Powered by Blogger.

{Malang} Analogi Jurang


Perjalanan kali ini saya banyak menikmati dunia dari balik kaca mobil yang saya tumpangi. Menengok kearah sudut mana saya duduk dan terdiam.

Apa yang saya lihat? Hmm... banyak! Pemandangan kota yang berganti menjadi desa, pematang sawah hijau dan mengering, pepohonan yang berbaris rapi dan begitu banyak manusia-manusia yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kemudian saya tertidur dan bangun lagi dengan sajian pemandangan yang sama, bergantian secara acak.

Sama saja sih sebenarnya jika saya pulang ke kampung yang jaraknya hanya 2 jam dari kota Makassar. Tapi sensasinya tetap saja berbeda, berada ditengah orang-orang yang entah mereka sedang membicarakan apa, padahal kita masih satu negara. Sesuatu!

Well, dalam perjalanan dari kota Jogja menuju kota Malang kemarin, saya terlibat obrolan panjang dengan Yudi. Obrolan tentang sesuatu hal yang begitu menyita pembicaraan kami setahun belakangan ini, sesuatu hal yang begitu menyita banyak perhatian dia sementara bagi saya pribadi mulai dibuat tidak perduli, bahkan cenderung menyepelehkannya.

Hmm, apa yah?! Dilematis juga sih sebenarnya. Dilain sisi saya bertindak seolah tidak perduli dan benar2 tidak membutuhkan, tapi disisi lain saya gak bisa sangkal bahwa untuk menyambung hidup dan untuk bisa diterima dimasyarakat yah saya harus mengikuti aturan baku yang ada. Tapi permasalahannya sekarang adalah saya bingung!

Analoginya mungkin seperti ini, anggaplah kamu terperosok dalam sebuah jurang tapi disana ada satu tali yang bisa kamu pegangi sekuat tenagamu untuk menyelamatkan hidupmu. Talinya kuat tapi kurang nyaman digenggam dan semakin melemahkanmu. Kemudian kamu berfikir untuk melepaskannya saja toh ketika jatuh nanti kamu percaya bahwa kamu tak akan mati sebelum waktunya, atau tiba-tiba kamu pun yakin bahwa kamu punya sayap dan bisa naik kepermukaan tanpa tali itu. Terdengar konyol? Hmm, mungkin. Selama tidak ada tali lain yang bisa dipegangi, itu namanya "bunuh diri", dan dunia serentak mem"bodoh"kan dirimu dengan tindakanmu itu, haha!

Entah apa analoginya terlewat dangkal apa gak, yah pokoknya begitulah...

Ps. Ini adalah catatan random, ditulis dalam perjalanan dari Batu menuju Malang, diluar macet total! Akh...
posted from Bloggeroid

14 comments

  1. Kok nggak sekalian ke Semeru, Syam? :D

    ReplyDelete
  2. Mampir Surabaya dong mbak,tinggal dikit lagi tuh, ntar kita kopdar! :D

    ReplyDelete
  3. apa ini? analogi tentang apa itu? betul2 random

    ReplyDelete
  4. hmm....
    sekarang tinggal menyesuaikan keadaan kita untuk menerima...
    jika suatu sa'at tali yang kita pegangi, "sudah rapuh dan sudah waktunya" putus....

    kita harus menerima... .-"

    -

    ReplyDelete
  5. @YeN mampir kok mbak, tadi pagi malah. tapi cuman 3jam-an itupun di Juanda aja, hehe :)

    ReplyDelete
  6. @Skydrugz apa ini apa? hehe, semakin random semakin seksiy :p

    ReplyDelete
  7. @srulz ketika itu adalah pilihan, bukan menerima lagi judulnya tapi... jalani :) #eh

    ReplyDelete
  8. nggak ngerti dengan analoginya. bisa lebih di urai mbak?

    ReplyDelete
  9. Ehm....selama tali itu masih menjadi satu-satunya jalan keluar yang paling efektif, kenapa nggak?
    Toh, siapa tau pas mendaki utk keluar dari jurang kita nemu gua yang ntar nyambung dengan jalan keluar lain di atas sana dan ga perlu manjat n' pegang tali itu juga. #fantasiLiar

    Teruz, sepertinya ga ada tali bukan berarti bunuh diri juga sih. Soalnya, kan ada tuh orang yang manjat ga pake tali(Seingetku sih begitu). Emang sih, tergantung kemampuan dan pengalaman masing2. Yah, pokoknya anything is possible lah. Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kita saja lah.

    ReplyDelete
  10. Boleh nambah komen?? Hehe... #rakus amat yah?? :p

    Hem....ga di semua keadaan itu memang harus ideal, selalu berpegang pada aturan a.k.a tali itu. Pun, begitu pula sebaliknya.

    Jadi yah, fleksibel saja lah. Mungkin saja sesuatu yang tidak kita sukai itu nyatanya memang kita butuhkan untuk bisa melakukan apa yang kita sukai. Kalau kenyataannya begitu, apa boleh buat kan? Tapi, mungkin saja dalam perjalanannya kita bisa mengubah apa yang tidak kita sukai itu menjadi apa yang kita sukai, dan juga disukai - baik - bagi orang lain.

    ah, maaf kalau sotoy ^^

    ReplyDelete
  11. Sngat asyik di baca?

    Pertanya: Apakah anda orang makassar?

    ReplyDelete