Powered by Blogger.

Percakapan




"Kamu beruntung telah menemukan cinta sejatimu, apapun kondisinya, jalani saja... kita liat bagaimana ujungnya"

Huft...

"Saya tak pernah punya bayangan tentang ujung cerita ini. Kosong. Tak berpengharapan. Bentengnya terlampau kokoh"

"Lantas?!"

"Yah... entahlah. Tapi saya tak pernah menyesali pertemuan kami, tak pernah menyesali kedekatan kami, saya tak pernah menyesali rasa yang diam-diam muncul, saling nyaman satu samalain, saya tak menyesali jarak yang mungkin dicipta oleh semesta untuk kami bisa saling introspeksi. Karena apa yang kami jalani bukanlah perkara mudah"

"Kalau begitu, saling menjauhlah"

"Hmmm... dia sudah lebih dulu menghindari saya. Dan saya, selalu belajar membuka hati kepada sapa saja yang pantas. Tapi? Ketika saya gagal, dia orang pertama yang akan saya jadikan tempat sampah saya. Dan seperti biasa dia seperti cokelat panas, yang mampu memberi kehangatan dan rasa manis. Meredam emosi saya. Dia adalah seseorang yang saya sebut rumah, dia melepas saya bersama satu kunci, hingga kemanapun hati saya pergi pasti akan ingat untuk pulang. Dan dengan mudahnya memasuki rumah itu lagi"

"Kamu pernah meratapi kondisi ini?"

"Saya tak pernah menangis karena dia. Apalagi meratapi. Semustahil apapun hubungan kami pada akhirnya, saya tak bisa meneteskan air mata. Seperti telah beku, dibekukan oleh kenyataan. Ini bukan salah saya, bukan salah dia, bukan salah siapa-siapa. Jalannya memang seperti ini"

"Kalau begitu, berhentilah bercerita... justru saya yang akan menangis mendengar kisah kalian"

Huft...

"Jika ternyata apa yang kami alami ini adalah bagian dari mimpi, saya hanya ingin terbangun dan mendapati diri saya memakai mukena dan dia menggunakan baju koko dengan kopiah putih, meng-imam-i saya untuk shalat Magrib berjamaah"

"Amin"

"Saya hanya butuh keajaiban yang benar-benar ajaib. Kami berbeda, harus sama jika ingin bersama. Dan untuk itu, harus ada yang mengalah... tapi itu bukan saya"

"Tuhan selalu membawa kita pada jalan kebaikan, bahkan ketika kita merasa ada dalam kondisi terburuk. Yah sadar tidak sadar"

Ps. Happy 25th, for you...

posted from Bloggeroid

12 comments

  1. tapi itu bukan saya...
    dia ya kak?

    ReplyDelete
  2. Kamu sadar ga ... tapi berbeda untuk satu asik tau ^^

    ReplyDelete
  3. Wah, kalian berdua benar-benar serasi ^^

    ReplyDelete
  4. kita hanya bisa menikmati peran didunia ini layak lantunan suara merdu harpa yang dipetik ditengan keheningan malam

    ReplyDelete
  5. Nih critanya rumahnya lagi ultah ya mbak hehe...

    ReplyDelete
  6. ihik ihik curhatnyo~
    sabar yah dengan hubungan yang rumit ini. ntar juga ada jalan keluarnya

    ReplyDelete
  7. "harus sama jika ingin bersama"..kalimat ini begitu sering membahana menembus bianglala saat kebersamaan menjadi tujuan....meskipun dalam perbedaan ada keindahan, namun kan jadi pertanyaan, apakah perbedaan akan tetap menjadi indah bila disatukan dalam kebersamaan...nice share post kawan...salam :)

    ReplyDelete
  8. :) Happy 25th. #eh

    Hehehehe. Tuhan itu sayang sama semua hamba-Nya. Tetap semangat yaaa Syam. ^^

    ReplyDelete
  9. kelak, frasa yang terbengkalai pada setiap percakapan (yang barangkali begitu sederhana) itu akan menjadi prasasti. menandakan bahwa dirimu, selalu mengukir namanya dari kata ke kata, dalam sejarah -yang apapun namanya- pernah kalian raut.

    *)salam kenal syam :-) senang sekali ternyata coklat disini, di rumah Ay, dan di rumah saya hampir sama :-D

    ReplyDelete
  10. met ultah deh buat dia *siapa ya yg ultah?*

    apa kabar Syam ?

    berharap yang terbaik buat kamu Syam :)

    ReplyDelete
  11. kalau sama plek apa malah nggak akan pusing? tidak bisa saling mengisi kekosongan?

    ReplyDelete