Powered by Blogger.

Dosa Sistematis: Refleksi Kehidupan Kantor

Dalam pelajaran agama di sekolah dasar dulu saya diperkenalkan dengan ciri-ciri orang munafik oleh guru agama saya. Ada tiga hal dan saya selalu mengingatnya sampai sekarang.

Jika berkata dia berdusta
Jika berjanji dia ingkari
Jika dipercaya dia khianat

Dan kenapa justru saya semakin mendekati ketiga hal tersebut? Saya tak lagi menjaga perkataan saya, terlalu banyak mengumbar janji. Awalnya mungkin saya hanya belajar untuk bagaimana itu bernegoisasi, bagaimana untuk berdiplomasi, bagaimana menyenangkan hati boss, rekan kerja dan customer, karena itu adalah bagian dari pekerjaan saya. Saya dituntut untuk bisa menguasai "bahasa marketing" dan belakangan saya mulai nyaman dan terbiasa. Damn it!

Yah pada kenyataannya saya menemukan diriku terjebak dalam dosa sistematis, mungkin ini hal biasa sebagai tindakan penyelamatan diri ataukah sekedar menjaga image bahwa semua hal baik-baik saja ditangan saya. Saya bisa diandalkan. Toh ini adalah tuntutan pekerjaan. Tapi efeknya justru luar biasa, jauh dari yang saya bayangkan. Tindakan berbohong kecil-kecilan saya itu membuat saya kurang respect pada diri sendiri dan menggerogoti hati saya perlahan. Saya menyesal tapi toh saya mengulanginya, lagi... lagi... lagi.

Ampuni saya ya Rabb... mungkin bagi mereka refleksi ini terlalu berlebihan tapi bagi saya penting, saya tidak mau peningkatan kepercayaan diri saya tidak sebanding dengan kepercayaan orang pada saya. Ini sudah 2012, mungkin tahun yang tepat untuk saya berubah. Saya bukan orang munafik dan tak ingin menjadi orang munafik karena saya benci orang munafik.

35 comments

  1. kalau di sini malah orang terbiasa datang setengah atau satu jam sebelum janji yg ditentukan .... kebiasaan lingkungan sekitar juga mempengaruhi ?

    met tahun baru ya :)

    ReplyDelete
  2. menjadi orang yang apa adanya aja itu memang lebih baik... tetapi terkadang sistem yang melingkupi kita tak mendukung untuk bisa seperti itu. Kalau memang bisa dihindari sebisa mungkin, ada baiknya dihindari.

    #perkataan untuk diri sendiri juga berlaku... :)

    ReplyDelete
  3. berarti terlambat dengan konfirmasi itu dibolehkan ya mbak...
    :P

    ReplyDelete
  4. hmm besok lagi berarti bukan janjian aja namanya.. tapi perkiraan. hahaha..

    biar ngga dituduh nggakk menepati janji :P

    ReplyDelete
  5. #Mbak Ely: orang luar memang terkenal dg komitmen mereka yang tak biasa. Dan itu adalah yang paling susah ditiru. selamat tahun baru mbak :)

    #sam: begitulah sam... tapi sebelum menghakimi sistem yang ada alangkah lebih baik dikembalikan pada diri sendiri. kok mau maunya terjebak. Hehehh...

    #Zone: yah tergantunglah... kalau orangnya ikhlas yah mungkin gakpapa. hehehehh

    ReplyDelete
  6. Yuk kita barengan berdoa dan mohon ampun sama Allah.

    Salam

    ReplyDelete
  7. Ups... untungnya tempat saya kerja sekarang gak terlalu mengumbar janji... :(

    Semoga saya pun bisa terhindar dari ketiga tanda kemunafikan tsb. Aamiin. :)

    Perihal tepat waktu, saya jengkel dengan orang yang gak bisa menepati waktu janji.

    ReplyDelete
  8. @zone: aku rasa telat kalu udah konfirmasi juga enggak dosa kok. kecuali kalo gak bilang sama sekali. hehehe...

    ReplyDelete
  9. huaaa, ini namanya sentilan dipagi hari. huffft, bohong sistematis di dunia kerja itu rasanya emang biasa ya, biar juga sudah bilang tidak mau mengulanginya lagi tapi toh tetap terulang (lagi, lagi, dan lagi) huuffftt

    semoga kita dijauhkan dari kemunafikan itu, fufuufhh

    ReplyDelete
  10. Muhasabah Awal Tahun SYAMsiyah,,, yang bikin gemetar, Mbak...

    idza kalama kadzzaba
    wa idza wa'ada akhlafa
    wa idza amana khoona

    Hiks,,, T_T
    mungkin pake iklan LA aja kali ya... yang lain pada pake topeng, kita apa adanya aja... He,,he,,,

    ReplyDelete
  11. #Gaphe: Apaaa coba???

    #Obrolan Blogger: Salam :)

    #Asop: sama nih, sy juga bermasalah dengan urusan "tepat waktu" paling malas kalau janjian pake nunggu :)

    ReplyDelete
  12. #Nuel: hahaha... tergantung yang nunggu sih, beda orang beda rasa. hahaa

    #Diah: hal klasik yang cenderung disepelehkan, padahal dosssaaaa! hahaha

    #Samaranji: oh iya yah... iklan topeng-topeng itu. yeyyy, you got the point!

    ReplyDelete
  13. system by design..ya..mbak..

    ReplyDelete
  14. guru agama sy pas SD juga pernah blg gtu lho kak..
    k'inget sampe skrg :)

    ReplyDelete
  15. bahasa marketing :D wah ngeri klo ada dosa sistematis gitu

    ReplyDelete
  16. Dosa sistematis @_@
    Thanks mbak renungannya T.T

    ReplyDelete
  17. #Fajar: yah. mungkin seperti itu teorinya...

    #Efa, Ucil & Una: thanks yooo ibu ibu sekalian. Dan ingat jangan melakukan kesalahan yg sama, kelian masih muda. hahahaha *OOt sendiri* :p

    ReplyDelete
  18. dateng buat ngomentarin headernya mbak syam yang baru

    keyeeen :3

    ReplyDelete
  19. #Ninda: Oh terimakasihhhh... saya memang keren :p

    ReplyDelete
  20. sebaiknya dihindarin aja cara lama, selama masih bisa untuk mau berubah..
    sebuah kesalahan bukan berarti tidak bisa diperbaiki..

    ReplyDelete
  21. #Herry: yah, saya pun penganut "selalu ada maaf dan jalan keluar". Terimakasih untuk inputnya :)

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. memang ya klo dosa sekecil apapun klo dibiasakan akan menumpuk.

    bingung juga ya bagaimana cara menghindar dari dosa sistematik tersebut atau syam sudah ada solusinya?

    ReplyDelete
  24. baru tau ada dosa sistematis...:D

    ReplyDelete
  25. wah jadi agak bingung juga..
    pilih patuhi aturan agama atau jaga karir..
    tapi bisa dua2nya kan :)..

    ReplyDelete
  26. #Baha: yang nulis tugasnya curhat dan pembaca yg mustinya kasi solusi dong. ahahahahha....

    #Kak Patta: ndak ada yah kak?! Ahahah.. brarti istilah baru untuk menggambarkan dosa yg terbentuk secara sistematis. rapi dan terselubung. ahahahah, ampuuun.

    ReplyDelete
  27. #Reza: bisalah... mungkin sayanya sj yg belum pandai menjaga keduanya ;)

    ReplyDelete
  28. Iya juga ya :) namanya juga lagi sharing, pasti syam berharap ada yg ngasih solusi ya hahaha @sYam

    ReplyDelete
  29. kalo kata Insya Allah menjadi bungkus dari alasan untuk tidak datang?

    ReplyDelete
  30. @Baha Andes solusinyaaaaa???? Nah tugas kak baha yg musti ngasih masukannya dong :)

    ReplyDelete
  31. @Yayack Faqih nah itu fatal! Hati-hati berucap insyaAllah kl gak ngerti makna dn fungsi sesungguhnya.

    ReplyDelete
  32. saya juga pernah jadi marketer atau sales. akan tetapi, saya selalu memegang prinsip bahwa memasarkan tidak boleh membohongi prospek/pelanggan. itu juga yang saya ajarkan kepada kawan saya yang pernah mengatakan "namanya juga marketing, yang penting dagangan laku." "no! marketing bukan seperti itu," kata saya kepada kawan saya itu, "dalam kelas marketing selama kuliah dulu tidak pernah ada bab menipu prospek/pelanggan."

    kalau kita menjual/memasarkan dengan jujur, insya' allah ke depannya akan sama-sama baik untuk kita dan pelanggan.

    ReplyDelete
  33. @Kombor Makasih banget inputnya kang :)

    ReplyDelete
  34. keren judulnya. dosa sistematis..

    ReplyDelete