Powered by Blogger.

Palu dan Pak Iskandar

Jumat, 13 September 2012

Sebenarnya tujuan utama ke Palu adalah dalam rangka tugas kantor, adalah beberapa hal yang harus diselesaikan. Penting dan mendesak. Sekitar pukul 07:25 pagi saya sudah muncul dikantor, belum ada karyawan yang datang, hanya ada cleaning service yang sibuk beres-beres, absen pagi, mengambil beberapa berkas yang harus saya bawa, menyalakan komputer dan memastikan brankas saya tertutup sempurna. Telepon taxi. Beres. Pukul 08:10 saya bergegas menuju badara sultan hasanuddin. Sendirian.

Perjalanan dari kantor saya yang terletak di jalan Hos cokroaminoto menuju Bandara Sultan Hasanuddin yang terletak di perbatasan Maros memakan waktu sekitar 45 menit, kondisi jalan Tol normal. Pagi itu tidak ada halangan, dan saya tiba sesuai prediksi. Chekc-in. Menunggu boarding di Gate 1. Take-off. Done! 

Pukul 10:50, saya sudah tiba di Palu. Kesan pertama dari ketinggian beberapa meter, sesaat sebelum mendarat; Palu itu gunung dan ditutupi oleh banyak pohon kelapa yang tinggi menjulang. Cantik. Peswat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Mutiara, ini pertama kalinya saya tau tentang bandara ini. Hihi, katrok yak! Bandara mutiara ini kecil, seukuranlah dengan Bandara Hasanjuddin di Pulau Belitung. Tapi tampak dari posisi saya berdiri, dari kejauhan terlihat aktivitas renovasi, katanya bandara ini masih sementara diperbaiki, akan diperbesar. Dan dari bentuk atapnya, bandara baru di Palu mirip dengan Bandara Sultan Hasanuddin.

Saat keluar dari terminal kedatangan saya langsung saja memesan taksi bandara. Untuk wilayah yang saya akan tuju itu dikenakan tarif Rp. 45.000,- dan ikutlah saya ke area parkir dimana mobil yang akan saya tumpangi berada. Eng... Ing... Eng... taksi bandara dalam bayangan saya ya seperti taksi pada umumnya. Sedan dengan logo perusahaan dan warna khusus, minus argo. Tapi mobil yang saya tumpangi ini adalah Avanza hitam, plat DN-hitam. Pas saya tanya-tanya ke pak sopirnya, ya pak sopir bilang memang ini taksi. Kalau taksi sedan itu disebut mobil argo, dan itu hanya ada ditengah kota dan tidak nge-tam di Bandara kecuali untuk mengantarkan penumpang ke Bandara. Itupun kalau mau naik taksi itu harus di telpon dulu, karena agak susah kalau hanya ditunggu dijalanan. Seperti di Kota-kota besar pada umumnya. Ow okeyy...!


Perjalanan dari Bandara menuju kantor cabang HK Palu tidak memakan waktu lama, sekitar 30 menit sampai. Palu itu kota kecil, anti macet dan masih sangat lowong. Tapi sepanjang jalan pertokoan, kantor, rumah dan sekolah lumayan padat. Tiba-tiba saya mikir, ini kok ya orangnya pada kemana yah? hihi... mungkin karena kota saya yang pada setiap jamnya jalanan selalu ramai, serasa manusia kok gak ada berhentinya punya urusan dijalan. Macet dan sumpek. Pak sopir bilang, ya Palu memang begini, belum begitu padat. Dan lagi bukan daerah tujuan wisata juga kan.

Oia, sepanjang jalan kita akan disuguhi oleh pemandangan gunung. Yah kalau kata om gugel Kota Palu terletak di celah sebuah teluk, yang cukup jauh menjorok ke daratan. Sehingga daratannya mengelililing laut, dengan gunung gunung tinggi di sisi sisinya. Kota kecil ini dibangun di antara laut dan gunung. Daerahnya sangat panas di siang hari, dengan suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Maklum Palu terletak tepat di lintang 0 derajat garis Khatulistiwa.

Pukul 11 lebih, saya sudah sampai dikantor. Yah masih harus menunggu Pak Is pulang dari Samsat, sebelumnya saya sudah janjian akan datang jam sebelas lebih tapi karena ada urusan mendadak jadinya saya tidak langsung bertemu beliau. Pak Is adalah karyawan Hadji Kalla Palu yang selama dua tahun belakangan ini intens saling berkomunikasi dengan saya untuk penyelesaian surat-surat kendaraan customer kami untuk wilayah operasional Palu. Sejauh ini kerjasama dengan beliau menyenangkan, kerjanya cepat dan tuntas, kalau lewat telepon orangnya sangat dingin dan to the point, aslinya? Yah sama saja... tipikal orang cuek. Tapi okelah selama saya di Palu saya dilayani dengan baik, semua data yang saya bawa saya serahkan untuk kemudian diproses kembali, dan saya mengambil beberapa berkas plus BPKB untuk dibawa pulang. Saya kembali dijelaskan (diperjelas) mengenai proses pengurusan surat-surat kendaraan, plus kendala-kendala yang biasanya muncul pada beberapa kasus.

Sebelum shalat Jumat, urusan saya dan Pak Is beres. Masih ada beberapa berkas yang belum keluar dari Polda Palu, makanya pak Is akan menghubungi saya secepatnya, sebelum saya kembali ke Makassar. Waktu ditanya kesini dengan siapa? saya jawab sendiri, trus ditanya lagi "disini ada keluarga?" saya jawab "ada" dan dikepala saya yang terbayang saat itu adalah muka Unni.

10 comments

  1. di maros bandaranya sukarno hatta juga..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadduh, parah! Ini mah bukan typo lagi totally eror otaknya
      padahal paragraf sebelumnya udah ditulis sultan hasanuddin
      Well, udah diubah mas. Tengkyuw yak :p

      #tepokjidat

      Delete
  2. jadi pengen jalanjalaaaaannnn :(

    ReplyDelete
  3. Perjalanannya cukup memakan waktu juga yah tapi syukurlah sesuai rencana

    ReplyDelete
  4. jiahh, saya baru baca postingan yg ini , kakaaaks :D
    saya suka skali endingnyaa ^^

    hhahaaa, kapanki lg ke Palu,? rame mi skarang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, next time cantip :)
      i'll call you lah...

      Delete