Powered by Blogger.

Rapat Kerja IMA tahun 2010-2011

Malam minggu yang indah, begitu saya menyebutnya. Malam yang katanya panjang itu saya habiskan bersama sahabat2, organisasi dan teman2 kebanggaan saya dimasa kuliah dulu. Walau begitu saya memilih untuk banyak diam, hanya menikmati alur, perbincangan dan perdebatan2 yang ada, sesekali saya tertawa dan mengerutkan dahi… aih, suasana seperti ini yang selalu saya rindukan disela2 kesibukan saya di dunia kerja, suasana kemahasiswaan; perbincangan alot menjemput pagi ditemani kopi hitam dan pisang goreng.

Malam minggu kali ini, saya (kami) mengikuti rapat kerja organisasi interen yang dulu saat mahasiswa aktif saya (kami) geluti, dan sedikit banyak mempengaruhi pola pikir dan komunikasi saya saat ini. Saya selalu bangga dengan satu2nya organisasi yang banyak melibatkan hati saya ini, belum ada hal special yang pernah saya berikan, walau begitu saya selalu berharap pengabdian saya selama ini cukup untuk membayar apa yang telah saya dapatkan; pelajaran hidup, sahabat2, kakak2, adik2 dan pengalaman. Sangat egois memang, tapi realistis. Itulah saya…!

Rapat kerja menandakan pergantian generasi, yang ada dihadapan saya adalah adik2 yang mencoba meyakinkan kami para seniornya bahwa mereka siap mengemban tugas untuk tetap mencetak kader2 berkualitas di bawah bendera Ungu, IKATAN MAHASISWA AKUNTANSI. Banyak kepala, banyak persepsi, banyak asumsi, dan banyak tendensi itulah sebabnya perbincangan kian malam kian alot, tidak jelas kemana arahnya. Tapi wajarlah, proses pembelajaran untuk mereka yang masih baru pun begitu dengan kami yang sudah tua ini *sok mu chaam* mereka harus tahu kesulitan meyakinkan kami dalam semalam ini tak seberapa rumitnya di banding membawa setahun kepengurusan kedepannya, mereka boleh kecewa tapi tak menjadikannya alasan untuk berputus asa. Dan untuk kami, mungkin perlu belajar bagaimana menjadi sosok dewasa yang mencoba merasakan untuk kemudian mengerti bukan mengendalikan. Atas nama KOMITMEN.

Saya pernah ada di posisi mereka, di pojok dan merasa terpojok. Semua pertanyaan dari keluarga/forum dijawab dengan sedefensif mungkin, hahaha… masa lalu. Strategi bertahan, dan itulah yang juga menjadi tradisi turun temurun di moment2 seperti ini. Dulu saya mungkin jauh lebih picik, merasa apa yang saya paparkan tak ada gunanya, semua penjelasan saya mental dan kian membuat saya merasa tak dipercaya untuk mengemban tugas yang rencananya baru akan saya jalani setahun kedepan. Saya tipe pekerja, bukan pembicara. Dan untuk kondisi tertentu dialektika itu bullshit di kepala saya. Itulah alasan kenapa saya memilih banyak diam dan banyak mengamati saat berada dalam forum2, bicara seperlunya saja. Dan malam ini, dalam diam saya memandang wajah adik2 saya lekat2, satu persatu. Meraka adalah wajah IMA setahun kedepan dan miris hati saya, tak ada yang bisa saya kenali… inilah bukti ketidakpedulian saya. Wajarkah saya menuntut lebih?!

Dan beberapa jam sebelum moment indah itu, saya berada jauh dari pusat kota Makassar bersama sahabat2 saya. Keberadaan kami disana untuk turut berbahagia atas perubahan status salah satu sahabat kami MUH. HIDAYAT, from single to married – from man to husband. Kembali ALLAH membuka misteri jodoh hambanya. *berdoa dalam hati* AMIN ya ALLAH

Seharian hidup dijalanan, mengembalikan cita2 dan cinta saya yang sempat terlupakan. Hmmm, Malam minggu yang indah, begitu saya menyebutnya.

happy sandey all!

No comments