Powered by Blogger.

Kacau

Saya tak bisa tidur.

Malam ini saya gelisah tanpa mengerti sebab musababnya. Kemungkinan 'kuat' adalah karena saya yang tidak lagi menikmati setiap sujud dalam sholat. Hati saya tak lagi bergetar saat mendengarkan/mengucapkan kalimat-kalimat zikir, tak lagi meluangkan waktu untuk membaca: baik itu Alquran, buku dan situasi. Hati saya seperti membatu. Keras. Dan semakin mengeras. Tapi semoga Tuhan tak balik meninggalkan saya. Kondisi keimanan saya sedang kritis, saya sadari ini dan tetap tidak bisa berbuat banyak. Selain merenung. Menangis. Kemudian mengadu.

Setiap hari, sesaat sebelum tidur dan setelah bangun tidur, saya selalu melakukan perbincangan monolog. Antara saya, pikiran saya dan Tuhan. Tuhan seperti menjelma dalam gagasan-gagasan saya terhadap sesuatu hal, bukan berarti saya membatasi-Nya. Tapi justru sebagai pembatas diri saya, yang kadang bertindak dan berfikiran 'liar'. Semaunya saja. Banyak hal yang tak terduga yang bisa saya lakukan, bahkan kadang membuat saya sendiri terheran-heran. Sebenarnya siapa saya? dan kenapa saya bisa menjadi sedemikian tak terkontrol?! Akh...!

Pada kenyataannya saya tak pernah tertarik memperbincangkan perkara dosa. Karena bagi saya manusia tak berhak menjudge orang lain mengenai perbuatannya. Tugas kita hanya sampai pada tahap mengingatkan, bukan memaksakan, apalagi sampai turut campur untuk menilai. Biarlah itu menjadi hak tunggal Tuhan. Kita cukuplah hidup bermasyarakat, saling menjaga perasaan satu sama lain. Saling menghargai satu sama lain. Tak usah buang-buang tenaga hanya untuk mendapatkan pengakuan 'dunia', bahwa saya lebih baik dari kamu ataukah sebaliknya.

Saya hanya tak ingin pragmatis dalam beragama. Saya tidak mau ikut berlomba-lomba untuk masuk surga hanya karena bayang-bayang ketakutan, tentang neraka. Tentang bayangan siksaan akibat kelalaian yang telah saya lakukan sebagai manusia. Karena takut tidak akan membuat saya lebih baik, saya ingin lebih dari rasa takut, mungkin itu cinta. Dan saya ingin Mencinta sebagai seorang Hamba ke pada Tuhannya. Cinta yang tak akan menyesatkan saya. Yang menjadi esensi dari perjalanan hidup saya, mendekatkan saya pada kebaikan-kebaikan, sampai tiba saatnya saya benar kembali pada-Nya.


P.S. Seperti tulisan dan gambar ini, saya pun sedang Kacau!