Powered by Blogger.

Pilihan

Belakangan saya mulai membuka-buka lagi kenangan semasa kuliah dulu, kala itu saya benar-benar tergila-gila dengan pemikiran-pemikiran yang melihat hidup dari sisi lain; tidak berburu kemapanan, jauh dari hedonisme, tidak hidup konsumtif, dan siap memberontak untuk tegaknya kebenaran yang mereka yakini benar.

Akh... saat itu dan sampai sekarang pun saya tak pernah matang dalam memahami pemikiran yang cenderung “rebel” itu, walau terkadang saya terpukau juga dan mengangguk tanda kagum untuk setiap orasi-orasi singkat yang mereka lontarkan dari mulutnya, atau kadang berdecak kagum ketika membaca tulisan yang seolah-olah menggambarkan sang penulis yang tengah meronta agar terbebas. Pun dari dulu sampai sekarang saya memilih diam dan hanya mendengar karena saya tahu, saya tidak punya kapasitas untuk ikut berbicara dengan pengetahuan yang serba minim dan lagi dalam hal ini saya belum punya karakter, saya masih memiliki banyak orang yang harus saya pertimbangkan hatinya jika saya menjauh dari jalur yang tengah saya jalani saat ini.

Bukan berarti saya tak bebas… hidupku adalah rentetan pilihan-pilihanku, hanya saja tak semudah itu saya mengabaikan orang-orang yang sangat dekat atau berdampak langsung terhadap pilihan yang akan saya ambil. Mereka (orang yang saya cintai) hidup dengan pengetahuan yang “minim” tentang realitas kehidupan dan walau saya berusaha menjelaskan sekalipun saya sangsi mereka mau mengerti, cukuplah mereka menjalani hidup dengan pengetahuan baik dan buruk, wajar tak wajar, bisa makan dan berbagi. Itu saja! Dan perlahan tapi pasti justru saya yang terpengaruh dengan pola hidup dan pemikiran seperti itu, dan saya pun akan merasa baik-baik saja dan ikut berkontribusi dengan tidak melakukan penyimpangan… apakah konyol?!

Dan saya pun berkonsentrasi dengan planning saya, cita-cita individual untuk memberi kebaikan keluarga dan (mungkin) profesi yang saya jalani. Mau tidak mau pikiran-pikiran ideal saya saat mahasiswa dulu akan terbentur oleh realitas dan kebutuhan hidup. Inilah saya seseorang yang tak begitu mau berteman dengan resiko, akan selalu mengambil jalan aman untuk kebaikan kelompok-kelompok kecil yang juga melingkupi hidup saya. 

Apakah tindakan saya ini menandakan saya adalah generasi yang kalah oleh zaman? Entahlah! Yang pasti saya tak pernah merasa kalah, saya tak pernah terjebak dalam lingkarang yang membuat saya lupa hakekat saya hidup didunia, walau terkadang banyak hal/kejadian yang mengharuskan saya untuk merenungkan kembali apa sebenarnya yang saya cari dalam kehidupan saya ini?!

Teluk Gembira, Belitong

Hidup menghadapkan kita pada banyak pilihan. Jangan terjebak pada pola dan opini orang lain. Mereka bertindak berdasarkan pengetahuan mereka, dan saya akan bertindak berdasarkan pemahaman dan pengetahuan saya. Fokus saja. Itu saja cukup untuk membuat apa yang saya jalani ini akan lebih berarti. Saya bukan orang yang suka bermuluk-muluk, yah walau agak sedikit rumit.

22 comments

  1. terkadang tumpukan motivasi dari org lain tak semudah apa yg sudah terdengar lantang di telinga, karena tujuan dari kita mau kemana tentu akan di diskusikan tanpa melibatkan orang lain di luar sana....

    ReplyDelete
  2. Pada akhirnya hidup adalah tentang keputusan. Setelah kita putuskan untuk menghadapi kenyataan, semoga selamanya kita akan terus bergerak menyelaraskan diri dengan alam raya, nurani, dan orang orang sekitar yg kita cintai. Itu lebih anggun dari sekedar menjadi ahli kutip :)

    ReplyDelete
  3. @Yayack Faqih hmm, nice yack... dan apakah mungkin kita sama dalam hal "tidak begitu suka dengan buku2 motivasi" "petuah2 mario teguh" dan sebagainya yang terkesan sangat "gombal" itu? hihi :)

    ReplyDelete
  4. @RZ Hakim dan komentar ini seperti "paragraf yang hilang" dari tulisan ini...

    Pilihan dan keputusan adalah saudara dalam hubungan sebab akibat. Butuh wawasan untuk membuatnya sinkron selama kita "bergerak", dan wawasan itu lebih dari sekedar kutipan :)

    ReplyDelete
  5. Saat kuliah memang serba ideailis ya mbak, tapi sesudah kita lulus dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya, Mungkin fleksibelitas dan keyakinan yang akan kita terapkan dalam melangakah maju.

    ReplyDelete
  6. @Anak Rantau iyah, mungkin karena waktu kuliah kita hanya berhadapan dengan rentetan teori tentang kebenaran, sementara pada kenyataannya tak semudah apa yang digambarkan dalam teori tersebut. Saya sepakat, fleksibilitas yang berpegang teguh pada keyakinan yang akan membawa kita terus berjalan... sampai tiba pada "tujuan"

    ReplyDelete
  7. hidup memang pilihan jadi sebaiknya pilihlah yang baik2 saja ya.. juga tidak terjebak pada pola orang lain toh kita tidak dapat menyenangkan semua orang, yang terpenting adalah kita nyaman sebagai diri kita sendiri dan tidak keluar dari norma2 yang ada ;)

    ReplyDelete
  8. sedikit berani mengambil resiko untuk kemudian di pelajari sebagai bahan hidup mendatang, mungkin bisa menjadi variasi dalam mewarnai pola hidup yg menjemukan, bagaimana ?

    ReplyDelete
  9. @s y a msaya juga gak begitu suka baca buku motivasi.. XD karena buat saya, motivasi yaaa hanya sekedar omong saja. kalau pengalaman asli, mungkin lebih mengena.

    ReplyDelete
  10. ini lh hidup,,,,
    berkutat pda pilihan dan pilihan,,
    tinggl qt ny yg mesti bsa memilih pilihan itu..


    MAMPIR yah ke blog qu...

    ReplyDelete
  11. hidup tanpa pilihan jadi nggk menantang

    ReplyDelete
  12. nggk adaa tantangan klo nggk dipusingkan dg banyak pilihan

    ReplyDelete
  13. @NF saya teringat statement senior saya dulu, bahwa "tidak semua orang bisa kita bahagiakan" maka, jadilah diri sendiri... terus berbuat yang terbaik. Terserah orang mau menilai apa :)

    ReplyDelete
  14. @Stupid monkey terdengar menyenangkan, sekarang saya cukup mengumpulkan tenaga dulu om. Suatu hari nanti, pasti i'll do it!

    ReplyDelete
  15. @the-netwerk mungkin sama seperti nasi tanpa pilihan lauk pauk :)

    ReplyDelete
  16. @Ayu Welirang aahaa, yup... paling seru malah memberi orang lain motivasi berdasarkan pengalaman kita. ya gak :)

    ReplyDelete
  17. lebih asik memang kalau memilih sendiri, bukan dipilihin.

    ReplyDelete
  18. ketika kita mendengarkan opini dari orang lain cobalah untuk memahami bukan beradu argumen
    kalau aku lebih sering atau bandel kali ya,suka sesuatu yang baru yang penuh tantangan walaupun yang sudah ada didepan mata sudah enak tapi inilah kehidupan,ketika kita tidak berani memilih yang melawan arus maka kita juga tidak berani menentukan sikap kita dikemudian hari
    life is fight

    ReplyDelete
  19. @Kang Kombor tentunya, toh yang menjalaninya juga kita sendiri...

    ReplyDelete
  20. @Andy kadangkala menjadi pemberontak itu justru sangat manis yah ndy :), yah asal bertanggungjawab dengan pilihan

    ReplyDelete