Powered by Blogger.

Saya Bukan Fotografer


Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman semua yang menganggap saya jago di Photography…

Padahal sebenarnya tidak, SAMASEKALI TIDAK.

Bisa dibilang saya baru pertama kali benar2 pegang kamera DSLR itu kira-kira pertengahan bulan Juli lalu, itupun setelah saya memilikinya sendiri. sebelumnya saya anggap tidak sama sekali, ada sih beberapa teman yang punya kamera DSLR tapi sumpah saya sangat takut memegangnya. Di body kamera terlalu banyak tombol yang bikin saya ngeri jika tiba2 akan terjadi apa-apa pada foto2 yang ada kalau saya tak sengaja menekan salah satu tombol2 itu. Belum lagi bobot kamera yang nyaris bikin tangan saya keseleo, kamera SLR pertama yang saya pegang ya itu Nikon D300 dengan lensa yang panjangnya entah berapa mm plus blits eksternal diatasnya, beraaaat booo!!!

Dulu-dulunya sih saya asli dibuat ngiler dan mupeng setengah mati ingin punya kamera DSLR, alasannya simple… kebanyakan foto2 yang dihasilkan dari kamera besar ini hasilnya pasti “ bernyawa”. Saya ingin setiap apa yang terjadi dalam hidup saya, bisa saya bekukan dan kemudian menyimpannya di suatu tempat yang ketika saya ingin mengenangnya kembali tetap ada “nyawa” disana. Hampir setahun saya memendam rasa, dan akhirnya Jodoh mempertemukan kami di pertengahan bulan Juli 2010. Saya dan Nikon D3000 resmi menjadi sepasang kekasih, kekasih yang tak begitu mewah tapi istimewa. Kekasih saya ini kelas terbawah dalam kategori SLR, tapi saya sayang… dia adalah bukti mimpi, ambisi, keterbatasan dan jerih payah saya. Assseeeekkk 

Dan tahukah kalian apa yang terjadi setelah beberapa jam, hari dan minggu kemudian? Saya nyaris dibuat putus asa, ada rasa menyesal telah membeli dan rasa2 negatif lainnya yang menandakan antara saya dan kekasih/kamera saya itu tak ada kecocokan sama sekali. Ibaratnya orang pacaran, musti ada proses penjajakan… saya musti dalam posisi aktif mencari tahu dan mempelajari apa2 tentang kamera saya ini agar supaya kekasih saya ini memberikan feedback berupa foto2 bernyawa yang saya idam2kan itu. Terlalu banyak tombol, terlalu banyak mode dan terlalu banyak aturan, Allahuakbar *tepok jidat*

Perlahan dan pasti saya mulai banyak belajar dari orang2 yang tersebar di seantero jagat maya, mulai dari orang yang benar2 pemula seperti saya, orang2 amatir sampai yang professional. Saya banyak bergabung di komunitas2 yang membicarakan tentang kamera SLR dan bagaimana untuk menggunakannya. Akhh, saya tertolong… dengan semuanya itu, dan perlahan tapi pasti saya mulai bisa merasa puas dengan hasil2 tangkapan kekasih saya.

Kuncinya hanyalah banyak membaca dan mencoba, dua hal yang memang sangat2 saya tanamkan dalam pikiran saya. Oleh karena itu untuk saat ini saya tidak akan tergoda dengan bujukan orang2 untuk meng-Upgrade kamera ataukah lensa saya, saya pake yang ada saja dulu yang paling penting sekarang ini adalah bagaimana saya meng-upgrade feel dan tehnik fotografi saya.

1 comment

  1. setuju dengan banyak membaca dan mencoba.
    salam kenal

    ReplyDelete