Powered by Blogger.

The Great Queen Seon Deok


Nama kerajaan itu, Shila terletak si salah satu pojok Korea berabad2 lalu. Namanya kerajaan, otomatis wilayah itu dipimpin oleh seorang Raja dan keturunan-keturunannya. Adalah Deogman seorang tuan puteri, keturunan langsung dari sang raja ikut andil dalam mengambil kebijakan2 dalam kerajaaan tersebut.

Kemarin, entah episod yang keberapa serial ini aku kembali dibuat tercengang oleh ide2 kreatip industri perfilm-an orang2 korea, benar2 kita dibuat ikut berfikir celah2 dari problema yang ada dalam kerajaan itu.

Kondisinya memang sedang sulit karena tanah wilayah kerajaan itu mengalami paceklik, gagal panen sehingga banyak petani yang tak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Sementara dipasaran pun persedian beras tiba2 berkurang, bahkan salah satu sign menunjukkan seorang rakyat jelata yang tega membunuh seorang penjual beras yang tak ingin menjual berasnya ke rakyat tersebut padahal rakyat itu sudah memohon2 dengan alasan bahwa anaknya sedang dalam kondisi kelaparan. Saat dia diadili oleh prajurit kerajaan, dengan mengiba dia meminta untuk dihabisi saja sebagai hukuman atas perbuatannya toh kalau tidak mati ditangan prajurit dia pun akan mati karena kelaparan pun begitu dengan anak2nya. Kerusuhan itu akhirnya terdengar ditelinga tuan putri Deogman, alhasil beliau berinisiatif turun kepasar menyelediki penyebab situasi pasar yang tak stabil itu.

Dan ternyata, setelah tuan puteri dan pengawal2nya menyamar sebagai rakyat jelata ditemukan bahwa berkurangnya stok beras dipasaran itu bukan karena persediaan beras yang berkurang, tapi karena para bangsawan2 yang ada dikeraajaan itu berlomba2 menimbun beras, dan mereka sanggup membayar berkali2 lipat untuk membeli beras yang ada di pasaran.

Dengan kenyataan yang ada, tuan puteri berfikir keras apa alasan para bangsawan2 itu menimbun beras, apakah murni untuk meraup keuntungan dengan menjualnya lebih mahal kemudian hari? Tapi dari keterangan orang2 kerajaan, pada akhirnya para bangsawanpun akan berlomba2 untuk memberikan sedekahnya secara cuma-cuma. Lantas timbal balik apa yang di peroleh kaum bangsawan?

Dan berkonsultasilah tuan puteri pada Michel –-rivalnya-- (pejabat stempel istana) orang paling pintar di film ini hanya saja posisinya sebagai pemeran antagonis jadi tidak terlihat cerdas, tapi LICIK. Dan dari beliau puteri tidak mendapatkan jawaban langsung selain pertanyaan2 yang memberikan puteri pengarahan, untuk dia simpulkan lebih lanjut. Untung tuan putrinya tak kalah cerdas.

Ternyata, tujuan lain dari penimbunan beras itu tidak semata untuk memperoleh laba berupa kepingan besi yang berlimpah rua. Untuk kasus penimbunan ini, saat kondisi kerajaan dilanda paceklik otomatis tidak semua tanah rakyat menghasilkan beras, kondisi ini memungkinkan untuk adanya pemilik tanah dan penyewa tanah. Ketika kaum bangsawan dalam hal ini mereka yang memiliki penghasilan tinggi menimbun beras dengan menawarkan harga yang lebih tinggi pada pemilik beras maka dengan sendirinya stok beras yang ada dipasaran berkurang, walaupun ada akan dijual berkali2 lipat dari biasanya. Dengan demikian rakyat pemilik tanah tandus akan rela menggadaikan tanahnya kepada bangsawan untuk ditukarkan dengan beras, untuk yang tak memiliki tanah rela menjadi budak, jadi bisa dibilang kondisi ini menguntungkan bangsawan untuk memperoleh tanah dan budak secara Cuma2, mereka yang selama ini menggarap tanah mereka sendiri akhirnya akan menyewa tanah itu juga untuk mereka garap karena kepemilikan sudah berpindah. Dan setelah kaum bangsawan mendapatkan apa yang mereka inginkan merekapun berlomba2 untuk membagikan beras itu (sedekah) pada rakyat secara Cuma2 untuk memperoleh simpati rakyat.

Seruuu kannn??? Hahahha… pastinya, kita akan diajak untuk berfikir. Tadinya aku juga berfikir tindakan penimbunan ini murni untuk memperoleh keuntungan penjualan yang lebih besar, tapi lebih dahsyat rupanya.

Melihat ketidak-adailan ini sang puteri murka, tapi tak bisa berbuat apa2 toh tak ada aturan yang melarang untuk seseorang membelanjakan uangnya sendiri. Pun ini adalah kejadian yang terus berulang setiap tahunnya, sudah berakar istilahnya. Dan menurut pengawal puteri, jika ingin membuat undang2 barupun akan mendapat penolakan keras dari para bangsawan2 penimbun yang notabenenya adalah pejabat2 istana.

Puteri yang di besarkan didaerah pusat perdagangan antarnegara(soal ini panjang ceritanya) makanya mudah saja untuk dia menyelesaikan problema ini, tapi sebelumnya dia meminta ijin dari raja untuk memperoleh kebijakan penuh.

Apa yang dilakukan puteri? Dia membuka lumbung istana, menyuplai persediaan beras kepasaran. Yang terjadi stok beras semakin banyak, awalnya kaum bangsawan belum sadar sepenuhnya mereka tetap saja membeli beras dengan harga yang tinggi tapi melihat stok di pasaran tetap saja melimpah rua mereka pun tersadar lumbung istana dibuka dan persediaan istana itu diperdagangkan oleh tuan puteri dengan harga yang wajar.

Melihat harga beras dipasaran mulai stabil, kaum bangsawan mulai panik takut kalau mereka akan mendapat kerugian yang melimpah. Soalnya beras yang mereka timbun itu mereka peroleh dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga normalnya. Mereka pun berinisiatif menjual beras2 mereka kembali tapi penjual beras hanya bisa membeli dengan separuh harga karena stok terlalu banyak, alih2 dapat tanah dan budak gratisan yang ada dapat rugi berlipat2.

Tapi tidak semulus itu juga sih, okelah harga di pasaran stabil tapi putri mendapat perlawanan halus dari pejabat2 dengan dalih puteri telah memperjual belikan barang persediaan istana meraup keuntungan dari rakyat, dan tuduhan lain yang biasalah LICIK… hahahha

Nanti deh aku ceritain lagi kalau ada yang keren2 dari serial ini. Masalahnya mungkin akan panjang, tapi yang penting untuk digaris bawahi dari postingan ini adalah NEGARA itu seharusnya punya solusi yang terbaik yang tidak merugikan rakyat miskin jika saja bijak mengambil jalan keluar yang membahagiakan semua tidak untuk kepentingan orang perorang saja karena akan selalu saja ada orang yang serakah. Sama saja seperti indonesia kan?!

No comments