Terhitung sudah hampir seminggu kamera DSLR Canon EOS 600D milik kak Edo ini ada dalam drybox saya, terkadang begitu menggoda dan merayu-rayu saya untuk minta dipakai tatkala saya sedang mencari sesuatu dilemari yang sama. Apalagi mengingat bagaimana saya yang tadinya juga ingin memiliki barang tersebut, tapi karena pertimbangan satu dan banyak hal akhirnya saya memilih mundur untuk mendapatkannya. Dan kak Edo lah yang menang sebagai pemilik kedua dari kamera tersebut.
Ceritanya, DSLR Canon EOS 600D itu adalah milik kak Aci yang baru empat bulan ini digunakannya. Dalam dunia Fotografi kak Aci bisa dibilang adalah pemula, 600D itulah senjata pertamanya. Tapi karena dia terkena virus akut fotografi dimana kamu akan dibuat candu untuk upgrade, upgrade dan upgrade maka dalam empat bulan dia sudah tak bisa menahan godaan untuk memiliki Canon 5D Mark II plus lensa EF 24-105mm. Harga yang sebanding dengan 1 unit motor saya, bahkan mungkin lebih. Wow!
Saat kak Aci ingin menjual kameranya
itu, saya adalah orang yang pertama ditawarinya. Harganya miring dan
sangat menggoda. Saya tergoda sebenarnya. Kemudian saya minta
pertimbangan Amsyar dan Yudi, mereka user canon dan saya yakin saja
mereka akan memberikan pertimbangan sesuai dengan kondisi saya, sebelumnya saya memang banyak sharing tentang kemampuan dan minat fotografi saya yang tak seberapa. Keduanya memberikan pendapat; tidak usah dengan penjelasannya
masing-masing. Yah kalo dipikir-pikir, iya juga sih. Masuk akal.
Fotografi adalah hobby yang benar menyenangkan, dilain sisi juga sangatlah mahal. Jangankan kak Aci, diawal-awal saya memegang DSLR dan begitu konsen untuk belajar dan hunting, godaan untuk upgrade kamera Nikon D3000 milik saya itu sangatlah kuat, tapi tidak pernah mendapat dukungan dari orang rumah, katanya "untuk apa? Yang penting kan bisa moto" tapi saya membatin "akh, kalian tidak mengerti" untungnya dilain sisi yah memang pos pengeluaran untuk itu juga tidak ada, dan yang paling mendasar sebenarnya adalah saya belum pernah benar-benar menguasai teknik Fotografi dalam artian yah saya belum begitu memaksimalkan potensi dari Nikon D3000 saya. Kalau kata Amsyar berkali-kali kepada saya "kuasai saja dulu senjata yang kamu punya, hingga akhirnya senjatamu itu tidak bisa membendung kemampuan kamu dan kamu benar butuh senjata baru"
Mengingat motivasi awal saya yang sampai hari ini belum berubah, Fotografi bagi saya yah tetap hanya bagian yang bisa menyenangkan saya. Sampai kapanpun saya (mungkin) akan mempertahankannya seperti itu. Jadi, jika saya berinvestasi terlalu besar sementara tidak ada nilai real yang kembali yah sama aja itu adalah pemborosan. Suatu hari nanti saya akan upgrade kamera saya, tapi dengan alasan yang lebih masuk akal. Bukan karena ikut-ikutan atau hasrat semata.
Yang lucu kemudian adalah kak Edo. Jelas-jelas dia yang deal membeli kamera itu dari kak Aci tapi lah kok kameranya malah dikasih kesaya? "Titip yah, dipakai aja dulu" katanya. Alasannya dua; pertama, dia tidak punya tas kamera untuk penyimpanan; kedua, dia bingung itu kamera dia mau pakai untuk apa? #tepokjidat
Dengan adanya ijin "dipakai-pakai aja dulu" sebenarnya membuat saya gemes untuk mengeksplore kamera tersebut saat tak ada kerjaan dirumah. Tapi mengingat harganya yang sangatlah mahal dan saya tau jelas saya tidak ada uang berlebih untuk menutupi harganya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, makanya saya tak pernah berani menyentuhnya. Yah biarlah menjadi prestise untuk drybox saya, kedatangan tamu mahal. Hihi...
PS. Bagaimanapun "NIKON AKU PADAMU!"

Saya malah baru beberapa bulan ini punya kamera saku. Gak berani beli DSLR. Mending duitnya buat ongkos mudik. Toh, kalo objeknya udah bagus, angle-nya pas, tetep keliatan bagus biarpun cuma pake kamera saku :p
ReplyDeleteBtw, kaosnya udah nyampe. Makasih, ya :)
@Millati iya sih, makanya ada istilah "man behind the gun" apapun alatnya kl emang sense of photographnya dah jadi yah hasilnya bagus aja gitu. Hahaha...
ReplyDeletetapi kl mau hasil yg lebih memuaskan lg yah emang musti pake yg sesuai kelasnya. beda harga beda kualitas. dan itu emang masuk akal.
well, semoga cocok yah ukuran kaosnya :)
Nikon dan Canon sama saja, tergantung kebutuhan dan selera. Untuk fotografi petualang, atau kebutuhan model dan studio, dan yang jelas, keduanya punya kelemahan dan kelebihan masing-masing.
ReplyDelete@Rubiyanto Sutrisno Nikon sm Canon ya bedalah mas, tapi saya sepakat bagaimanapun masing-masing punya kekurangan dn kelebihan maka dari itu penggunaannya tergantung selera dn kebutuhan si usernya.
ReplyDeletekapan ya ada orang khilaf yang memberikan sy kamera itu secara gratis..hehehehe
ReplyDeleteSaya pengen punya.. tapi belum ada rejeki, hehe..
ReplyDeleteSemisal kak Edo menitipkannya ke saya, saya juga akan gitu kok. Takut menyentuhnya :)
dipelototin aja ya mbak.. ntar lecet bisa berabe, hehehe...
ReplyDelete@Joni Arifin hahaha... kapan2 katanya ;p
ReplyDeletesetuju mbak ! mencegah lebih baik daripada keluar uang pegi berobat :p
ReplyDeleteSayah pernah punya mas yang kayak ginian, tapi pas rusak, wuih reparasinya muahallllllllll
ReplyDeletesaya termasuk org yg tidak peduli dgn jenis kamera. yg ptg bisa moto.
ReplyDeleteAaaahhh dari dulu gia juga mau punya begonoon.. tapi muahalnya minta ampun yaa mbak hehehe..
ReplyDeleteSukses deh mbak syam melototinnya..
TIDAK..!
ReplyDeletetapi.. .. .. HIDUP 350D
huahaha..!
bawa kesaya dah..
ReplyDelete*nasib pecinta fotografi tanpa kamera mancung.. :((
wew, saya gak bisa moto dong #loncatloncat :p
ReplyDeletetapi tetep lah canon oke jeng, buktinya, saya pake canon awet, gak percaya ? liat aja sini, ada rinter, scaner, semuanya merk canon, wew #kemudiannyengirsambilmikir, hihihihihi ...
wah, sayang dong gak dipakai. tapi daripada rusak memang lebih baik tidak ambil resiko ya ^^
ReplyDeleteSungguh godaan yang sangat berat tuh kak. Apalagi sudah mendapat izin dari sang empunya untuk memakainya. Tapi seandainya saya, saya juga akan berpikiran seperti kamu. Nanti kalau terjadi kerusakan yang tidak diinginkan malah akan merasa nggak enak sama sahabat sendiri.
ReplyDeleteuuuh jadi mupeng punya DSLR. sulitnya merayu ibundaaa huaaaa.
ReplyDeletepakai aja mbak Syam. tapi harus hati-hati juga saat memakainya. sayang kan ada senjata gak dibuat latihan. apa perlu model dadakan? hehehe
ReplyDeletewaduuuh, sy bener² gak ngerti soal fotografi, soal foto ya gak jauh² dr kamera hp dengan hasil : standar. :P
ReplyDeletepenasaran jg sih pengen nyemplung k dunia fotogrfi kayak mbak, tapi cintaku berat di biaya niih :P hhaahaa
kalau harga-nya miring sebenarnya saya juga berminat...tapi kemiringan berapa derajat dulu.. selamat ya atas kehadiran tamu canon-nya, semoga nikon-nya tidak tergantikan :)
ReplyDeleteduh...
ReplyDeletejadi sakit neh inget eos yang kecebut laut
hiks..
asik ya dpt pinjeman uda gitu dirimu bisa memainkannya :D explor terussss...jepretlah aku caam, jepret :D
ReplyDeleteslmt puasa cam