Powered by Blogger.

Belitongtrip #16; Tanjung Binga

Kalau biasanya dalam perjalanan dari satu tempat ketempat lain kami melewati jalan besar, kali ini beda. Mobil bang Artha memasuki lorong-lorong kecil yang entah menuju kemana, banyak rumah disini kecil dan seperti biasa SEPI. Mobil menepi dan kami parkir. Saya yang tidak tahu menahu ikut turun tanpa membawa sesuatu apapun, dan ternyata setelah tracking sekitar 1km didepan kami Matahari siap-siap terbenam. Huhuhu… mau kembali ke Mobil juga susah karena Rizky sudah lebih dulu ke Mushallah, hiks… hilanglah satu kesempatan saya mengoleksi Sunset dari sisi lain P. Belitung ini.


Foto Punya Diana Delima

Tempat ini namanya Tanjung Binga, itu kata bang Arta. Tanjung Binga dihuni oleh penduduk mayoritas nelayan, sepanjang pantai yang ada malah rumah-rumah kecil dan bale-bale (apa yah namanya, hehehe) untuk mengeringkan ikan. Dan ditempat ikan-ikan itu dijemurlah kami menyantap makan malam. Huaaaaa, romantisss tapi bauuuu. Hahaha, sebagian bahkan setres karena areanya yang kurang bersahabat. Yang paling kasihan yah Abduh, bobot tubuhnya lumayan berat untuk berjalan di area yang hanya ditopang oleh bambu-bambu kecil yang ditempel saling berdekatan satu-samalain. Yah kalau jatuh lumayanlah, mandi lagi… hahaha. Disinilah si Mbak Guidenya memberikan pengakuan bahwa dia itu takut Kedalaman dan Ketinggi, jiwa Belitungnya ceteeek ah mbak… ahahaha. Dua hal yang justru menjadi hal yang dicari-cari orang dari tanah kelahirannya ini.

Setelah makan malam yang super duper romantic ala Kaki Gatel itu, kami kembali ke Tanjung Pandan check-in di hotel yang sama saat pertama menginjak Belitung.


Dalam perjalanan menuju Tanjung Pandan mobil tiga kembali tenggelam dalam dunianya, setiap tikungan di-iringi dengan gerakan badan yang tajam yang sama tujuan sucinya yah untuk menggencet teman disampingnya, hahaha… BOY dan Dee lah yang beatle, dan saya korbannya karena duduk ditengah. Capedeh! Kami menikmati setiap tanjakan dan turunan, akan selalu terdengar kata “ihiiiiyyyy” atau “siap-siap” hahaha. Dan akan selalu terkenang adalah “jangan tidur- jangan tidur” walau pada akhirnya akan tidur juga. Gilaaaa! Saking menggilanya, mobil kami tertinggal dan kami meraba-raba jalan sendiri menuju hotel. Yaaaakkk, boleh boleh boleh… hampir hilang rame-rame di Belitung. Bagoooos!
Tiba di Tanjung Pandan, kami menempati kamar semula dengan Roommate yang sama. Taro tas, mandi, packing dan jalan lagi. Kalau mobil Bang Arta memilih jalan menelusuri kota di Tanjung Pandan, saya ikut mobil Dimas, cari Oleh-oleh. Hahaha, saya bela-bela ke toko Oleh-oleh karena sudah dapat amanah dari BOSS uang sejumlah Rp. 150.000,- kalau tak terganti oleh makanan bisa berabeee deh.

Ahhhh, hari ketiga pun berakhir… sebenarnya saya tak ingin tidur, karena tidur akan lebih mempersingkat waktu. Tidurku kali ini mengindikasikan bahwa LIBURAN telah berakhir, huaaaaaa… tapi karena capek yah Tepar deh!

End!

No comments