Powered by Blogger.

Ini bukan Perang


Pagi ini saya keluar rumah menuju kantor lebih telat dari biasanya, naik angkot jurusan biasanya, jalan dengan pemandangan biasanya, dan dengan semangat yang biasanya, tapi... ada yang sedikit tak biasa.

Pertama, angkot yang saya tumpangi singgah di pom bensin padahal bensinnya belum begitu terkuras, tapi sengaja mau di isi fulltank katanya, untuk persiapan. Wew... saya sudah telat, mana ini singgah pula, antriannya panjang pula, panjangnya tidak biasa. Huh! Saya mengeluh dalam hati, makin telatlah saya. Mengeluh adalah manifestasi diri, sebagai pelampiasan karena tak bisa berbuat apa-apa, no option! dan saya benci ada dalam posisi ini.

Kedua, saat tiba di Jalan Ratulangi suasana jalan mulai crowded, tepat didepan markas PM (Polisi Militer). Satu persatu kendaraan mereka dikeluarkan dari markas, setiap mobil diisi oleh 6-20 orang berwajah tegang dengan persenjataan lengkap dan anjing pemburu. "Ada apa gerangan?" Tanya saya dalam hati. Perasaan sampai tadi pagi belum ada pernyataan perang yang dibuat oleh Presiden kok tentaranya sudah siap siaga yah? Bukannya isu hari ini hanya akan ada demo besar-besaran? Hmmm... Bego! #maaf

Bapak saya seorang Tentara, abdi negara. Saya tak membenci mereka, dari dulu pun saya tak pernah membenci mereka. Saya hanya tidak suka dengan kondisi yang saya lihat pagi ini. Tentara, Polisi, PM disemua penjuru negri ini bergerak seolah ada invasi militer menyerang Indonesia. Heyy! Demonstrasi adalah syarat suatu negara jika ingin disebut sebagai negara demokrasi, setidaknya begitu menurut saya. Dan apakah mesti kalian respon sepanik itu? bukannya itu justru memancing mahasiswa untuk membentengi diri, bagus kalau semuanya waras dan mengerti apa yang sebenarnya mereka perjuangkan, itulah mengapa anarkisme selalu hadir dalam setiap aksi demonstrasi. Dua ego 'lembaga' berbenturan dalam satu moment, menyerang dan mempertahankan. Begitu selalu... dan akan selalu begitu.

Dear Adik/teman/saudara(i)-ku Mahasiswa... 

Hari ini saya tak bisa lagi turut bergabung bersama kalian, raga saya terbelenggu, pun mungkin dengan jiwa saya. Tapi walau begitu saya akan selalu dibelakang kalian, meluruskan pandangan sentimen tentang gerakan kalian, karena saya tau... diantara kalian ada kaum minoritas, yang menjunjung nilai dan berjuang tanpa tendensi pribadi. Tanpa ego 'lembaga', yang tau betul apa yang mereka tuntut. Tidak sekedar ikut-ikutan belaka. Untuk kalian, saya akan selalu dendangkan... MAHASISWA BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN!

posted from Bloggeroid

11 comments

  1. Kalau ditempat syam,kaya begitu gimana di Jakrta syam :(
    Lautan manusia td aku berangkat kantor,hampir semua jalan besar di Jakarta dialihkan 90%
    Kalau ingat demo hari ini jadi ingat Tragedi Semanggi dulu,
    Presiden'a kebanyakan curhat kaya Mamah Dedeh sih,kerja kagak ada > ini Presiden paling payah menurut aku sepanjang sejarah Indonesia

    ReplyDelete
  2. strategi pengolahan sumber daya alam (salah satunya migas) yg gak jelas berpihak pada siapa dan seprtinya mmg belum berpihak pada rakyat...akan selalu menimbulkan gejolak jika ada perubahan harga yang tidak merakyat

    ReplyDelete
  3. demonstrasilah yang bijak :)

    ReplyDelete
  4. Ada rakyat dan mahasiswa yang benar benar memperjuangkan nasib mereka. Para sopir angkot, para pedagang kecil mereka sangat bergantung pada bahan bakar dalam menunjang usaha mereka. Yaitu transportasi. Kalau bbm naik, maka yang lain pun ikut naik. Perjuangkan terus sahabat-sahabatku.

    Sayangnya kadang demo seperti ini di tunggangi pihak lain yang sengaja mengambil keuntungan dalam kekisruhan demo.

    ReplyDelete
  5. Demo mahasiswa adalah sura rakyat kecil, mereka tidak punya tendensi apa2 karena mahasiswa tugasnya adalah belajar.

    Semoga tidak terjadi anarkisme.
    (Jada inget saat kul ikutan demo hehehe...)

    ReplyDelete
  6. Kita tunggu berita selanjutnya, akankah muncul gerakan reformasi jilid 2 ^^

    ReplyDelete
  7. saya berdemo dengan cara saya sendiri saja.

    ReplyDelete
  8. demonstrasi..sah..sah..saja.. namun mbok yao..jangan ada kerusakan diwilayah sekitar...

    ReplyDelete
  9. Entahlah, kadang juga sya sesekali berpikir.. gimana caranya dan apa yg harus bsa di lakukan buat kita sbg pemuda untuk memperjuangkan aspirasinya sbg simbol demokrasi utk menuntut hak hak kita sendiri. maksudnya bagaimana caranya agar bsa menyentil telinga pemerintah. para tokoh agama di sebut sbg golongan burung gagak, para LSMdi sebut sbg barisan sakit hati dan mahasiswa di sebut sudah di tunggangi oleh golongan2 tertentu... apakah harus seperti tragedi 1998? ah itu terlalu punya ongkos yg besar...

    dari media menulis saja kadang sya suka emosi duluan, apalagi kalau sudah ikutan demo di jalanan yg tentunya sangat rentan akan aksi provokasi yg ujung2nya bsa punya sikap anarkis... hemmm kalo kata pak safii maarif sih beliau sudah kehilangan kata kata bagaimana bsa punya sikap untuk pemerintah, khususnya SBY.

    ReplyDelete
  10. saya paling parno sama DEMO.
    trauma sm kejadian 97-98.
    entahlah, saya tak bisa menentukan sikap pada kejadian hari ini.
    cuma berharap, semua pihak mau berpikir dengan kepala dingin. apapun itu, agar tidak merugikan rakyat kecil seperti kami.

    ReplyDelete
  11. merinding baca pesan terakhirnya...kemarin saya sempat melintas diantara kerumunan itu...huff.....saya sempat merasakan suatu sensasi....*seperti kata teman syam : MAAF, hari ini saya tak bisa lagi turut bergabung bersama kalian, raga saya terbelenggu, pun mungkin dengan jiwa saya. Tapi walau begitu saya akan selalu bersama kalian...

    ReplyDelete