24 February 2011

Selepas Hujan

DSC_1791-1

** model: daun pisang belakang rumah **

selepas hujan, akan selalu ada kamu dalam ingatan
dan butiran-butiran embun
kalian berdua sama saja,
datang dengan indah kemudian hilang dalam sekejap


13 February 2011

Ini adalah Haru...

Mungkin ini adalah sabtu yang paling mengharukan untuk saya, karena bisa melihat dengan mata kepala saya sosok yang paling saya kagumi selama ini Bapak BJ Habibie.

Sebenarnya sebelum ke Gramedia untuk agenda Signing book, ada agenda yang jauh lebih penting yaitu Pembahasan buku Ainun Habibie langsung oleh Bapak Habibie di Graha Pena Makassar, tapi karena jamnya kurang bersahabat dengan pekerja swasta seperti saya ini dan lagi saya tak bisa ijin dulu karena saya sudah banyak ijin dikantor akibat sakit ringan yang menimpa saya beberapa hari lalu. Jujur saya kecewa pada diri saya, tapi mau diapa… setidaknya saya masih diberi pilihan lain untuk bisa melihat beliau dari dekat.

Ya Allah, saya menangis sungguh dari dalam hati ketika melihat beliau berjalan memasuki Gramedia Panakkung setelah 30 menit saya berdiri antri menunggu kedatangan beliau. Disaat yang sama puluhan orang (mungkin ratusan) juga menunggu penuh harap, sambil menenteng buku Ainun Habibie. Ketika beliau datang, saya hanya ingin melihat rupa dan gerak-gerik beliau dari jarak dekat, sementara mengikuti antrian yang panjang ini membuat saya tak bisa melihat apa-apa tak juga bisa memotret apa-apa maka dari itu saya keluar dari antrian dan membuyarkan harapan bahwa saya akan mendapatkan tandatangannya pada buku saya itu sekaligus bersalaman bersama beliau, tapi saya tetap berusaha menitip buku pada teman yang mengantri. Setelah meninggalkan barisan, saya leluasa menerobos kedepan hingga akhirnya berhasil berada di saf paling depan, sehingga bisa melihat beliau dengan seksama dan seketika kamera saya bungkam, tak ada ide untuk mengambil gambar. Saya seperti orang yang terhipnotis. Ada rasa bangga tersendiri ketika melihat beliau secara nyata.

Makin lama barisan semakin tak beraturan, antrian semakin berantakan dan tak lagi satu baris. Dari belakang dorongan sangat kuat, sementara dari depan pun penjaga terus menekan kebelakang. Saya terjepit, nyaris terinjak dan parahnya saya sedang menenteng kamera tetapi Alhamdulillah… kondisi itu membawa berkah, tidak sampai limabelas menit signing book dibuka tiba-tiba kepala saya disentuh oleh penjaga untuk mendapat giliran selanjutnya, wowww! Hehehe… terimakasih Oom penjaga, dan maaf buat teman2 yang sudah lama mengantri bukan maksud mau menerobos tapi yang “ini berkaaah” disaat terjepit. Jika saya menolak, mungkin saya akan terluka karena dorongan yang makin gila dari belakang. Kemudian saya buru-buru meminta buku saya kembali dari teman saya. Mungkin ini miniatur kehidupan, bahwa terkadang kita akan mendapatkan apa yang telah direlakan. Ajarkan saya Ikhlas ya Allah…

Dan tahukah kalian, akhirnya saya bisa berada dekat dari orang kebanggan saya itu… Bapak Habibie sudah semakin tua, ayunan ukir tangannya di Buku saya tak begitu tegas, saya bisa mendengarkan desahan nafasnya, mendengarkan suaranya saat mengeja nama saya, saya menjabat dan menciumi tangan yang luarbiasa hebat dan “dingin” itu. Untuk beberapa detik beliau hanya tersenyum untuk saya, dan melihat kedalam mata saya. Kekecewaan saya terbayar dalam sekejap. I love this moment!

Dengan speechless saya meninggalkan tempat itu, dan saya kembali lagi pada posisi saya semula. Sehingga saya bisa memandangi beliau dari jarak dekat. Dan saya baru menyadari ternyata sedari tadi ada Om Adrie Subono yang sedari tadi berdiri menemani Bapak Habibie, tampangnya kecut memperlihatkan Aura ketidak senangan dengan budaya Antri ala Makassar yang tergolong Brutal? (mungkin), sangat terdesak dan ribut. Penyelenggara acara benar2 kewalahan, tapi adakah yang mengalahkan kewalahan yang seharusnya dirasakan oleh bapak Habibie? Satu jam Lalu beliau baru saja selesai membagi pengalaman tentang bukunya selama 3jam ditempat lain, dan sekarang untuk beberapa jam kedepan beliau harus melayani antrian yang MasyaAllah…

Belum selesai acara, saya meninggalkan gramedia bersama Nube. Gramedia terlalu padat. Orang-orang media juga sudah mulai berdatangan, tidak ada tempat yang nyaman lagi untuk berdiri, setidaknya saya sudah puas melihat beliau dari jarak dekat.

Terimakasih Pak Habibie, untuk segalanya. Terlebih untuk inspirasi yang kau cipta…

Terimakasih Oom Adri, jangan kapok ya membawakan kami (Makassar) orang2 Hebat!

Dan, Terimakasih Allah… sudah mengatur jodoh saya bersama Bapak kebanggaan saya itu.

9 February 2011

Habibie & Ainun

Habibie & AinunHabibie & Ainun by Bacharuddin Jusuf Habibie
My rating: 3 of 5 stars

Well, akhirnya saya telah menyelesaikan bacaan saya yang tergolong mengharu biru ini. Buku Ainun dan Habibie, yang menceritakan tentang pertemuan Bapak BJ. Habibie dengan Alm. Ibu Ainun kembali sebagai orang dewasa sampai pada akhirnya mereka dipisahkan oleh Maut, Alm. Ibu Ainun meninggal dunia di Jerman.

Beberapa bagian mungkin akan sangat membosankan, mengingat antara judul dan bagian tersebut tidak begitu sinkron. Tapi bagi saya justru hebat, yah saya bisa banyak tahu tentang isi kepala tokoh favorit saya itu. Pokoknya saya ngeFansssss… dan setelah saya dibikin terpesona, pun kembali saya dibikin menangis sejadi-jadinya. Entahlah, pesan bahwa Bapak Habibie benar-benar mencintai Alm. Ibu Ainun benar-benar sampai kedalam sanubari saya. Bahwa saya benar-benar merasakan kehilangan yang dirasakan oleh Bapak Habibie.

Banyak hal-hal penting yang dipaparkan dalam buku ini, khususnya bagian tengah (bagian tidak sinkron tadi) yang menceritakan tentang perjuangan Bpk. Habibie yang didampingi dengan setia dan bijak oleh Alm. Ibu Ainun dalam membangun Bangsa, silahkan dibaca sendiri. Kali ini saya hanya ingin menulis kembali kata-kata pamungkas dalam buku ini, yah menurut versi saya ini adalah magnetnya…

Testimoni Alm. Ibu Ainun dalam buku A. Makmur, Setengah Abad Burhanuddin Jusuf Habibie: Hal 388 yang disalin kembali oleh Bapak Habibie dalam bukunya Habibie dan Ainun hal.64, sbb:

“…..memang, tuntutannya banyak. Terhadap isteri. Terhadap anak. Terhadap anak buanya. Ia ingin mencapai setinggi-tingginya. Dia memberikan segalanya dan menunut segalanya. Dia member dan menuntut secara mutlak. Begitulah sifatnya. Itulah yang membuat hidup dengannya tidak mudah”

“Tetapi ia juga member secara mutlak, semua yang ada padanya diberikannya pada anak isterinya: impian-impiannya,kepandaiannya, semangatnya, marahnya, kekecewaannya, perhatiannya, kesehatannya, pengorbanannya. Di dalam segala kehebatannya ia sangat peka: perhatian kami, pengertian kami, dukungan kami, baginya segala-galanya. Itulah yang membuat semuanya ada gunanya.”

Dihalaman lain, kembali Bapak Habibie menuliskan testimony Alm. Ibu Ainun yang juga diambil dari buku A.Makmur, Setengah Abad Burhanuddin Jusuf Habibie, sbb:

“……kami berdua suami isteri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati.”

Lantas tentang Alm. Ibu Ainun… Tak ada pujian yang terlalu bertele-tele yang dituliskan oleh Bpk. Habibie untuk Alm. Istrinya tercinta, selain ucapan terimakasih pada Gusti Allah untuk pertemuan yang telah menyatukan mereka. Manunggal jiwa, batin dan roh.

“48 Tahun 10 Hari, Allah ENGKAU telah menitip cinta abadi yang menjadikan kami Manunggal. Manunggal yang dipatri oleh cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi” Doa terakhir yang dibisikkan pada telinga jasad Alm. Ibu Ainun. Habibie dan Ainun: Hal.296.

“Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan Saya untuk Ainun dan Ainun untuk Saya. Terima kasih Allah, Engkau telam mempertemukan Saya dengan Ainun dan Ainun dengan Saya” Habibie dan Ainun: Hal.320.

Begitu luarbiasanya hubungan diantara dua insan yang saling memuji hingga akhir hayatnya, semoga Allah senantiasa menjaga dan memberikan cinta pada mereka dan keluarga mereka yang tak putus-putus. Mereka adalah inspirasi untuk kita-kita yang baru akan menjalin hubungan serius dalam ikatan pernikahan, dan pada tulisan ini saya pun ingin menitip doa semoga Allah segera mempertemukan saya dengan Habibie-ku. Bukan Habibie yang sempurna seperti satu kesatuan diri beliau, tapi cukuplah menjadi Habibie yang sederhana, setia dan amanah. Amin…

“Jika sampai waktunya
Tugas kami di alam dunia dan alam baru selesai
Tempatkanlah kami Manunggal di sisiMu
Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna dan abadi
Dalam raga yang abadi,dibangun
Ainun manunggal dengan saya sesuai kehendakMu dialam baru sepanjang masa
Jiwa, roh, batin, “raga” dan nurani kami, abadi sampai akhirat”

Doa Penutup, Ainun dan Habibie: Hal.323

View all my reviews

3 February 2011

Rich Dad, Poor Dad

Rich Dad, Poor DadRich Dad, Poor Dad by Robert T. Kiyosaki
My rating: 2 of 5 stars

Pertengahan bulan Januari kemarin saya sempat membaca sebuah buku terjemahan karya Robert T koyasaki, Rich Dad Poor Dad. Tentang buku ini sebenarnya telah lama di rekomendasikan oleh beberapa kawan, hanya saja saya belum begitu tertarik dengan buku genre seperti ini. Awalnya saya kira buku ini banyak memberikan advice untuk menuju sukses secara cepat dan tepat, tapi saya salah. Setelah saya membacanya, barulah saya sedikit mengerti bahwa Buku ini lebih menjadi pedoman dalam mengelola keuangan, kurang lebih seperti itu. Walaupun pembahasan yang diberikan tidak merinci, tapi sedikit banyak membuka pemahaman kita untuk bagaimana memperlakukan uang.

Saya tak menitik beratkan pada bagaimana uang itu masuk, kemudian di olah menjadi sesuatu yang juga menghasilkan (perputaran uang), yang paling menyita pikiran saya adalah bagaimana uang menjadi sesuatu momok yang sangat diinginkan dan juga menjadi hal yang sangat menakutkan bagi seorang pekerja seperti saya pada umumnya. Inilah perangkap uang.

Ada sebagian orang merasa takut andai saja saya tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki penghasilan pasti yang datang secara rutin, takut di cibir, takut tidak diterima dalam masyarakat dan ketakutan itulah yang menjadikan kita fanatic untuk terus bekerja untuk bagaimana memperoleh uang sebanyak-banyaknya, membangun citra diri dan kehormatan keluarga. Membaca ini saya tersenyum, mungkin inilah perasaan saya yang tak pernah bisa saya terjemahkan dalam kata. Sebuah emosi negatif yang perlahan-lahan menjadikan kita bak budak zaman.

Hal yang menggelitik mungkin ketika penulis mengatakan bahwa “pertama, kita bekerja untuk para pemilik perusahaan kemudian untuk pemerintah melalui pungutan pajak, dan akhirnya untuk bank yang membeli hipotek kita” atau ketika dikatakan bahwa “kita sebenarnya hanya bekerja keras untuk membayar tagihan bulanan dirumah tanpa pernah kita menikmati manfaatnya dan tentunya untuk membayar tagihan plus bunga kartu kredit” ~~~mungkin itu sebabnya kartu kredit adalah musuh sekaligus godaan terbesar bagi saya, saya tidak ingin terjerumus jauh dan dalam. Kuatkan saya ya Allah, Lol!

Well, sebenarnya buku ini bukan ingin mengungkap bahwa uang bukan hal yang penting tapi lebih untuk memberikan ajaran untuk kita bagaimana sebenarnya cara mengumpulkan uang yang paling tepat. Tanpa perlu mengorbankan seluruh waktu dan tenaga terlebih lagi tidak dibawah bayang-bayang ketakutan. Kita haruslah mengerti terlebih dahulu sebelum mencari cara untuk mendapatkannya.

“Teruskanlah pekerjaan harian anda, jadilah karyawan yang bekerja keras dan bagus, tetapi teruslah membangun kolom asset itu” (Halaman 101)

Happy reading all… I must read this book again, again and again!

View all my reviews

1 February 2011

About.Me

Well, keisengan saya melompat dari satu link ke link lainnya menemukan saya pada suatu situs yang bagi saya sangatlah menarik. Dimana pada situs tersebut kita diminta untuk men-describe diri kita dalam beberapa kata singkat kemudian memasukkan akun-akun jejaring social kita yang tersebar di seantero jagat maya. Cara registrasinya cukup mudah, tak begitu banyak persyaratan setelah terdaftar kita bisa mengotak-atik akun kita sesuai selera. Bisa dengan menggunakan background foto kita ataukah foto2 yang telah disediakan oleh about.me itu sendiri. Kalau mau lihat hasilnya, please visit my account and than create your own! ~~http://about.me/cyaam

Bagaimana, tertarik?