Powered by Blogger.

Masih tentang Ego

Kalau dipikir-pikir terlahir dengan karakter egois yang sangat dominan ternyata menyenangkan juga.

Tiba-tiba statement tersebut melintas begitu saja dipikiran saya, setelah berhasil melewati hari senin yang sangat mencekam di kantor. Saya sendiri tak bisa membayangkan, apakah saya bisa pulang kerumah dengan waras. Ternyata, alhamdulillah... saya masih sehat jiwa dan raga. Hanya dari semalam saya mengalami radang tenggorokan sih, alhasil stamina saya sedikit menurun.

Saya bersyukur terlahir dengan ego yang dominan, karena dengan begitu saya tahu bagaimana meredam ego yang muncul karena bergesekan dengan ego lain diluar saya. Karena pada dasarnya ego itu sama saja, kepada siapapun dia melekat.
Ego itu tak ubahnya seperti binatang piaraan yang harus selalu diberikan makanan, dan makannya bukan seperti makanan makhluk hidup tapi lebih ke hal yang bersifat penghormatan, persetujuan dan perasaan puas.
Simpelnya mungkin begini...

Diawal-awal saya bekerja, saya pernah bertengkar dengan Atasan saya. Alasannya, karena atasan tak pernah mau mendengar alasan kenapa sesuatu kesalahan itu bisa terjadi sedemikian rupa. Saat itu ego saya terpancing untuk mempertahankan apa yang menurut saya prinsipil. Saya sudah bersusah payah, kenapa pada akhirnya saya tetap dimarahi? Saya menjawab semua kemarahannya dengan nada yang tak kalah marahnya. Dan... tak ada penyelesaian. Yang ada hanya perasaan ingin cepat-cepat meninggalkan kantor ini, dan untuk beberapa saat saya sama sekali tak berselera untuk menyapa dia.

Hingga pada satu hari atasan saya lainnya, memanggil saya dan menjelaskan bahwa "kita ini prajurit" tidak ada salahnya mengalah. Bukan berarti kita menginjak harga diri kita sendiri, tapi lebih ke-bagaimana kita menghadapi orang-orang dengan karakter berbeda. Apalagi dia atasan kamu! Anggap dia orang tuamu, mengalah tak melulu kalah.

Semenjak saat itu saya mulai belajar menghadapi orang tidak lagi dengan bagaimana diri saya/karakter saya. Tapi lebih pada bagaimana karakter orang tersebut, bagaimana cara berfikirnya, termasuk cara mereka bercanda, terlepas itu pada atasan, rekan, dan customer sendiri. Belajar membaca manusia, mungkin dengan begitu kita bisa lebih memahami bagaimana mengambil nilai dari tiap-tiap pribadi diluar kita.

Sampai sekarang atasan saya masih sering marah-marah, tapi belakangan saya semakin nyaman dengan omelannya. Kenapa? karena saya berusaha memahami dia hingga pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa memang begitulah cara dia "mentransfer ilmu", saya tahu dia tulus memarahi saya untuk membuat saya menjadi lebih baik, dunia kerja itu 'keras', kita harus menjadi pelumas yang berkualitas nomor 1 untuk bisa menaklukkannya. Minimal membuat diri kita nyaman untuk tetap masuk kantor, menyelesaikan kewajiban-kewajiban dan bersosialisasi.

Dan hari ini, saya kembali diperhadapkan dengan customer yang egonya selangit. Huft! Dia memarahi saya, setengah menuntut, dan berkata seenaknya. Hmm.. kalau saya terpancing, lagi-lagi masalah semakin membesar. Saya ambil jalan tengahnya, meminta maaf karena apapun itu: mungkin karena kecewakah, karena merasa dipermainkan kah atau karena merasa berkuasa. Entahlah! Saya hanya bisa memastikan bahwa dia tidak nyaman dengan cara kerja saya. Sebesar apapun usaha saya dan rekan-rekan saya. Siapa peduli?!

Cara saya berhasil, dia melunak...

Jadi untuk kalian ketahui, menghadapi orang egois macam saya itu... hanya butuh kalian melunak. Jangan hadapi dengan ego yang juga tak terkendali, apalagi mengabaikannya, kalau tidak?! Yeay... bencana besar melanda!


Ps. untuk Yudi, terimakasih buat semangat Aprilnya... yah walau berawal seperti ini. Saya anggap ini investasi untuk tumbuh kembang jiwa saya.

8 comments

  1. dalam sebuah team harus ada seorang leader,
    dan biasanyapun sang leader sudah pernah menjadi "yang dipimpin"..
    mengapa sang leader biasanya paranoid?
    karena dia tidak mau kesalahan2 yang pernah dilakukannya dulu sewaktu "dibawah" terulang pada team yang "dibawahinya"..

    dengan "dibawahnya" kita saat ini, hanya akan jadi bahan pertimbangan untuk menjadi paranoid saat kita sendiri menjadi sang leader..

    dengan fokus menjadi yang terbaik saja mungkin sudah cukup..

    hanya saran untukmu yang super ego..

    :p

    ReplyDelete
  2. atasan marah selama dia punya alasan untuk itu, saya (dulu waktu masih bekerja) bisa menerima. apabila alasan untuk marah tidak ada, saya tetap tidak terima. paling saya katakan, "apa alasan bos marah-marah? kalau nggak ada alasan santai saja lah! jangan memberi alasan pada saya untuk menganggap ini hal pribadi karena bisa berbeda nanti penyelesaiannya."

    ReplyDelete
  3. kalo anak kecil di tempat ku sering bilang "ego loe ... " wew :D
    itu juga ego lho :D

    ReplyDelete