) . Pemilihan indikator kinerja tersebut mengacu pada penelitian Ulum (2008) yang mengacu pada penelitian Chen et al. (2005), dan Firer dan William (2003).

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan (stakeholder) tentang pentingnya pengukuran intangible asset dalam hal ini intellectual capital dalam sebuah perusahaan. Tidak adanya informasi ini dalam laporan keuangan akan menyesatkan, karena dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Oleh karena itu laporan keuangan harus dapat mencerminkan adanya aktiva tidak berwujud dan besarnya nilai yang diakui. Adanya perbedaan yang besar antara nilai pasar dan nilai yang dilaporkan akan membuat laporan keuangan menjadi tidak berguna untuk pengambilan keputusan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengangkat judul ”HUBUNGAN INTELLECTUAL CAPITAL DAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN: STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI TAHUN 2002-2007”