Powered by Blogger.

“Ibu, aku ingin merubah bintang...” (Es Ito – Negara Kelima)


Negara kelima, buku ini sebenarnya telah lama terbit tepatnya pada Oktober, 2005. Tapi, saya pribadi mendapatkan buku ini kira2 3/4bulan yang lalu (2009) dalam bentuk file exe (ebook), dari seorang teman yang memang sangat sering membaca buku2 “keras”. Sayangnya buku ini sudah tak beredar di pasaran, mau tidak mau saya harus membacanya dengan duduk berjam-jam di depan leptop. Ahh, selalu saja saya tertinggal hunting buku kereeeen!

Adalah ES Ito, pengarang dari buku semi nasionalis ini *subjektif* seseorang yang saya tak tahu apa2 tentangnya selain tahun kelahirannya pada 1981. Pun itu saya temukan di halaman biografi dibuku Negara Kelima tersebut, ditambah dengan keterangan bahwa dia adalah keturunan dari seorang ibu Petani dan Ayah Pedagang di daerah Bukit Barisan. Hmhm... mirip2 dengan tokoh central dalam novelnya sendiri, Timur Mangkuto - seorang polisi idealis. Yang pasti Es Ito adalah nama samaran seorang aktivis kampus UI yang sedari dulu memang sering mencurahkan pemikiran dan kegelisahan2nya lewat mading BOE (Badan Otonomi Economica) FE-UI. Mantappp deeh untuk karya2nya, semoga dalam beberapa waktu kedepan saya bisa menyelami pemikiran2nya lagi lewat buku Rahasia Medee.

Kembali ke Negara Kelimaa...

“Ibu, aku ingin merubah bintang...”

Sedaaap deh quote pembukanya, mampu mengurangi underestimate orang2 yang mungkin tidak begitu tertarik dengan sampulnya yang tak eyecatching, cenderung gelap dengan dominasi warna coklat tua. Ditambah lagi nama pengarangnya yang belum begitu komersil. Hihi..! Buku ini menjanjikan bakti dan mimpi, itu kesan awal yang saya tangkap.

Apa yang kalian tahu tentang “masa lampau” dari negri kita ini, Indonesia? Tentang perjuangan dan semangatnya, atau mungkin tentang pionir2nya, ataauu tentang sejarah ribuan tahun silam?! Yang sengaja di timbun untuk meneggakan hegemoni asing bahwa kita kaum selatan adalah kaum yang kesekian dalam peradaban. Bisa jadi pemahaman saya dan kalian sama saja, terbatas pada lembaran2 buku sejarah saat sekolah dulu, isi atlas dan sedikit tentang isi museum2 yang mulai terlupakan.

Buku ini akan banyak membahas tentang sejarah, mulai dari tenggelamnya peradaban awal (atlantis) ribuan tahun lalu, kemudian perjalanan sisa2 peradaban ke arah utara, berdirinya peradaban di utara, sampai pada keturunan2 yang melakukan perjalanan ke posisi atlantis semula, di Nusantara. Ito pun banyak bercerita tentang sejarah Kerajaan2 tertua di Indonesia, dan pastinya sedikit Narsis tentang masyarakat minang. Hihi, tapi terpuaskan! Setidaknya saya sedikit tahu bagaimana tata adat masyarakat, hukum dan asal muasal sistem matrialkal di daerah minang, tentang integrasi ide/gagasan dan integrasi wilayah... oh iyya tentang PDRI juga banyak dibahas, pemerintahan darurat di hutan belantara Sumatera untuk mempertahankan kesatuan RI dibawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara setelah tertangkapnya Soekarno-Hatta di Jogjakarta pada tahun 1948. Yang kemudian terlupakan begitu saja. Aaahhh, pokoknya ada banyak yang terkuak, sejarah telah dipermainkan untuk kepentingan sekelompok orang.

Tidak hanya sejarah, buku ini juga banyak menyinggung tentang idealisme, egoisme, keserakahan, intrik, pergaulan bebas, kepercayaan, semangat nasionalisme, pengabdian, cinta dan cita2.

Tentang alur ceritanya, yang dimulai dengan pembunuhan berantai terus dikaitkan dengan pencarian serat ilmu yang konon katanya adalah peninggalan peradaban atlantis yang memanfaatkan rasa nasionalis buta dari generasi muda yang gelisah. Hihi... banyak yang tak terduga, tapi tentang ending dimana Timur Mangkuto akhirnya akan bersanding dengan partner kerjanya Eva Duana sudah ketebak.

Buku ini memang buku lama, tapi pembahasannya tak lekang oleh zaman. Buku ini adalah mulut kegelisahan dari penulisnya yang mencoba berteriak “Biar semua dunia tahu dan mengerti bahwa Nusantara ini bukan sekedar serpihan bekas kolonial belanda! Nusantara kita mungkin lebih tua dari negeri utara. Hegemoni utara yang membuat negeri2 selatan menjadi kerdil dan lupa akan sejarah panjangnya sendiri” (Paragraf terakhir dalam buku Negara Kelima). Buku ini juga mencoba menarik sisi2 idealisme kita dengan mencoba membangun kembali harapan2 tentang indonesia yang lebih baik. Sangat sangat sangat Layak untuk dibaca dan di koleksi. 


2 comments

  1. aq sudah baca novel ini...benar2 menarik....aq sudah punya cetakan keduanya, sampul depannya lebih menarik dari cetakan pertama,,,,,,!!!

    ReplyDelete
  2. wah, saya malah gak nemu2 fisik buku ini.... mau memiliki rasanya. saya agak2 ngefans sama penulisnya^^

    ReplyDelete