Powered by Blogger.

Habibie & Ainun


My rating: 3 of 5 stars

Well, akhirnya saya telah menyelesaikan bacaan saya yang tergolong mengharu biru ini. Buku Ainun dan Habibie, yang menceritakan tentang pertemuan Bapak BJ. Habibie dengan Alm. Ibu Ainun kembali sebagai orang dewasa sampai pada akhirnya mereka dipisahkan oleh Maut, Alm. Ibu Ainun meninggal dunia di Jerman.

Beberapa bagian mungkin akan sangat membosankan, mengingat antara judul dan bagian tersebut tidak begitu sinkron. Tapi bagi saya justru hebat, yah saya bisa banyak tahu tentang isi kepala tokoh favorit saya itu. Pokoknya saya ngeFansssss… dan setelah saya dibikin terpesona, pun kembali saya dibikin menangis sejadi-jadinya. Entahlah, pesan bahwa Bapak Habibie benar-benar mencintai Alm. Ibu Ainun benar-benar sampai kedalam sanubari saya. Bahwa saya benar-benar merasakan kehilangan yang dirasakan oleh Bapak Habibie.

Banyak hal-hal penting yang dipaparkan dalam buku ini, khususnya bagian tengah (bagian tidak sinkron tadi) yang menceritakan tentang perjuangan Bpk. Habibie yang didampingi dengan setia dan bijak oleh Alm. Ibu Ainun dalam membangun Bangsa, silahkan dibaca sendiri. Kali ini saya hanya ingin menulis kembali kata-kata pamungkas dalam buku ini, yah menurut versi saya ini adalah magnetnya…

Testimoni Alm. Ibu Ainun dalam buku A. Makmur, Setengah Abad Burhanuddin Jusuf Habibie: Hal 388 yang disalin kembali oleh Bapak Habibie dalam bukunya Habibie dan Ainun hal.64, sbb:

“…..memang, tuntutannya banyak. Terhadap isteri. Terhadap anak. Terhadap anak buanya. Ia ingin mencapai setinggi-tingginya. Dia memberikan segalanya dan menunut segalanya. Dia member dan menuntut secara mutlak. Begitulah sifatnya. Itulah yang membuat hidup dengannya tidak mudah”

“Tetapi ia juga member secara mutlak, semua yang ada padanya diberikannya pada anak isterinya: impian-impiannya,kepandaiannya, semangatnya, marahnya, kekecewaannya, perhatiannya, kesehatannya, pengorbanannya. Di dalam segala kehebatannya ia sangat peka: perhatian kami, pengertian kami, dukungan kami, baginya segala-galanya. Itulah yang membuat semuanya ada gunanya.”

Dihalaman lain, kembali Bapak Habibie menuliskan testimony Alm. Ibu Ainun yang juga diambil dari buku A.Makmur, Setengah Abad Burhanuddin Jusuf Habibie, sbb:

“……kami berdua suami isteri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati.”

Lantas tentang Alm. Ibu Ainun… Tak ada pujian yang terlalu bertele-tele yang dituliskan oleh Bpk. Habibie untuk Alm. Istrinya tercinta, selain ucapan terimakasih pada Gusti Allah untuk pertemuan yang telah menyatukan mereka. Manunggal jiwa, batin dan roh.

“48 Tahun 10 Hari, Allah ENGKAU telah menitip cinta abadi yang menjadikan kami Manunggal. Manunggal yang dipatri oleh cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi” Doa terakhir yang dibisikkan pada telinga jasad Alm. Ibu Ainun. Habibie dan Ainun: Hal.296.

“Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan Saya untuk Ainun dan Ainun untuk Saya. Terima kasih Allah, Engkau telam mempertemukan Saya dengan Ainun dan Ainun dengan Saya” Habibie dan Ainun: Hal.320.

Begitu luarbiasanya hubungan diantara dua insan yang saling memuji hingga akhir hayatnya, semoga Allah senantiasa menjaga dan memberikan cinta pada mereka dan keluarga mereka yang tak putus-putus. Mereka adalah inspirasi untuk kita-kita yang baru akan menjalin hubungan serius dalam ikatan pernikahan, dan pada tulisan ini saya pun ingin menitip doa semoga Allah segera mempertemukan saya dengan Habibie-ku. Bukan Habibie yang sempurna seperti satu kesatuan diri beliau, tapi cukuplah menjadi Habibie yang sederhana, setia dan amanah. Amin.
“Jika sampai waktunya
Tugas kami di alam dunia dan alam baru selesai
Tempatkanlah kami Manunggal di sisiMu
Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna dan abadi
Dalam raga yang abadi,dibangun
Ainun manunggal dengan saya sesuai kehendakMu dialam baru sepanjang masa
Jiwa, roh, batin, “raga” dan nurani kami, abadi sampai akhirat”
Doa Penutup, Ainun dan Habibie: Hal.323

View all my reviews

5 comments

  1. terharu teringat org tua almarhum yg sangat beruntung mempunyai cinta spt BJ Habibie dan Ainun..sesuatu yg sangat langka ditemukan dijaman skrg..tks syam

    ReplyDelete
  2. hebat ya, padahal kalau difikir-fikir apa yang membuat mereka saling bertahan sampai tua (masih mesra), padahal dengan kesibukan masing-masing..

    sungguh hal yang jarang ditemui jaman sekarang,

    btw, terinspirasi kah dengan kisah mereka?

    ReplyDelete
  3. yup... sangat langka dijaman sekarang.

    kalau ditanya terinspirasi, pastinya ia. semoga kita semua dipertemukan dengan jodoh yang terbaik, amiinn...

    ReplyDelete
  4. tapi, daripada dibilang langka, lebih tepat dikatakan TIDAK ADA LAGI, kalaupun ada, pasti ada maksud ini itu, bahhh..!

    btw, ketemuan pak Habibi nih yeee..

    ReplyDelete
  5. @yudi: grrr.... masih ada loh yang cintanya seperti mereka, hanya tidak terekspose saja. sungguh!

    ReplyDelete