Powered by Blogger.

Aku, Kita, Kalian

Katanya, harusnya hari ini aku banyak belajar atau apalah namanya sebagai persiapan untuk menghadapai tes/seleksi tertulis disalah satu instansi pemerintahan besok, tapi apa boleh buat aku tak bisa kuasai pikiranku, begitu liar dan kemana2. Dan alhasil, aku ada disini dihadapan kotak hitam yang menghubungkanku dengan dunia yang tak henti membuatku berdecak kagum.

Dan pada akhirnya ku bongkar rahasiaku…

Sore ini aku membaca tulisan hatimu dan aku tertegun, begitu romantisnya kalian dalam balutan persahabatan. Ingin rasanya aku ada diantara kalian, ada dalam perbincangan kalian, dalam ingatan kalian, bahkan inginnya namaku terjejak dalam tulisan2 yang dengan bangganya kalian pamerkan pada orang2 dan membuat orang lain merasa iri. Hari ini aku yang kau buat iri, ditambah dengan perasaan haru makin serba salah-lah aku. Disini adalah salahku, aku selalu membuang diriku bersama masalalu, perasaan bersalah dan belakangan berubah menjadi malu karena persoalan “angka2” itu. Yah, jujur aku selalu malu saat berhadapan dengan kalian. Terlebih untukmu yang jauh disana, selalu saja aku kau buat ciut. Pengertianmu terkadang membuatku tak mengerti. Sementara kau yang sekota denganku, tak adakah waktu untuk kita bertemu? Sekedar mengantar matahari menuju belahan bumi lainnya, seraya berpesan agar esok dia kembali lagi menyemangati kita walau sebenarnya kebersamaan senja itu yang memberi energi padaku. Terlalu lama hingga semuanya menjadi semakin biasa…

Kukatakan tentang diriku dulu, dalam diam aku sebenarnya kecewa karena kalian selalu membuat aku GR, merasuki pikiranku bahwa aku adalah bagian berarti dari kalian dan parahnya apa yang kalian lakukan itu membuat aku merasa berhak atas kalian, tapi ternyata apa? Kita tidak setara, aku selalu menjadi yang kesekian diantara kita, menjadi orang yang tidak tahu apa2 tentang kamu dan kamu, bahkan kalian tidak mengajakku bermimpi. Tapi, siapa aku? adakah hak untuk-ku menuntut? dan ke-EGOIS-an pun menguasaiku.

Maka menjauh sejauh-jauhnya adalah pilihanku… tapi kenangan dan kebaikan kalian terlalu romantis dalam benakku, walau ragaku terbentang jauh tapi kalian membajak imajinasiku, kalian kriminal. Terimakasih untuk sesekali mengingatku, membicarakanku, dan apalah yang ada akunya. Aku berharap tidak ada celah untuk kalian melupakanku, pun begitu denganku.

Semoga,
Aku semakin bijak menjalani hidup,
Kita bisa terus berbagi makna, dan
Kalian tetap romantis seperti sekarang
Aku selalu percaya, waktu akan menunjukkan yang sejati untukku

Someday, amin.

2 comments