Powered by Blogger.

Introspeksi

Mungkin blog ini perlu pembenahan, tidak hanya dari segi tampilan tapi dari contentnya; bagaimana saya bertutur didalamnya.

Belakangan saya berfikir, saya pun takut jika ternyata apa-apa yang saya tuliskan disini tidak sesuai dengan apa adanya saya. Tidak sesuai antara perkataan dan perbuatan. Tidak sesuai dengan kenyataan, bukankah itu sama saja dengan menciptakan kebohongan publik. Penipuan.

Dalam blog ini terekam setiap kejadian dalam hidup saya, harapan-harapan saya, bagaimana seharusnya saya, bagaimana saya menghadapi setiap kondisi yang kadang begitu melemahkan saya, atau dilain sisi justru memperlihatkan saya yang begitu tangguh dan banyak hal lagi yang bisa mengindikasikan saya itu siapa dan bagaimana. Diblog ini saya bisa begitu rapuh pun bisa begitu kuat. Lain waktu saya bisa menangani permasalahan dengan begitu bijak dilain waktu saya begitu kebingungan, kekanak-kanakan. Dan kesemuanya itu adalah satu-kesatuan, semuanya adalah saya.

Tapi, saya tidak bisa begitu saja mengabaikan komplain dari seorang sahabat tentang saya yang begitu "mengada-ngada" dalam tulisan saya. Walau kita belum pernah bertemu, dia tau banyak tentang saya. Dan saya rasa itu cukup, untuk membuat saya berhenti sebentar kemudian introspeksi diri. Apa saya terlalu banyak "menjual diri" dalam tulisan saya? Hmm...

Kali ini saya tidak akan menyanggah, atau melakukan pembelaan. Pun saya tidak akan berhenti menulis. Saya akan tetap menulis, semua kelakuan, pemikiran dan perjalanan saya. Untuk kemudian saya baca pada suatu hari nanti, dari situ saya bisa melihat bagaimana saya berproses. Apakah membaik atau justru kualitas hidup saya menurun. Seperti saat ini. Tapi saya yakin, ini tidak lama. Saya akan segera membaik dan lebih baik.

Saya berterimakasih sudah diingatkan. Itu seperti sesuatu yang sangat berharga #angkattopi

Ps. Saya bukan penulis fiksi
posted from Bloggeroid

42 comments

  1. iya, semua butuh proses ya kak, yang penting seiring waktu terus bermuhasabah.. eh kenalki agus uin kak to....

    ReplyDelete
  2. aku suka tulisan mbak syam di paragraf akhir :)
    disitu tersimpan nilai semangat yang jarang dimiliki orang saat beberapa kritikan masuk ke pikirannya saat tulisan kita dicomplain dAn bla,bla,bla...

    dan saya salah satu penulis fiksi yang jatuh hati pada tulisan mbak syam ini yang true story tanpa bumbu mengada-ada didalamnya :)

    ReplyDelete
  3. Bener, Mbak..
    Smua butuh proses.. Ketakutan Mbak klo tulisan dan perbuatan tidak sama, pernah pula sy alami, Mbak..

    Smangat, ya, Mb. Sy suka tulisan Mb yg non fiksi, tapi bisa penyampaiannya dalem :).. Keep writting ^^

    ReplyDelete
  4. wah sepertinya saya juga harus introspeksi nih.. angkat topi juga untukmu yang mau menerima kritikan teman tanpa membela diri :)

    ReplyDelete
  5. ya, jika kamu bilang ini tak akan lama,
    maka saya orang pertama yang komplain kalau akhirnya ini menjadi lama..
    jika tujuannya ingin membaik,
    maka titik baik itu ada letaknya, tinggal dijangkau saja,
    jika sudah terjangkau, maka memepertahankan diri di titik itu jauh lebih sulit daripada menjangkaunya dulu,
    menang atau kalah adalah pilihan, bukan takdir..

    ReplyDelete
  6. ya yg terpenting menurut saya lakukan saja..

    salam persahabatan.

    please visit, i will visit back : JadikanPinter!

    ReplyDelete
  7. hmm, kadang tulisan kita memungkinkan pembaca melihat dari sudut pandang yang dia inginkan. jadi, terlepas apakah terlalu mengada-ada atau tidak, itu tergantung orang yang membaca, mba. :)

    ReplyDelete
  8. okelah kalo begitu, wew banget deh pokoknya :p

    ReplyDelete
  9. saya semua tergantung kembali kepada niat bagaimana membangun sebuah blog dari awal sampai detik ini,
    kalau syam bukan penulis,apa lagi saya :(

    ReplyDelete
  10. kalo aku penulis labil kali ya..
    kadang nulis bener, kadang ngaco, kadang lebay..
    ga beres lah pokoknya...:))

    ReplyDelete
  11. ttp semangat syammm, hehe sayang saya malah kebalikanya, ide utk menulis lagi makin mentok. jaringan internet ada masalah dan itu seperti merampas semangat saya. hikzz..

    ReplyDelete
  12. @hima-rain InsyaAllah Hima, hmm... Agus Isnaen? Iyyah kenal kemarin2 sering ketemua, knapai?

    ReplyDelete
  13. @Sarnisa Anggriani Kadir Akh! Terimakasih Nis... sampe bingung mau ngejawab apa, hehe :)

    ReplyDelete
  14. @Happy Fibi Ketakutan yang wajar mungkin yah, yah pastinya hal ini bukan jd alasan untuk sy berhenti menulis tapi lebih pada untuk memperbaiki kualitas tulisan saya :)

    ReplyDelete
  15. @NF Yah, mari sama sama kita melihat rekam jejak kita mungkin ada yang salah selama ini Nu'

    ReplyDelete
  16. @Yudi Darmawan Setelah mengingatkan tugas kamu selanjutnya adalah percaya dan yakin kalau sy memang bisa! Yah saya bisa!
    Silahkan komplain kembali jika apa yg terjadi sekarang terlalu berlarut2 :))

    ReplyDelete
  17. @Ila Rizky Nidiana iya ada benarnya, karena tulisan adalah sesuatu yg bisa dimaknai beda sesuai pemahaman pembacanya. kalau dlm.case ini mungkin beda, karena pembaca memiliki informasi lebih ttg kondisi penulisnya. yah seperti itulah kira-kira :)

    ReplyDelete
  18. @Skydrugz Hmm, jadi kenapami beng???

    ReplyDelete
  19. @Andy hihi, iya betul kembali pada niatan. tapi bukan berarti pendapat org bisa diabaikan bgitu saja...
    kita sama-sama penulis andy, dengan genre kita masing2. Haha :p

    ReplyDelete
  20. @Ay Sagira Saya pun masih suka ngaco mbak, gak beres juga. hihi. Diblog ini semua rasa ada deh kayaknya :p

    ReplyDelete
  21. @Yayack Faqih pasti semangat dong Yack, hihi... wah masa menulisnya tergantung koneksi sih? Buat draft aja, yah kl mmg layak go public barulah di post. membiasakan diri sj dulu #soktua

    ReplyDelete
  22. jangan...
    tar kaya aku dianggap suka membuka aib sendiri

    ReplyDelete
  23. postingnya pakai android mbak ?? *keren *
    saya penulis sembarang tulisan... :D #gjmodeon

    ReplyDelete
  24. hmmm g ngerti maksudnya mengada-ngada...

    saya sendiri ada rencana menghapus sejumlah postingan di blog. sering nyesel kalo sudah ngepost postingan tertentu. bukan karena "mengada-adanya" tapi karena sewaktu saya baca lagi, ada suara di kepala saya yang serta merta berteriak; "ALAY!"

    ReplyDelete
  25. Ada saat dimana kita kuat dan bisa menyelesaikan masalah. Tapi terkadang dalam kondisi tertentu, kita juga lemah dalam suatu hal. Rasa galau, bosan juga sering menyelimuti. Dengan menuliskan di media blog, terkadang perasaan jadi plong meskipun harus memperlihatkan sisi kelemahan kita. Mungkin dari situ kita bisa mendapatkan saran atau jalan keluar dari sobat blogger.
    Angkat topi pokoknya dah...

    ReplyDelete
  26. berproses saja syam, mendengarkan pendapat org lain bole2 saja, tp yakinkan bahwa pemikiran org tersebut berada di level yg sama (spy ga waste your energy), yg penting kamu jujur dlm menulis..ga tau pendapat org lain klo saya sih enjoy banget and "i get you"

    ReplyDelete
  27. @Rawins hehehe, kl yg cerita nyaman2 aja gpp kali mas :p

    ReplyDelete
  28. @srulz hihi, sama dong kita. penulis segala, segala apa pun ditulis :p

    ReplyDelete
  29. @Huda Tula ya gitu deh...

    ih, gak usah pake dihapus kali. anggap aja itu khilaf, hmmm sisi lugunya kamu ding. Yah, walau agak memalukan tapi seruuu kali Hud buat ditertawakan dikemudian hari :p

    ReplyDelete
  30. @HP Yitno kalau saya pribadi, lebih sering menulis dg gaya monolog. yang penting perasaan tersampaikan itu cukup, toh kalau ada respon dr blogger lain itu adalah bonus.

    angkat topinya jangan tinggi-tinggi :p

    ReplyDelete
  31. @fems'kitchen and story Akh, tantee! Saya masih syam yg sama tant, belum banyak berubah. Yang tak akan begitu perduli dg pendapat org lain. Kecuali mereka yg memang berarti untuk saya.

    Hihi, terimakasih sudah mengenali saya dengan baik. Sampai kapanpun saya akan tetap menulis, jujur dari dalam hati #kayakjudullagu

    Miss U so *peyuk*

    ReplyDelete
  32. Hem...Kadang memang bisa "lebay" dalam menceritakan diri dan kehidupan kita. Yah, selama ga terlalu mengada-adakan yang tidak ada sih, ga masalah kan?

    Toh, terkadang memang kita merasakan sesuatu yang lebih di dalam diri kita, meskipun itu tidak terlihat di luarnya dan tidak terlihat pula oleh orang lain. Tapi, itu nyata, apapun dan seberapapun besarnya perasaan yang kita rasakan itu.

    Jadi, ya aku rasa ga ada masalahnya menuliskan apa yang kita rasakan itu, sesuai dengan apa yang memang kita rasakan. Jika itu memang bagian dari "mengalirkan" emosi kita, berbagi dan yah, apapun yang positif lah ^^

    Semangat mbak!! :D

    ReplyDelete
  33. @kacho ya begitulah, kadang ketika sesuatu itu sudah terlewat masanya barulah dirasakan kok seperti berlebihan yah? hihi...

    yah kadang emosi kita membuat kita pun terlihat mengada-ngada, karena yang sebenarnya kita tulis (mungkin) adalah gambaran ideal tentang sesuatu. ya kurang lebih begitulah :D

    ReplyDelete