Powered by Blogger.

Rich Dad, Poor Dad


Rich Dad, Poor Dad by Robert T. Kiyosaki
My rating: 2 of 5 stars

Pertengahan bulan Januari kemarin saya sempat membaca sebuah buku terjemahan karya Robert T koyasaki, Rich Dad Poor Dad. Tentang buku ini sebenarnya telah lama di rekomendasikan oleh beberapa kawan, hanya saja saya belum begitu tertarik dengan buku genre seperti ini. Awalnya saya kira buku ini banyak memberikan advice untuk menuju sukses secara cepat dan tepat, tapi saya salah. Setelah saya membacanya, barulah saya sedikit mengerti bahwa Buku ini lebih menjadi pedoman dalam mengelola keuangan, kurang lebih seperti itu. Walaupun pembahasan yang diberikan tidak merinci, tapi sedikit banyak membuka pemahaman kita untuk bagaimana memperlakukan uang.

Saya tak menitik beratkan pada bagaimana uang itu masuk, kemudian di olah menjadi sesuatu yang juga menghasilkan (perputaran uang), yang paling menyita pikiran saya adalah bagaimana uang menjadi sesuatu momok yang sangat diinginkan dan juga menjadi hal yang sangat menakutkan bagi seorang pekerja seperti saya pada umumnya. Inilah perangkap uang.

Ada sebagian orang merasa takut andai saja saya tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki penghasilan pasti yang datang secara rutin, takut di cibir, takut tidak diterima dalam masyarakat dan ketakutan itulah yang menjadikan kita fanatic untuk terus bekerja untuk bagaimana memperoleh uang sebanyak-banyaknya, membangun citra diri dan kehormatan keluarga. Membaca ini saya tersenyum, mungkin inilah perasaan saya yang tak pernah bisa saya terjemahkan dalam kata. Sebuah emosi negatif yang perlahan-lahan menjadikan kita bak budak zaman.

Hal yang menggelitik mungkin ketika penulis mengatakan bahwa “pertama, kita bekerja untuk para pemilik perusahaan kemudian untuk pemerintah melalui pungutan pajak, dan akhirnya untuk bank yang membeli hipotek kita” atau ketika dikatakan bahwa “kita sebenarnya hanya bekerja keras untuk membayar tagihan bulanan dirumah tanpa pernah kita menikmati manfaatnya dan tentunya untuk membayar tagihan plus bunga kartu kredit” ~~~mungkin itu sebabnya kartu kredit adalah musuh sekaligus godaan terbesar bagi saya, saya tidak ingin terjerumus jauh dan dalam. Kuatkan saya ya Allah, Lol!

Well, sebenarnya buku ini bukan ingin mengungkap bahwa uang bukan hal yang penting tapi lebih untuk memberikan ajaran untuk kita bagaimana sebenarnya cara mengumpulkan uang yang paling tepat. Tanpa perlu mengorbankan seluruh waktu dan tenaga terlebih lagi tidak dibawah bayang-bayang ketakutan. Kita haruslah mengerti terlebih dahulu sebelum mencari cara untuk mendapatkannya.

“Teruskanlah pekerjaan harian anda, jadilah karyawan yang bekerja keras dan bagus, tetapi teruslah membangun kolom asset itu” (Halaman 101)

Happy reading all… I must read this book again, again and again!

View all my reviews

7 comments

  1. Tante... koleksi bukunya banyak banget deh. :D

    ReplyDelete
  2. Shasa juga suka baca buku lho...

    ReplyDelete
  3. salam kenal balik... ini kunjunganku perdana kan ya?! hihi... eh blognya udh aku follow... makasih udh follow duluan :)

    ReplyDelete
  4. karena saya orangnya mudah terinspirasi >:), maka saya juga punya http://about.me/yudie_666

    ReplyDelete
  5. for all, thanks yaa dah mampir disini, salam kenal semuanya

    @yudi... salah masuk kali, mustinya komennya yah dibawah, hehe

    ReplyDelete
  6. saya punya buku ini rasanya hampir 8 thn saat lagi booming tp tdk pernah habis dibaca,kyknya referensi membaca saya tdk jauh dr fiksi, sisanya? hanya jd pajangan atau menumpuk dan terlupakan disudut kamar hehehe..salam hangat syam keep reading keep writing..

    ReplyDelete
  7. iyah tant buku ini sudah lama, malah temen suruh baca pas tahun 2004... cuman baru tertarik dan ternyata KEREEEN.

    ReplyDelete