Akhir dari sebuah rasa

September 11, 2012

Losari, 10 September 2012

Terimakasih untuk bersedia ada dihadapan saya;


Malam ini saya memintamu untuk datang menemani saya dengan diam. Tapi kamu menolak dan memilih untuk banyak bercerita, tentang siapa dirimu saat ini. Saya pun akhirnya ikut bercerita tentang saya yang perlahan kehilangan daya juang dalam karir. Kemudian kita banyak membahas tentang kebahagiaan, ya kita telah sama-sama tahu bahwa bahagia itu bentukan diri. Siapapun mereka yang ada bersama kita pada akhirnya. Kita hanya perlu membiasakan diri untuk menjadi pemeran utama dalam setiap sekenario yang mungkin jalan ceritanya tidak pernah kita duga sebelumnya, bahkan tidak kita inginkan. Meng-ikhlaskan apa yang sudah waktunya dilepaskan, mengejar apa yang harus dikejar, diraih dan dimiliki.

Adamu malam ini adalah untuk membantu saya membebaskan rasa, yah ini hanya soalan perasaan. Saya melisankan rasa dimasa lalu, yang juga telah lama kamu ketahui. Tapi kamu tetap memberi saya tanya "kenapa bisa dipendam sebegitu lama?  kenapa akhirnya menyerah?" dan saya terbahak, kamu tak pernah sekalipun menjadi sesuatu yang saya inginkan. Saya cukup tahu diri, walau tak bisa saya pungkiri, rasa itu ada dan bertahan lama, kamulah orang yang selalu bisa membuat saya jatuh cinta pada setiap pertemuan. Maka menghindarimu adalah hal terbaik. Lagi pula, ini hanya bagian dari masa lalu yang belum berlalu, bagian yang telah saya mulai dan ingin saya selesaikan dengan cara saya.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada…”
Sapardi Djoko Damono

Saya putuskan tak lagi mencintai(mu) secara sederhana, seperti dulu pada dua ribu lima ratus dua puluh hari yang lalu hingga malam ini. Saat ini saya telah sampai pada pemahaman bahwa cinta itu haruslah menjadi hal yang rumit, memiliki ritme naik-turun, saya ingin mencintai secara realistis begitu pula sebaliknya saya ingin dicintai. Akan ada masanya saya menemukan seseorang yang akan tetap menggenggam tangan saya bahkan ketika dia merasa tak bahagia.


Apa ini kencan? tanyamu...
Ya, ini adalah kencan kita untuk pertama dan terakhir kalinya.

-Happy Ending-

You Might Also Like

30 Comment

  1. hickz,so swetttttttttttttttttttt syam :D

    ReplyDelete
  2. bisa tidak berhenti dengan ini,
    kalau tidak ada lagi ya tidak ada lagi,
    kenapa tulisan ini masih ada,
    pasti kamu jawab, ini yang terakhir kok..

    huh, gampang ditebak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ini terakhir
      dan kamu! Berhenti menebak-nebak saya -_-"

      Delete
  3. berat...
    kalo baca tulisan ibu ini
    dua kali baca aja belum mudeng
    haha payah amat yak..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, padahal si mas paling paham tuh soal gini-ginian :)

      Delete
  4. belum ngerti kemana alur ceritanya :D
    hihi, followed ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak penting untuk dimengerti, ya welcome to my life :)

      Delete
  5. curahan hati seorang wanita cerdas emang muncul tulisanya kaya gini haha yg gak ngerti ngacung :D

    ReplyDelete
  6. Sebelumnya koment ngalor ngidul,,,,
    Mohon maaf lahir batin ya Syam. Minal 'aidin wal faidzin.
    Masih bau bau Lebaran, kan? :D

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. hahaha..! miris..!
      jadi pengen joget2 shuffle di depan kamu, buakakakak..!
      ouw.. ouw.. ouw..

      Delete
  8. jiah..
    asik lamaran lamaran lamaran.
    eh ntu sapardji apa sapa ya? khahlil?
    puisinya meragukan tuh sapa yang nyiptain..

    perasaan terpendam....
    menyakitkam utnuk diungkapkan, dan menyenangkan jika terus dirasakan :p

    ReplyDelete
  9. *Aduuuh
    kreeeeeeen...
    swit-swit ;P

    ReplyDelete
  10. kutipan yg itu sy pernah baca dimana ya?
    hmmmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, itukan potongan sajak "aku ingin"

      Delete
  11. Ciee...ciee
    rasa apa memangnya ?

    ReplyDelete
  12. ahh saya ketinggalan kan. Ini nih bukan sepenggal cerita.. beuhh
    From Losari with Love yah :) Cinta oh cinta, bisa dirasa kadang tak bisa meraba (lhaaaa, jewerrr)

    cam, iku sopo toh? happy ending? sure cam?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, happy ending dlm versi yang berbeda
      karena tidak selamanya "bersatu" itu lebih membahagiakan

      Delete

Instagram