Powered by Blogger.

The Boys In The Stripped Pyjamas

Film ini berlatar pada peristiwa holocaust, peristiwa pembaintaian melalui pembakaran besar-besaran di jerman pada tahun 1938 dibawah kekuasaan Adolf Hitler dan pasukannya. Tentang peristiwa ini masih simpang siur, apakah fakta ataukah hanya rekayasa bangsa yahudi untuk mencari simpati publik. Yang jelas pada film ini perhatian saya banyak pada hubungan persahabatan antara Smhuel dan Bruno, persahabatan terlarang kata Bruno. Akh, maniss…

Adalah Bruno anak dari komandan tentara yang sedang berkuasa pada saat itu. Bruno adalah anak yang suka berpetualang dan sangat kritis menurut saya, di Berlin dia punya banyak teman bermain dan ber-imajinasi tapi karena harus ikut sang ayah berpindah tugas dia pun “terdampar” di tempat sepi tanpa seorangpun yang berkeliaran diluar rumah. Hanya dia dan Gretel;kakaknya, anak-anak yang ada dirumah itu. Selebihnya adalah tentara-tentara kaku, anjing penjaga dan orang2 yang berperilaku aneh.

Wilayah bermain SAH untuk Bruno adalah sekitar pekarangan depan rumah dan dalam rumah, hanya ayunan pada ranting pohonlah yang sedikit menghiburnya, hasil ciptaannya sendiri ditengah kejenuhan yang perlahan-lahan mematikan imajinasinya. Tak ada teman sekolah, yang ada hanya guru privat yang seminggu dua kali berkunjung. Itupun hanya memberikan pelajaran sejarah yang sifatnya mendoktrin, alhasil dalam beberapa minggu kakak Bruno menjadi semakin nasionalis dan fanatik.

Dan akhirnya kesepian Bruno memuncak, larangan memang kadangkala membuat seorang anak menjadi semakin penasaran. Pintu terlarang yang setiap hari ditatapi oleh Bruno dari atas ayunannya akhirnya dilaluinya juga, entah dari mana dia mendapat keberanian untuk melewati batas SAH yang ditentukan oleh ayah dan ibunya. Dan dia berlarian tersenyum senang layaknya pemenang, dia terus berlari dalam hutan belantara seperti burung yang tak perduli arah dan tak takut tersesat. Hanya berlari menikmati kebebasan!

Akhir dari pelariannya, Bruno menemukan sebuah kamp yang dihuni oleh ribuan bangsa Yahudi. Yang tak lain adalah tawanan ayahnya sendiri, di kamp itulah Bruno menemukan seorang teman yah teman sebaya yang sama-sama berumur delapan tahun. Tapi, anak itu terlihat aneh dimata Bruno karena setiap hari menggunakan Piama bernomor, bukan hanya Smhuel tapi orang2 yang ada dibalik pagar kawat beraliran listrik itu. Dia mengira piama dan angka pada pakaian itu adalah bagian dari sebuah permainan. Setiap hari Bruno datang mengunujngi smhuel, membawa makanan dan mainan, mereka terus saja berbincang bercerita tentang keluarga masing-masing, seorang smhuel akhirnya membuat dia betah di daerah terpencil itu. Semakin hari mereka semakin akrab, dilain kondisi Bruno-pun kian mendapat doktrinasi untuk membenci kaum yahudi. “tak ada yang baik diantara mereka, dan jika ada yang kau temukan berhati baik berarti kau adalah seorang petualang sejati” kata gurunya.

Beberapa hari Bruno tak tampak mengunungi Smhuel, sepertinya dia mulai mengalami dilematis antara persahabatan dan keyakinan yang terus saja di tanamkan dikepalanya. Hingga pada suatu hari, Bruno menemukan Smhuel sedang membersihkan gelas di rumahnya. Bruno-pun menyampaikan kepada Smhuel bahwasanya mereka tidak seharusnya berteman. Dan smhuel hanya mengangguk, tanpa ada sedikitpun rasa kecewa dimatanya. Bruno menawarkan kue pada smhuel seperti biasanya, dan smhuel menerimanya dengan senang hati. Dia memakannya dengan sangat lahap dan kelaparan, akh.. meliat Smhuel makan selalu mencabik-cabik perasaan saya. Walau saya jelas tahu, itu hanya akting!

Dan tiba-tiba salah seorang tentara mendapati mereka berbincang, tentara itu semakin murka melihat Smhuel memakan kue yang akan disajikan untuk tamu-tamu agung. Dengan Keras sang tentara bertanya pada Smhuel, tentang apa yang terjadi. “saya tidak mencuri, saya mendapatkan kue ini dari Bruno. Kita berteman” kata Smhuel dengan nada yang terbata-bata. Kemudian tentara itu menanyakan kembali pada Bruno, apa seperti itu kejadiannya? Dan Bruno dengan ketakutan menjawab “saya tak memberinya kue, saya masuk saat dia tengah mengunyah “saya tidak pernah mengenalnya sebelum ini dalam hidup saya”.

Bruno naik ke kamarnya dan menangis, air matanya seolah mempertegas penyesalannya. Dia kecewa pada dirinya, tak lama dia kembali menemui Smhuel. Tapi Smhuel sudah tak disana, ada Maria-pembantunya yang melanjutkan pekerjaan Smhuel. Bruno semakin menyesal, dan takut terjadi sesuatu pada sahabantnya itu dia pun menyusul Smhuel ke kamp, tapi hasilnya nihil. Berhari-hari Bruno ke camp tempat mereka menghabiskan waktu bersama, tapi Smhuel tak kunjung ada.

Hingga pada suatu hari Bruno menemukan Smhuel ditempatnya seperti biasa, dia tertunduk. Begitu menyadari kehadiran Bruno, perlahan Smhuel mengangkat wajahnya, dan matanya memar. Akh, sakit melihat seorang anak kecil yang terlihat teraniaya seperti itu. Saat itulah Bruno berjanji pada dirinya dan pada Smhuel untuk tidak mengecewakan sahabatnya lagi, dan janji inilah yang membuat ending film ini terasa menyakitkan tapi disisi lain sangatlah tulus. Yah, hanya kepolosan yang benar2 dapat menunjukkan kesejatian.
Mau lihat endingnya seperti apa? Silahkan di nonton filimnya… kalau mengkur dari selera saya, film ini dapat rating 4 bintang. Sangat mendidik, terutama bagi orang tua untuk tidak pernah mengekang anaknya.

4 comments

  1. review mantap...kayak baca cinemags ane..hehe

    ReplyDelete
  2. thanks agus, nanti kalo mauka buat award... dirimu adalah pengunjung dan komentator terbaik ^^V

    ReplyDelete
  3. film yg sangat bagus,ending yg sangat dramatis,merinding,membuat berpikir betapa sia2nya perang dan kebencian, btw udah liat august rush belum syam?rekomen d

    ReplyDelete
  4. tante fem kah? patton?
    august rush sudah nonton, kerennn... cuman belum sempat bikin reviewnya. kalo saya pribadi sukaaa sekali dengan film2 yang karakter utamanya itu tentang anak2.

    belajar ketulusan dari mereka :D

    ReplyDelete