Powered by Blogger.

MAKASSAR TIDAK KASAR



MAKASSAR TIDAK KASAR kakak, hati kami biru! Biru itu tenang tapi menekan/kuat, sama seperti kami yang keras tapi kami tidak kasar. Dua hal itu berbeda kakak, jelas sangat berbeda. Keras itu karakter, setiap bangsa/pribadi yang memiliki prinsip dan berkomitmen atasnya pastilah akan memiliki karakter tersebut agar tak ada pelanggaran. Disini, kami masih sangat menghormati dan mempertahankan adat-istiadat, masih banyak hal tabu yang tidak boleh dilanggar. Adat adalah identitas, dan itu yang harus kami jaga dan lestarikan, kami adalah pewaris dan harus bisa ikut mewariskan bukan menjadi generasi yang melupakan.

Lantas kapan keras bisa menjelma menjadi kasar? Ketika prinsip yang kita pegang itu tidak di topang dengan intelektualitas yang memadai, sehingga kita yang merasa memiliki ilmu dan kuasa akan menjadi arogan dan haus untuk memberontak, menganggap diri paling benar. Kasar itu luapan emosi yang melekat sehingga menjadi ciri/sifat, yang seperti ini bisa kita temukan dimana saja. Ubahlah mindset kalian, kasar tak melulu bicara soal Makassar.


MAKASSAR TIDAK KASAR Kakak, sedari kecil kami pun diajari oleh orang tua dan lingkungan kami tentang arti bersama dan berbagi. Kami punya ego tapi kami tidak egois. Ribut-ribut kecil itu wajar kakak, karena kami pun bagian dari bangsa yang masih belajar menuju dewasa. Tujuan kami satu, sama seperti ditempat kakak atau dimanapun itu… kami hidup dan bergerak menuju Kebenaran dan kebaikan sejati, hanya jalannya saja yang berbeda-beda bahkan ada yang sampai lupa jalan kesana.

Apa kakak punya teman atau keluarga orang Makassar? Mengerikankah dia? Atau justru dia berlaku sebaliknya?


MAKASSAR TIDAK KASAR Kakak, senyum kami super dan kami juga ber-sosialisasi bahkan solidaritas kami tak ada yang meragukannya. Mahasiswa kami bukan hanya mereka yang menjadi bintang kerusuhan di TV dan Koran-koran. Apakah Kakak tahu kalau di Makassar pun sudah banyak berdiri komunitas yang mempertemukan dan mendudukkan bersama anak muda dan anak tidak muda tapi berjiwa muda yang sehobby dan satu-Visi? Kebanyakan dari mereka masih berstatus Mahasiswa loh, tapi mereka bukan golongan mahasiswa manja yang hanya berharap perubahan dengan berteriak, merusak dan membakar. Mereka bergerak, melakukan perbaikan membuat kegiatan yang melibatkan kreatifitas dan emosional. Kemana media? Entah! Mungkin sedang buang air besar sehingga tak bisa meliput…

Walau saya bukan bagian aktif dari mereka tapi saya bangga kakak dan terlebih lagi saya benar bangga dengan Makassarku kini dengan segala perubahan dan perkembangannya. TAWWA NA’ MAKASSAR BISA TONJI!


MAKASSAR TIDAK KASAR Kakak, turunlah kesini, bergabunglah bersama kami dan rasakan kami dengan “menu” yang berbeda. Jangan pernah menilai kami sebatas pemberitaan media, bukankah kita sama-sama tahu bahwasanya “bad news” adalah rating dan rating adalah pundi-pundi bagi mereka, sangat pragmatis bukan?! Mereka hanya datang saat kita ribut, kemudian pergi saat kita saling merangkul dan datang kembali saat ada keributan lain yang sebenarnya pun tidak perlu dibesar-besarkan. Apalagi memang mereka sangat terlatih untuk menambah-nambahkan dan menggabung-gabungkan satu kejadian dengan kejadian lain, heeey!!!!! Plis jangan lebay deh… beritakanlah sewajarnya, jangan mengarahkan opini publik, kami bisa menyelesaikannya baik-baik. Jangan menambah masalah kami dengan citra buruk.


Mari kakak datanglah kemari, lihatlah betapa Makassar begitu berwarna. Langit kami biru, kami punya sunset yang sangat indah untuk dinanti dari ujung Pantai Losari, kami punya ragam budaya yang etnik dan unik yang bisa membuat kalian tersenyum dan ternganga, kami punya banyak kuliner khas yang akan membuatmu ketagihan, yah walau cara bertutur kami keras bukan berarti kami marah tapi kami ramah. Karena begitulah kami adanya, ala bisa karena biasa… MAKASSAR TIDAK KASAR kakak, ini adalah kesaksian dan janji dari saya anak Makassar aseli!

***
Picture Info:
Date Taken : 10 Oktober 2010 (Koleksi Pribadi)
Location : Anjungan Pantai Losari, dalam rangka Opening Makassar Art 2010
Gear : Nikon D3000 + Nikkor 18-55mm + UV Vilter
Software : Photo Scape (Framing & Marking)

Postingan ini diikut sertakan dalam lomba Nge-Blog bersama Anging Mammiri dan Blog detik, dalam rangka hari jadi komunitas Anging Mammiri (kumpulan Blogger Makassar) yang ke-5 dengan tema “Makassar Tidak Kasar” – Happy Milad for AM, semangat kakak!

59 comments

  1. percaya deh,orang makasar pada baik2 terutama teteh ^^

    ReplyDelete
  2. keren postingannya, kusuka yang ini :Lantas kapan keras bisa menjelma menjadi kasar? Ketika prinsip yang kita pegang itu tidak di topang dengan intelektualitas yang memadai, sehingga kita yang merasa memiliki ilmu dan kuasa akan menjadi arogan dan haus untuk memberontak, menganggap diri paling benar. Kasar itu luapan emosi yang melekat sehingga menjadi ciri/sifat dan yang seperti ini bisa kita temukan dimana saja, ubahlah mindset kalian bahwasanya Kasar tak melulu bicara soal Makassar.

    paragraf lainnya juga bagus, packaging yang menarik dan mengena. Sip. Good luck ya, semoga menang...

    ReplyDelete
  3. Sip sip sip... semoga! Xixxiixi

    Menang disini cuman bonus, yg penting sy sudah ikut andil dlm menyuarakan bahwa Makassar saya itu benar tidak kasar mbak ;)

    ReplyDelete
  4. mereka yang menilai kasar mungkin hanya bisa menilai tanpa membuktikan, maka biarkanlah.. toh kenyataannya tak seperti itu....hehehe mariki di'....

    ReplyDelete
  5. Aku pernah punya teman makassar. Dia memang keras, tapi sangat baik hati. :)
    sekarang dia udah balik ke makassar dan aku juga udah balik ke kampung halaman. :( ga tahu kapan lagi bisa ketemu..

    ReplyDelete
  6. mantab syam, sepakat sama bagian yg dibilang alaika abdullah. insyaallah menang.

    trus klo menang, bagi2 racci2'na sma sya nah. masalah kirim mentahnya gampang. kan ada ety. wkwkkwkwkwkkkk..
    #mupeng

    ReplyDelete
  7. hei, saya dulu punya teman2 dari makassar sewaktu ke Pare. mereka seru-seru kok.... kadang orang emang lebih suka menilai berdasar stereotip yang belum tentu benar...

    moga Menaaang!

    ReplyDelete
  8. @ sam: yah mungkin seperti itu, gak bisa dibiarkan juga sam, ini masalah citra daerah. gak mau dong ulah satu tp org bikin susah banyak orang. Mariki' :)

    @ Nizwa : coba di contact lagi niz, biasanya org Makassar itu tidak pernah bisa mengabaikan kenangan loh, pasti dia masih sangat ingat dg kamu #pengalaman :)

    ReplyDelete
  9. seperti kata mbak alaika,,kasar tidaknya suatu suku juga bangsa hal ini akan terjadi jika tidak di topang dengan intelektualitas yang memadai,dan pendalaman makna budaya nya masing2

    ReplyDelete
  10. @ Aci: bah... hahahaha, nanti kalau sy menang hadiahnya saya mau pake dating sm ety deh. Trus nanti sy kirimkanko foto2nya, xixxixi...

    @ Mas Huda: yah begitulah mas, dan ini tak lepas dari peran Media loh. mereka punya andil besar dg rusaknya nama Makassar di mata publik.

    Mas Huda kemana sajakah? Lama euy tak update blognya... hiatus terlama rupanya :(

    ReplyDelete
  11. @ kahfi: pendalaman budaya yah, yeah... nice point! :)

    ReplyDelete
  12. Makasar, pernah sekali ke sana sekitar tiga tahun lalu. Saya tidak melihat kesan kasar, malah friendly dan baik banget kok. Sayangnya hanya 2hari jadi hanya sempat ke LOsari dan ke toko oleh2 Tunggul (apa Unggul ya)..heheh

    ReplyDelete
  13. ndak ada ji yg kasar...itu yg sering tawuran bukan orang makassar..tp dari planet lain

    ReplyDelete
  14. @ Ririe : wadduh... unggul ato tunggul yah? Xixixixi...

    @ Skydrugz: Hahaahha, jangan lari dari kenyataan daeng. Planet lain dr mana seng?

    ReplyDelete
  15. jadi inget dulu pernah punya cewek orang makasar
    pengen bener kesana
    eh sampe bubaran belum keturutan juga...

    *suer cewek makasar bening bening ya..?

    ReplyDelete
  16. terlalu banyak eksperimentasi, memang Makasar tidak kasar, .... bagaimana memahami berbagai eksperimentasi pemicu .... menjadi pe er kita semuanya..

    ReplyDelete
  17. Orang Makassar sebaik orang Surabaya. :)

    -numpang promo kotaku juga-
    hehehhe

    ReplyDelete
  18. Saya sempat 5 tahun kuliah di kota malang, aktif di ikami sulsel se-tanah jawa dan bali. Teman2 dr seluruh penjuru nusantara menilai memangnya ada apa dg makassar? Menurut mereka apa yg selama ini di saksikan di media ataupun stigma miring sangat jauh kontras berbeda dg yg mereka rasakan riil bersahabat dg orang makassar, di perantauan orang makassar di saluti atas keterbukaan kekeluargaan plus solidaritas tingkat tingginya. Dan ini yg sangat di kagumi teman2 dr daerah lain. Mungkin ini cerita singkat saya bahwa kemudian kita (makassar) memang tidak kasar. Salam!

    ReplyDelete
  19. kenapa sih atas saya komen pake anonim? aih... bikin orang ilfil ajah...

    oh yah, moga postingannya ini postingan terbaik ya di komunitas angin mamiri :)

    ReplyDelete
  20. hiduuppp Makassar, Ewako :)

    aiihh saya jadi makin rindu tanah tumpah darahku ini -,-

    btw salam kenal Kakak :)

    ReplyDelete
  21. hmmm, keras kuat!
    seringkali ras, suku, distandar untuk sifat2, memang itu benar. Tapi klo untuk sifat yg negatif itu tergantung dari pribadi masing2 (serius banget ucil :)))
    cyam smoga suksesss yah :D

    ReplyDelete
  22. saya bersyukur tinggal di Makassar. masih banyak pohon-pohon di jalan. senang dateng ke pasar2 tradisionalnya, suasananya ramah & menyenangkan. tp pasar modernya & pusat perbelanjaannya pun tidak kalah dari kota2 besar lain. di angkot, qta masih bisa saling tegur, sapa, senyum =] dan sampai jam 10an malam, masih relatif aman pake angkot pulang ke rumah.

    kampusnya, UnHas, segar bukan main. jadi salah satu paru2 kota. dengan danau yg tenang, rasanya damai sekali.

    oh, dan makanannya. =]~ sudah mengkombinasikan cita rasa penduduk lokal & pendatang. jd untuk teman2 yg bukan aseli Makassar, nda susah kok nyari makan disini. dari asem, manis, pedas, semua ada di sini. jajanan kuliner kota lain jg sdh bisa ditemui di banyak tempat.

    ah, pokoknya Cinta Makassar!!

    ReplyDelete
  23. berkunjung sob..salam blogger
    sukses selalu yah..
    salam

    ReplyDelete
  24. @Rawins : bening? heh?! air kalee... hehehe

    @ Anes : hihi, gak papa nes... disini bebas asal gak bikin onar :p

    @ All : thanks dan salam kenal Kakak :)

    ReplyDelete
  25. Saya punya teman orang Makasar.
    orangnya baik.
    senang membantu orang lain kok.

    ReplyDelete
  26. saya bangga jadi anak makassar... bukan hanya karena saya lahir, tinggal, dan besar di makassar... tapi karena makassar punya banyak sekali keragaman yang menjadikannya indah... terutama teman2 yang seperti syam....

    makassar..prikiteuw... I LOVE U PULLLLLLLL ^_^

    ReplyDelete
  27. @ Neni : aih aih... Peluk neniiii :)

    ReplyDelete
  28. suka deh baca postingan ini,,saya juga punya keluarga asal makasar,,dan sesama orang sulawesi juga saya sependapat banget sama apa yg kakak tulis,,orang sulawesi memang terkenal dengan keras mungkin dari cara bicaranya padahal sejujurnya tuh orangnya ramah banget & baik..
    paling suka sama makasarnya kulinernya,,gak bosan2 liburan ke makasar deh..

    ReplyDelete
  29. 1000 persen saya mendukung seluruh isi tulisan ini.

    HIDUP MAKASSAR. :)

    #SALAM CINTA DAMAI DARI JAKARTA. :D

    ReplyDelete
  30. oiyah lupa, semoga tulisannya menang yah cham.. doa dr saya. semoga.. aamiin.

    ReplyDelete
  31. baca postingan ini jadi pengen liburan ke Makasar ....
    susah memang ya kalau org suka menyamaratakan dan menilai karakter satu masyarakat dengan satu sifat yang mungkin hanya dilakukan oleh segelintir orang.

    semoga menang ya lombanya. Foto fotonya cantik2 banget, suka sekali sunsetnya ... jadi inget langit di kampungku sini saat sunset maupun sunrise yg selalu menunjukkan kecantikannya membuatku harus bertahan dengan dinginnya suhu demi melihat mereka, krn amat sangat menyenangkannya :)

    ReplyDelete
  32. slalu saja cerita mnrarik dr mbak syam apalagi dipadu foto2...lengkap sudah...

    ReplyDelete
  33. @ Afril : terimakasih yah, ayo sering2 main ke Makassar :)

    @ Bang Roe : Bukan salam cinta damai dari Ambon? Heheheh... semoga menang yah #eh?!

    @ El : generalisasi memang tak bisa dihindarkan dr kasus makassar ini mbak El, makanya tugas saya dan anak makassar lain untuk meminimalisirnya. yah paling tidak dr diri sendiri, bersosialisasi dg dunia luar. kami pun bisa dan hebat.

    @ Kak Patta : lengkap... sah! Hahahha

    ReplyDelete
  34. Saya banyak kenal orang Makassar mulai dari kawan sampai mantan bos. Nggak ada yang kasar seperti Mbak bilang. Kalau keras iya.

    Ya, mudah-mudahan sebagian mahasiswa -- siswa yang sudah maha -- yang suka baku pukul itu sadar bahwa atraksi maskulinitas negatif mereka bisa memberi citra kasar pada orang-orang Makassar yang sebenarnya keras, bukan kasar.

    ReplyDelete
  35. @ kombor : hiks... bukan saya yg bilang kasar :(

    ReplyDelete
  36. salah satu baju daerah yg saya sukai adalah baju dari Makasar..suka modelnya.

    ReplyDelete
  37. ambon rasa jakarta. hahahaha.

    itu foto2nya benar2 ceria..! huuuh,,, saya punya beberapa kenangan di makassar sekitar 10 tahun lalu. #halah.

    #abaikanKomentINI.

    ReplyDelete
  38. berarti dalam hal ini.. peran media sangatlah besar dalam membentuk opini.. buktinya.. yg saiia tau.. makassar itu iia seperti yang banyak di berita tipi :(

    moga dengan banyaknya tulisan serupa dari sobat2 di makassar bsa mengalahkan dominasi media elektronik yang gag imbang dalam menyampaikan sesuatu iia :)

    ReplyDelete
  39. Makassar tak seperti batu, pukulan dan teriakan yang sering muncul di media. Makassar kota Impian kami bangsa Indonesia Timur. Media terlalu buta tuk meliput hal baik dari sejuta menariknya sang angin mamiri. Meski orang-orang akan berstereotip tentang Makassar tapi yakinlah kasar bukan identitas si Angin Mamiri

    ReplyDelete
  40. @ Scb : walau bajunya bodo(h) tapi orangnya (insyaAllah) cerdas :)

    @ Bang Roe : akh bang roe ini kebiasaan buruk, suka curhat ndiri trus minta diabaikan. hahahah, aneh...

    @ Ello : Makassar adalah kota impiankami bangsa Indonesia timur. mantap! Dan benar Kasar bukan ciri walau mulai melekat. terimakasih sudah berkenan ke Rumah saya ini bang.

    ReplyDelete
  41. Yap saya setuju. Saya yakin Makassar sama sekali tidak kasar.

    Hanya karena berita-berita kejadiannya di satu tempat, tidak berarti terjadi di semua kota itu.

    Saya punya kenalan orang Makassar. Bahkan ada 40 orang yang Wisma di sebelah kantor ditinggali sebagian besar oleh mahasiswa dari Makassar dan sekitarnya.

    Dan mereka sama sekali tidak kasar. :)

    ReplyDelete
  42. wow..terpesona saya sama Makassar, semoga suatu hari ada kesempatan ke sana. :)

    ReplyDelete
  43. fotonya asik-asik...
    :)

    kekasaran seseorang bukan milik suku atau etnis tapi pribadi sepertinya..
    :)

    ReplyDelete
  44. Betuuul itu, na rata rata yang na liput Media itu Yang Kasar kasarji, jarang sekali itu na ambil yang Baiknya, hehehe. Salam kenal nah :).

    Semoga menang Cha'.

    ReplyDelete
  45. Terimakasih semuanya atas supportnya untuk Makassar, salam kenal :)

    ReplyDelete
  46. tulisannya keren kaka,,aq dah lama dag nulis,,,ngerasa udah ketinggalan jauh dari k cham,,, keep writing kaka,,,

    salam rindu bwt MakassarQ,,,

    ReplyDelete
  47. keren nih tulisannya. pantes menang lomba :D
    selamat yaaa!

    Makassar memang tidak kasar koq ^^

    ReplyDelete
  48. @ Terapi Qolbu: alhamdulillah... terimakasih :)

    @ Dee: hayoooo, siapa kamu??? Hehheh, kalo mrasa tertinggal ayo nyusul ;)

    @ Kak Ntan: Alhamdulillah, dapat tiket gratis... siswanto banget :)

    ReplyDelete
  49. Nice... article....
    I like it....
    Selamat yach :)

    ReplyDelete
  50. ihiyyy, menang tawwaaa hihihi :D

    ReplyDelete
  51. merinding buluku' bacai saudari..percayaka' kalo' jujur jurinya..mampirki' saudara saudari..http://kopral80.blogspot.com

    ReplyDelete
  52. aku punya 3 orang teman makasar,
    dan semuanya sangat baik... sama sekali tidak kasar.

    emang siapa sih yang bilang makasar kasar??

    ReplyDelete
  53. Kapan ya Dija maen ke makasar....

    ReplyDelete
  54. pantas memang tong menang ini postingan, kata-katanya sulit ditebak. selamat kakak :D

    ReplyDelete
  55. lanjutkan.. semoga lebih sukses kedepannya//....

    ReplyDelete
  56. makassar memang tidak kasar!!! Cuma cara mereka bertutur kata agak tegas jadi orang-orang menganggap kalo makkasar itu kasar...tapi menurutku orang makassar cara bicaranya tegas tapi lembut di hati.....

    ReplyDelete
  57. Saya pernah ke Makassar, dan tak ada yang kasar.
    malah ketika tidak tahu jalan, saya bertanya pada bapak2 yang ada di pinggir jalan. Mereka sangat ramah, bahkan ada yang mau mengantarkan ke tempat tujuan.
    Mereka tahu kalau saya yang pada saat itu memang pendatang. Mungkin terlihat dari gaya bahasa saya.

    Saya dari Medan.
    Medan juga tidak kasar.
    Wataknya saja yang keras, tapi hatinya lembut.
    hehehe..

    *Pengen ke Makassar lagi.
    Liat sunset di Losari, makan pisang epe, es pisang ijo, konro karebosi, ke Bantimurung, dll

    Nice ^__^

    ReplyDelete