Powered by Blogger.

[Supernova #1] Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh


Supernova #1

Buku ini sebelumnya pernah saya baca, tepatnya delapan tahun yang lalu saat untuk pertama kalinya saya membiasakan diri untuk membaca buku diluar teksbook, diluar kurikulum. Buku yang memperkenalkan saya pada sosok Dewi Lestari diluar kemampuan bernyanyinya, and see... hanya satu buku dan itu membuat saya begitu tergila-gila dengan pemikiran perempuan yang akrab disapa Dee. Dia begitu mempesona tanpa sedikitpun membiarkan rasa iri dalam diri saya muncul sebagai sesama perempuan yang sangat mencintai dunia tulis-menulis.

Butuh 2 malam selepas jam kantor hingga saya bisa kembali merasakan sensasi setiap patah-patahan peristiwa yang coba disajikan dalam Novel ini. Hampir sama dengan delapan tahun silan, saya tetap tak begitu mengerti (perduli) dengan perbincangan-perbincangan antara Ruben dan Dimas, pasangan Gay yang berotak Jenius. Bahkan terkesan terlalu kurang kerjaan, mengait2kan hidup dengan angka, dengan ilmu fisika, matematika dan teori-teori yang, huft... apalah!

Ini seperti Novel didalam Novel. Dimana dalam Novel ini, Dimas dan Ruben mencoba membuat mahakarya sebuah Cerita yang "menggugah", hasil kesepakatan 10tahun silam saat mereka masih mengenyam pendidikan ditanah Rantau. Dan ikrar itupun dibuat nyata, dalam satu cerita yang diberi judul: Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh.

Garis besar yang saya tangkap dari Novel dalam Novel ini adalah:

Pertama, perihal Rectoverso yang lebih gamblang dibahas pada halaman 193-195. Setiap manusia memiliki sisi hampa dalam dirinya, tidak utuh, sadar atau tidak. Sisi dimana manusia akan terus menerka dan mencari-cari bagian yang "hilang" dari diri mereka. Dan beranggapan bahwa sesuatu yang hilang itu terletak diluar diri mereka. Dan bagaimana jika ternyata sesuatu itu ada dalam diri kita sendiri, dia sangat dekat dan tak berjarak. Hanya butuh kita-manusia, sebagai pelaku aktif untuk merubah perspektif. Lalu kemudian berhenti untuk merasa hampa dan minta orang lain untuk melengkapi "kehampaan" itu. Mungkin bahasa sederhananya, yang juga sering digunakan oleh para Motivator bahwa kenalilah dirimu.

Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengisi apa yang sudah penuh. Tidak ada satupun yang dapat berpisah satu sama lain | Hal: 195.

Temukan kenop anda dan Putar.

Kedua, hal lain dalam Novel bertelur ini yang juga menarik perhatian saya adalah, tentang konsep pernikahan dalam hal ini ikatan komitmen yang sebelumnya tertanam indah dalam benak saya kembali porakporanda, dengan tumbal kebebasan yang sebenar-benarnya bebas. Hahaha, terdengar naif memang tapi itulah kenyataannya. Saya masih meraba-raba tentang pernikahan itu sendiri, apakah benar indah seperti apa yang selalu digambarkan indah oleh pasangan muda, atau menyakitkan seperti yang diperlihatkan oleh sahabat saya sendiri atau justru pernikahan benar berisi banyak pengorbanan-pengorbanan seperti yang selalu saja saya lihat nyata.

Dan bagaimana jika benar bahwa jika kita bisa melepaskan ketertarikan terhadap sesuatu, maka semakin dekat kita dengan keutuhan itu sendiri. Hmmm, mungkin ini yang disebut Ikhlas. Karena tidak ada sesuatu hal pun didunia ini yang benar-benar milik kita. Semua hanya fatamorgana, entah dengan perasaan cinta itu sendiri.

Dan saya baru sadar, saya amat mencintainya. Tapi saya lebih mencintai diri saya sendiri. Saya mencintai diri saya yang mencinta | Hal: 231

Dan, buku ini adalah kegilaan. Dee menciptakan karakter Ruben dan Dimas sepasang Gay jenius dan picisan, yang melalui dua sosok itu lahir pula Feree seorang Pria Idaman yang jatuh cinta pada Rana seorang perempuan yang sudah menikah. Bagaimanapun, cinta akan selalu menemukan tuannya. Hingga pada akhirnya Rana kembali pada Irwin, suaminya. Dan Ferre menemukan sosok Diva, pelacur bertarif dollar yang ternyata satu apartemen dengannya.

syam | thanks to Dee yang telah mengembalikan selera baca saya

posted from Bloggeroid

26 comments

  1. Kok aku belum baca ya.. ? hehe

    ReplyDelete
  2. hmmm, mangut mangut, hmmmm, idem dulu deh sementara :D

    ReplyDelete
  3. Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh.
    Tapi adakah di dunia ini sesuatu yang benar-benar utuh..?
    Jadi pelengkap tetap akan dibutuhkan
    Walau mungkin statusnya pelengkap penderita
    Hahah...

    ReplyDelete
  4. sayaaa belum baca, pinjam dong kakak :D

    ReplyDelete
  5. klo bagi orang awam kaya sy butuh penggaris buat baca per kalimatnya. kadang2 di ulang2 biar mudeng....hehehe^^

    jatuh cinta pd sosok bodhi ...d sekuel'nya supernova. berkarakter.
    ayoo mba d review donk..... :D

    ReplyDelete
  6. Semalam ke Toga MAs, dan baru tahu kalau edisi barunya terbit dengan kemasan baru. Sekaligus terbit dalam sekuel tetraloginya yg lain : Akar, petir dan partikel.

    Karena 'merasa' sdh beli akar [ingatnya sih demikian] maka saya putuskan beli Petir dulu. Semoga petir men'sakau'kan spt sekuel pertama karena menurut saya yg AKAR kurang greget [saya yg kurang bisa menikmati]

    ReplyDelete
  7. Woo.. Kalo aku perlu nangkep dari isi cerita 2-3 kali. Baru aku paham. Tapi ini, aku langsung tanggap. Jadi penasaran pengen baca teh.. Pinjem! : D #gataudiribangetgue

    ReplyDelete
  8. Otak saya sanggup ga baca nyaaa ??? :)

    ReplyDelete
  9. saya belum baca novelnya, megangnya aja belum ## apa Orang2 makasar banyak yg mencintai karya2 dewi lestari?, setidaknya ada tiga temen saya asal makasar yg bsa membenarkan pertanyaan saya tadi. Hehe..

    ReplyDelete
  10. Dan saya baru sadar, saya amat mencintainya. Tapi saya lebih mencintai diri saya sendiri. Saya mencintai diri saya yang mencinta | Hal: 231

    Jadinya kok kayak pemahaman Narsisme ya mbak hehehe...

    ReplyDelete
  11. Aku tahu kenapa mba dee nulis " Aku selalu & selalu mecintai diriku sendiri " Karena kalau dia tidak mencintai dirinya sendiri tidak mungkin dia sanggup menulis buku setebal itu selama ini

    ReplyDelete
  12. setuju dengan kata2 : saya amat mencintainya tapi saya lebih mencintai diri saya sendiri.. karena dengan mencintai diri sendiri diatas kecintaan kita terhadap orang lain mudah2an kita tidak berlaku masokis.. btw saya belum pernah baca bukunya Dee :)

    ReplyDelete
  13. @Rawins setiap kata yg ada dimaknai indipidu2, mungkin benar utuh jika kita liat dr perspektip lain. tapi jangan tanya saya. disudut berapa kita harus berdiri untuk bisa melihat.

    Kalo pelengkap penderitaan banyak bgt mas, seribu tiga malah :)

    ReplyDelete
  14. @cii yuniaty saya juga orang awam mbak, kadang cuman sok ngerti :)

    Wah Bodhi yah? Ini baru saja menjajal Akar... sudah ketemu sosok itu. Tapi karakternya belum keluar, dan pasti sy ripiuw :)

    ReplyDelete
  15. @Ririe Khayan hihi, gak langsung partikel mbak? Kalo sy langsung ngambil empat empatnya trus dibaca ulang, F5 dulu. dah lama gak baca soalnya :)

    ReplyDelete
  16. @Faizal Indra kusuma tangkap apa kamu zal? Hahaha... gak ah, pinjem bayar!

    ReplyDelete
  17. @Yayack Faqih kalo cuman mau megang ke gramed aja yack, hehe... pasti banyak tuh di buku2 new realese.

    hmmm, mungkin krn org2 makassar punya selera yg bagus kali yah makanya pada suka sm Dee. orang doi memang oke. hehehe :p

    ReplyDelete
  18. @Anak Rantau hmmm, pemujaan terhadap diri sendiri yah bud? Hehe... sepertinya

    ReplyDelete
  19. @NF hmm, coa deh sekali-kali. tapi hati2 kecanduan :)

    ReplyDelete
  20. @mataharisuka benget ma gaya bahasa DEE, meski banyak ga ngertinya....hehehe.

    PETIR jg bagus mba...
    PARTIKEL blm dapet,..disini ga ada gramed :(

    ReplyDelete
  21. @cii yuniaty hehe, pastinya. itu yang bikin istimewa, gak ngerti tapi bikin candu :)

    Setelah Akar, Petir dan Partikel pasti ta' jajal... sudah tersimpan rapi di rak buku :)

    ReplyDelete