Powered by Blogger.

Pria Bersarung Ungu

Ini adalah cerita tentang seseorang yang tak seberapa istimewa, tapi ternyata menjadi orang yang selalu membuat saya tersenyum-senyum ketika saya menginjakkan kaki di Mesjid... 



Sejak kelas 4 SD saya mulai didekatkan dengan Mesjid. Setiap hari saya diharuskan untuk shalat magrib di Mesjid belakang rumah kemudian dilanjutkan dengan aktivitas mengaji. Sampai kelas 6 SD saya masih di mesjid yang sama, dibelakang rumah, hingga pada akhirnya aktivitas belajar harus diberhentikan karena gurunya satu persatu mulai disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sibuk kuliah, subuk bekerja, ada yang menikah dan harus pindah. Tidak ada regenerasi. Dan TPA dibubarkan begitu saja sementara saya belum benar-benar mengerti bagaimana membaca Alquran dengan baik dan benar. 

Beruntung didepan kompleks pun ada mesjid yang juga menerima santri untuk belajar mengaji, didaftarkanlah saya. Mesjid ini terletak dijalan besar, itu sebabnya anak-anak yang juga mendaftar disini dari banyak daerah perumahan yang berbeda. Pergaulan saya makin luas dan saya mulai banyak mengenal orang-orang yang rumahnya entah dimana. Kalau dulu di mesjid yang lama yah temannya paling kalau bukan tetangga samping/depan rumah yah tetangga depan lorong. 

Hmm... di Mesjid inilah pada akhirnya saya dipertemukan dengan seorang pria yang hanya terkonsep "baju koko putih dengan sarung ungu bercorak putih dan tanpa penutup kepala". Kapanpun saya teringat dia yah hanya gambaran itulah yang muncul dan berlari-lari dipikiran saya. Pada setiap pertemuan, dia hanya ada dalam balutan pakaian itu. Pun saya tidak pernah benar-benar tahu nama aslinya siapa, dia hanya dipanggil dengan julukan "santo" oleh teman-temannya. Sementara saya, tak sekalipun pernah memanggilnya atau menyapanya langsung. 

Lantas apa yang istimewa dari pria itu? Hmmm... tidak ada! 

Tapi dia bukan orang yang kisahnya bisa saya lupakan begitu saja. Karena dia adalah pria pertama yang menaruh hati pada saya justru diusia yang sebenarnya ingus masih suka nangkring dihidung. Belum ngerti mengurus diri. Hahaha... konyol! Usianya 2-3 tahun lebih tua dari saya, dia bukan santri ditempat saya tapi sangat rajin untuk datang shalat berjamaah Magrib dan Isya. Pada beberapa kesempatan saya selalu mendapatinya melantunkan Adzan pada dua waktu shalat tersebut. Pun saya sering mendapatinya tersenyum ketika kami saling berpapasan. Saya tak pernah benar-benar tahu tentang keberadaan dia diantara kami, hingga semua teman-temannya mulai mengusik saya. 

Pria tersebut tak pernah menyatakan suka sama saya, tapi semakin lama keberadaannya semakin nyata dalam keseharian saya di mesjid itu. Senyumnya, lirikan matanya dan segalanya tentang dia ke saya terjadi begitu natural sehingga saya tak sadar bahwa itu adalah sesuatu. Kami mungkin masih sama-sama polos. Tapi kepolosan itu lantas diusik oleh teman-temannya yang selalu saja mengganggu saya dengan acara "titip salam". Yah nyali anak usia SMP jaman dulu cuman segitu, belum banyak yang mengerti "nembak" dan "terkapar". Hahaha... 

Fantasi kebahagiaan anak remaja hanya dengan saling melihat dari jauh dan memastikan kami masing-masing dalam keadaan baik hanya berlangsung setahun lamanya. Kami tak pernah terlibat percakapan berarti. Selalu ada orang kesekian sebagai penyambung maksud. Dan kami mulai dipisahkan oleh kesibukan masing-masing. Kelas 2 SMP saya tak lagi intens datang ke mesjid. Saya sudah khatam dan wisuda santri. Pun PR dari sekolah mulai merengek minta perhatian lebih. Hingga pada akhirnya saya tak lagi datang ke mesjid. Dan kami tak lagi bertemu. Entah dimana dan jadi apa dia sekarang.

Dua hari ini saya kembali akrab dengan Mesjid. Dan sama seperti sebelum-sebelumnya, dan entah sampai kapan, dimana ketika saya masuk dalam mesjid itu selalu saja ingatan tentang dia terlintas seketika dan membuat saya tersenyum. Hihi... 

Apakabar kamu? 
Semoga kebaikan senantiasa bersamamu 
Jika dengan mengingat itu disebut rindu, 
hmm… yah mungkin saya rindu dengan masa kecil saya 

PS. Ramadhan selalu akrab dengan kenangan masa kecil

12 comments

  1. Ahaaaa.. rupanya ada kisah manis di sini :)

    ReplyDelete
  2. @RZ Hakim semanis madu yah mas, atau lebih manis mungkin... hahaha

    well, maaf sy belum bisa BW nih. Saya lg dilanda "galau browser", sy gak bisa komen diblog orang termasuk di blog sendiri. kecuali mengandalkan fasilitas reply macam ini.

    akh, itu knapa ya? hmm...

    ReplyDelete
  3. Hemmm...a piece story from the past yang ada kemiripan dengan saya neh. Hanya bedanya, central aktifitas mengaji saya adalah 'langgar' atau surau/musholla dan sistemnya konvensional [bukan model TPA]

    Sejak kelas 3 SD sampai kelas 2 SMA meskipun sdh khatam saya tetap rajin ke musholla sampai kelas dua SMA. Ada sosok yang membuat saya juga betah berlama-lama, dan mencari-cari secra diam-diam jika tak kelihatan sosoknya.

    Konyolnya, saya tak pernah punya keberanian utk menyapanya lebih dulu. DAn belakangan ketika kami connect dr FB dan gak secanggung tempoe doeloe...dengan becanda saya bilang klo dulu gak pede mau nyapa dia. Eh, ternyata dia juga bilang kalau saya dulu bikin dia gak brani juga utk menyapa-nyapa...#ikutan curcol

    ReplyDelete
  4. .Yg jelas bukan gue orangnya, syam! Kalo ketemu titip salam ke dia ya... Cie...cie... Apa sih yg gak di masa smp slaen cinta monyet? Gak di sekolahan, di mesjid pun jadi! Bhahaha, met puasa, Syam... ;-)

    ReplyDelete
  5. baca sambil senyum senyum...

    ReplyDelete
  6. Salam kenal..
    heummm...jadi inget masa lalu >_<

    ReplyDelete
  7. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    Pikiran yang positiv dan tindakan yang positiv akan membawamu pada hasil yang positiv.,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    ReplyDelete
  8. @Ririe Khayan ecieee "p
    eh tapi kadang jatohnya jadi lucu yah ketika kita ketemu dg teman lama yg dulunya itu ada "sesuatu" dan saling bilang disaat sekarang jadinya yah, hahahaha...

    ReplyDelete
  9. @eksak ecie cieee... hahaha #apasih
    iya selamat puasa juga bang eksak, hehehe... telat bgt balasnya yak :)

    ReplyDelete
  10. @Huda Tula jangan lebar2, ntar dikira org gila...

    ReplyDelete