Powered by Blogger.

[Bandung-Bromo][12.6] Sampai di bromo, Alhamdulillah.

Pasar Tumpang - Malang, 16 Juni 2012; Pukul: 03:17 PM

Jeep yang kami sewa untuk menuju kawasan wisata gunung bromo sudah siap digunakan, Jeep yang tersedia hanya Jeep terbuka jadinya saya dan sule duduk berdua didepan, disamping Pak Mun, begitu beliau minta dipanggil.


Sebelumnya saya perkenalkan, Pak Mun ini adalah Sopir Jeep senior. Saat kami menanyakan umurnya beliau malah bingung, dia tidak tahu berapa angka pastinya bahkan tahun kelahiran sendiri pun tak diingatnya lagi. Ketika ditanya berapa lama beliau menjalankan profesinya, dengan lantangnya beliau mengucapkan kata 20tahun lebih, WOW! Saya lupa sih angka pastinya berapa tapi lamanya itu lebih dari umur kami berdua.

Mobil yang kami tumpangi adalah mobil Toyota Jeep antik, beliau mendapatkannya melalui bantuan Bank seharga 300rb rupiah, wow… itu tahun berapa yah? Mobil harganya cuman segitu? Hihi… pokoknya asli jadul! Orang pengait kunci pengaman pintu saja sudah rusak total, sebagai penggantinya pintunya diikat manual dengan menggunakan tali. Tapi walau begitu, performa mobilnya mantap! Ditambah bapaknya yang juga sudah menguasai medan, klop saja.

Jalan menuju bromo ini bisa dibilang sedikit menyeramkan jika dilalui oleh orang yang tidak biasa, melihat jalan yang rusak, sempit dan berbatasan langsung dengan tebing. Jalur yang kami ambil untuk masuk ke kawasan Bromo adalah jalur yang menyajikan view dua perkampungan secara berturut-turut yang lebih didominasi oleh perkebunan sayur yang benar-benar unik bentuknya, kemudian masuk ke bukit teletubbies dan lautan pasir.


Sebelumnya pun kami diberhentikan disatu tempat samping pos yang mana dari sana kami bisa melihat gunung semeru berdiri dengan gagahnya. Sayang saat itu kabut sedang tebal-tebalnya, sebentar saja pemandangan yang indah itu hilang dibalik kumpulan awan putih.


Dalam perjalanan kami dicegat oleh aktivitas syuting, lumayan menyita banyak waktu untuk menunggu mereka take beberapa scene. Huh! Itu syuting kok dijalan sihhh… kita kan jadi terhalang. Untung lokasinya juga menarik sehingga kami bongkar muat dan mengisi waktu dengan jeprat jepret. Pak Mun sepertinya banyak dikenal oleh orang-orang didaerah Bromo ini, kami sebagai tumpangannya pun mendapat sapaan akrab dari setiap mereka yang lewat. Hmm..


Sebelum melanjutkan perjalanan, saya mulai membongkar tas dan mengambil Jaket tebal yang saya sengaja beli di Bandung kemarin. Cuaca belum menampakkan perubahan drastis, matahari pun Nampak masih ngotot-ngototnya tapi hawanya mulai dingin. Brrrr… ini belum Bromo loh, sensasinya mulai terasa dari sini.

Pukul empat lebih, tibalah kami di daerah bukit teletubbies. Sebelumnya saya mendengar istilah ini dari mas Rawins saat nanya-nanya soal jalan ke Bromo dan see ternyata ini toh bukit yang katanya mirip dengan rumah serial anak Teletubbies yang terkenal tahun 2000an itu? Padang savanna, hijau, tertata rapi. Hihi… kereeeen! Subhanallah #speechless


Kami menikmati bukit teletubbies dari atas mobil. Saya sempat meminta pak Mun untuk memberhentikan mobil karena saya mau pindah di bak saja. Kan lebih terbuka, sehingga pandangan mata lebih luas. Dan benar saja, huaaaa… lebih keren dibanding jika dilihat dari dalam mobil. Belum lagi angin yang begitu sejuk menampar-nampar kami. Hmmm… saya begitu menikmati perjalanan ini.


Dari padang Savana, kami kemudian menyusuri area lautan pasir! Yeaaay… semua pasir, sejauh mata memandang yang ada cuman pasir. Disini kami meminta untuk berhenti dan menikmati lautan pasir yang begitu luas dan hanya ada saya, Sule, pak Mun dan Jeepnya. Tapi ada banyak jejak kaki disini, berikut dengan jejak ban motor dan Jeep. Saya membuka sepatu dan merasakan pasir yang teksturnya begitu lembut, hmmm… ini pastinya bukan pasir biasa, seandainya iyya truk-truk dari kota sudah berbondong-bondong datang kesini buat angkut pasir untuk dijadikan bahan bangunan.


Dari tempat kami berdiri, desa cemerolawang sudah terlihat dari kejauhan. Dan disisi yang berlawanan gunung Batok pun berdiri dengan seksinya, hihi… saya benar-benar baru sadar jika gunung yang selama ini saya kira gunung bromo ternyata adalah gunung batok. Saya coba mengabadikan siluet-siluet terbenamnya matahari dari balik gugusan pegunungan. Akh! Indah...


Pukul setengah enam, saya dan Sule sudah sampai di desa cemerolawang. Dari sini saya tak melihat sunset, yah lagi-lagi karena kabut tebal. Mungkin karena posisinya juga yang berlawanan arah dengan matahari terbenam, jadi yah saya hanya bisa menikmati pantulan Jingga. Sementara si Sule sibuk cari penginapan kedaerah bawah.


Karena kami datangnya dihari libur dan memang sedang liburan, jadinya penginapan serba penuh. Jadinya kami dapat penginapan didaerah belakang dengan harga 150rb, tanpa kipas angin dan AC. Mahal pemirsa! Hahaha… tapi emang di Bromo kipas angin, Ac sm kulkas laku?#kemudianmikir


Malam harinya, saya dan Sule keluar nyari makan. Mau bilang cari angin disini malah kebanyakan angin, suhunya kelewat dingin. Jaket saja tidak cukup, saya pakailah perlengkapan perang yang saya beli seharga 25rb terdiri dari Kaos tangan dan kupluk.


Kami tidak membawa makanan, dan apa-apa disini serba mahal. Masih ada sisa keripik tempe sih yang kami beli di persinggahan bus kemarin, lumayan buat camilan. Tapi karena perut melapar dan seharian hanya makan satu mangkok bakso malang di terminal Arjosari, kami makanlah ditempat yang tak begitu ramai. Sekalian membicarakan bagaimana rencana besok tentang perjalanan menuju Pananjakan I, kemudian kearea Bromo dan perjalanan pulang melalui Surabaya. Hmmm… can’t wait!

PS. Bromo itu, Mempesona!

16 comments

  1. yaaaa...Bromo tak pernah membosankan. Tiga kali kesana dan still hope will visit it again and again....

    ReplyDelete
  2. masih kalah sama Mahameru..
    :P

    tpi saya belum pnah ke Bromo dink..

    ReplyDelete
  3. ...ndak ada acara buang diri dari gunung
    ?

    ReplyDelete
  4. Subhanallah ....
    Pemandangannya, luar biasa cantik ^^ Cantik ^^

    ReplyDelete
  5. saiah aja belum pernah ke situh :(

    ReplyDelete
  6. huaaa...pengen bgt ke Bromo mbak, mpe sekarang belon kesampean

    ReplyDelete
  7. jadi makin pengen main ke bromo, hehe. adem banget ya, mba

    ReplyDelete
  8. anjriiiitttt ... bikin ngilerrrr.... huh :(

    ReplyDelete
  9. ad foto spatu ungu-ny lagiii
    :P

    ReplyDelete
  10. amazing bromo......*mpe keabisan kata2...... :)

    ReplyDelete
  11. Belum pernah ke Bromo.
    Wuih, pengen banget ke Bukit Teletubbies itu :)

    Kapan ya bisa ke sana?
    Kalau di Sumut, saya baru ke Gunung Sibayak aja

    Subhanallah...foto-fotonya keren-keren ya mbak ^^

    Salam kenal mbak

    ReplyDelete
  12. tiap liat postingan ttg Bromo, selalu bagus mempesona, saya juga terpesona cam, makasih udah dibagi2 fotonya :D dan belom kesampean ksanaaa,

    ReplyDelete
  13. kalau mampir kesini keseringan kaya begini,bakal jadi addict alias mau berontak backpacking kemana2 #hah
    harus ditahan dulu deh,

    ReplyDelete
  14. kalo mau irit sebenarnya mendingan sewa sepeda motor trail saja. ga perlu takut nyasar wong rutenya cuman itu itu doang dan gampang nanya ke orang kampung.
    inget masa lalu jaman jadi bekpeker kere..

    ReplyDelete
  15. stasiun baru, terminal arjosari, pasar tumpang, bukit teletubbies-padang savana, lautan pasir, batu singa, cemoro lawang, pananjakan I-pananjakan II, sunrise-sunset, 250 anak tangga-kawah bromo, pura bromo. kuda, jeep, bakso malang, suku tengger...aaarggh kangen!! hehehe maaf saya tersesat disini :D

    ReplyDelete