Powered by Blogger.

Tuhan ini Syam, Mataharimu…

TUHAN… Sewaktu kecil hingga menginjak usia remaja aku adalah manusia apa adanya yang selalu percaya keberuntungan, dan aku selalu ada dibawah lingkaran keberuntungan itu. Kau memberi apa yang tidak aku harapkan, kau membuat nyata sesuatu yang membayangkannya pun aku tak pernah. Engkau mengarahkan Takdirku, dan aku menjalaninya hingga suatu saat dikemudian hari barulah aku sadar bahwa betapa berharganya aku dalam kehidupan ini karena-Mu. Aku ini hidup dan berarti.

TUHAN… Dulu aku tak pernah gagal, bahkan dirasuki rasa gagal pun tak pernah. Aku masih terlalu muda untuk merasakan kecewa, aku masih terlalu manis untuk merasakan pahitnya sakit hati, tidak ada kehilangan dalam hati. Tahu kenapa? Ya! Saya ingat dengan benar, saat itu Kau memanjakan aku dalam keterbatasan ekonomi keluarga hingga aku menjadi seseorang yang tumbuh tanpa mimpi dan pengharapan, perasaan gagal tak akan dialami oleh manusia tanpa target, tanpa perencanaan. Oh! Betapa polosnya aku dulu… jujur aku rindu dia, aku yang dulu!

TUHAN… Semua adalah kuasa-Mu hingga aku bisa menjalani hidup seperti sekarang ini, aku bersekolah aku berpendidikan dan aku mulai memelihara ego. Yah, ego yang membuat aku bisa merasakan apa yang sebelumnya tak pernah ku rasakan. Sakit hati, kecewa, cinta dan ambisi.

Semakin kesini, sepertinya lingkaran keberuntungan itu tak menaungiku, entah ada dimana dia dan lagi aku mulai percaya bahwa tidak ada yang namanya keberuntungan yang ada hanyalah usaha keras yang berbuah disaat yang tak terduga. Aku seolah berjalan sendiri dan Kau hanya melihat saja dari “sana”, apakah ini tanda bahwa aku telah dewasa dimana aku seyogyanya telah mampu menentukan kehidupanku sendiri? Dewasa aku maknai sebagai kemampuan seseorang membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk dan mampu menempatkan diri dalam situasi dan kondisi apapun. Saya belum dewasa Tuhan, saya masih terlalu kerdil dalam bersikap, tetaplah dekati saya sedekat dekatnya dan arahkan saya. Sungguh aku ini manusia lemah tanpa-Mu.

TUHAN… Maafkan aku jika belakangan ini aku banyak dikuasai oleh kebencian, entah terhadap apa. Aku terkurung dalam pikiranku sendiri yang gelap dan sempit sehingga aku merasakan sesak. Hidup telah membentuk aku sedemikian kerasnya hingga aku tak akan segan-segan menyakiti orang yang telah menyakitiku! Walau sebenarnya itu akan kembali menyakiti aku lebih dalam. Aku tidak pernah sampai pada kata bijak, Kau pun tahu itu.

TUHAN… Jika ternyata kebencianku adalah cikal bakal dari kesombongan maka ampunilah aku ya Tuhan, sungguh aku tak pernah berniat untuk menjadi seorang yang angkuh. Siapa saya? saya bukan siapa-siapa… saya hanya pemimpi ulung yang sedang mencoba belajar untuk menjadi lebih baik. Walau cara saya mungkin tak sebaik yang diharapkan orang-orang. Aku sungguh tak perduli, ini perkara niat dan biarkan kita saja yang tahu.

TUHAN… Mungkin aku hanya sedang bosan dibayang-bayangi hidup yang mengekang kebebasannku, kreatifitasku dan imajinasiku. Aku butuh udara segar kemudian menjauh dari rutinitas. Energiku sedang bergejolak, semangatku tengah membara tapi sayang nyaliku ciut meninggalkan kenyamanan dalam tanda kutip ini.

TUHAN… Aku Mataharimu dimusim penghujan yang hanya bisa rindu untuk menyinari dunia… tolong ajari aku untuk menyebut namamu dalam setiap desah nafasku, dekati aku dan jagalah aku dari segala benci dan dendam yang disebabkan karena diriku sendiri. Ajarkan aku bijak, ajarkan aku Dewasa.

TUHAN… Terimakasih tetap membiarkanku merasakan keberadaan-Mu, walau disaat aku semakin menjauh.

11 comments

  1. kata2 ini kerennnn >>>> saya hanya pemimpi ulung yang sedang mencoba belajar untuk menjadi lebih baik....

    salam :)

    ReplyDelete
  2. one word, cool. :)

    salam kenal kak, happy blogging. (Y)

    mampir juga ya ke blog saya, hahaha.

    ReplyDelete
  3. Mas Nufri: salam balik dari sayah :)

    @srii: welcome to my world, tunggu saya dirumahmu :)

    ReplyDelete
  4. sebuah keresahan berbalut pengharapan... ayo mbak... jadilah Matahari itu... walau kadang ditutupi awan... ia akan kembali bersinar ceria... memberi dengan ikhlas tanpa mengharapkan kembali... walau dibalut mendung yang sedemikian tebal... pada akhirnya ia akan menghadirkan pelangi yang begitu indah...

    ReplyDelete
  5. betuk sekali yang dikatakan mas albert itu, tetaplah menjadi matahari..

    (btw, mas albert ini comentnya bagus2 lho..!, terbukti di rumah saya juga :)..)

    ReplyDelete
  6. @ mas Goen: terimakasih untuk komentarnya, sungguh saya seperti ditiupkan semangat. Terimakasih

    ReplyDelete
  7. tapi, kalo mbak matahari, katnya kan ntar lagi mau ada badai matahari,

    udah nyiapin mie instan dan obat-obatan untuk antisipasi mbak?

    hehe

    ReplyDelete