Powered by Blogger.

[bantaeng] Pulang kampung

Kemarin itu, aku berada jauh dari daerah perkotaan Makassar karena ada urusan penting, urusan yang menyangkut masa depan (amin ya ALLAH). Sebenarnya menyangkut urusan itu cuman makan waktu sehari, tapi berhubung bertepatan dengan weekend jadilah seluruh waktu liburan aku habiskan disana, di Kab. Bantaeng. Daerah yang begitu asri dan menawan berada antara gunung dan pantai, cantiklah pokoknya. Apalagi disini banyak sanak family, ramai sangat!!!

Sesuatu yang sangat menyenangkan jika kita bisa menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga, terasa begitu hangat dengan canda, tawa dan antusiasme untuk saling menceritakan pengalaman hidup masing2 selama rentan waktu tak bertemu. Akan selalu ada pelajaran dari pengalaman hidup yang kita jalani, pun begitu dengan pengalaman orang lain yang kita dengarkan. Secara tak langsung kita saling mengingatkan.

Hari ke-dua tepatnya setelah urusanku itu selesai aku menuju daerah pedalaman Kab. Bantaeng, hmhmh… Banyorang namanya tapi mulai sekarang aku menyebutnya sebagai “The Funky Cihuy’s Mountain”, daerah ini adalah pemukiman penduduk yang terletak di pegunungan. Hawanya sangat dingin, bahkan pada siang hari sekalipun terlihat kontras dengan matahari yang silau. Lingkungannya masih sangat natural, dengan jejeran pohon2 besar disetiap rumah penduduk. Pun begitu dengan cara bertutur, cara berpakaian dan gaya hidup belum begitu terkontaminasi oleh kehidupan orang2 Metro. Mungkin juga ini disebabkan karena ada aturan jam malam untuk beberapa keluarga, dimana disaat2 tertentu dan terus-menerus TV tidak boleh dinyalakan. Alhasil pikiran mereka belum kemana2, pun begitu dengan budaya latah. Belum begitu akut.

Sesaat sebelum azan magrib berkumandang, tak ada alasan untuk tak berdiri, berwudhu, mengenakan mukena kemudian berjalan kearah masjid yang tak begitu jauh dari rumah. Ini tradisi keluargaku disana pun begitu dengan penduduk sekitar, untuk dua waktu Shalat; Maghrib dan Subuh, dua waktu pengapit aktivitas duniawi untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Mayoritas penduduk disini, adalah pedangang, petani cengkeh dan petani coklat. Mereka bekerja selepas shalat Subuh dan kembali kerumah menjelang Maghrib. Filosofinya, saat shalat subuh mereka berdoa bersama agar diberi kekuatan untuk mencari nafkah dan melancarkan nafkah dan pada shalat Maghrib mereka berdoa bersama agar apa yang mereka dapatkan pada hari ini menjadi berkah untuk mereka dan anak keturunannya. Tiga waktu shalat yang lainnya, di masjid tak begitu ramai.

Kembali kemesjid, begitulah perasaanku waktu itu. Rindu!!! Aku ingat semasa aku sebaya sepu2ku, kira2 usia anak 5SD–3SMP. Secara ragawi, aku begitu dekat dengan masjid hidupku juga lebih teratur. Dipagi hari aku sekolah, setelah pulang sekolah harus tidur kemudian main sebentar, begitu Maghrib datang kami harus kemasjid untuk shalat kemudian belajar mengaji dan pulang setelah shalat Isya. Sekarang? yah paling di Mushallah itupun benar2 singgah untuk Shalat, tidak juga setiap hari. Aku rindu masjid yang membesarkanku, yang mengajarkanku mengenal huruf arab kemudian bisa membacanya, yang menanamkan nilai2 religi dalam diriku. Ya ALLAH, mudah2han jauhnya aku dari Masjid tak membenarkan bahwa Kau Jauh dariku. Amin.

Perjalanan kali ini benar2 membuatku banyak mengingat masa kecilku, yah namanya kampung selalu menyimpan kenangan dan rasa rindu untuk kembali. Satu yang pasti, walau aku lahir dan besar di Makassar sementara keluargaku mayoritas keturunan Je’neponto, banyak cita2/harapan yang kugantung di tempat ini. Kemanapun takdir membentangkan jalanku, InsyaALLAH Bantaeng menjadi tempatku untuk kembali pulang.

2 comments

  1. Bantaeng, tetanggaku. Sebuah kampung yang lebih hangat dibanding kampungku sendiri, menurutku.

    ReplyDelete
  2. hahahhaha
    sama, kampungku jeneponto tp sa terpesona sm bantaeng....

    brarti kita kl bukan org bulukumba yaaah sama sperti saya orang jeneponto. dua kabupaten yg mengapit bantaeng

    ReplyDelete