Ayo ke Soroako


Seminggu yang lalu, jam segini saya dan 3 orang teman saya lainnya (Odhani, Repong dan Neni) sedang bersiap-siap untuk meninggalkan Soroako untuk kembali ke Makassar. 

Adalah Soroako, satu desa tambang yang berada diujung Sulawesi Selatan. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk menjangkau daerah tersebut adalah 12 Jam perjalanan via darat, melewati beberapa kabupaten dengan rute: Makassar – Maros – Pangkep – Barru – Pare2 – Sidrap – Wajo – Belopa – Palopo – Luwu utara – Luwu timur – Soroako, hmm… perjalanan lintas kabupaten untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini kami memilih waktu perjalanan malam hari, biar sekalian bisa isirahat dijalan karena memang waktu kunjungan kami terbatas waktu. Maklumlah, menghabiskan sisa-sisa cuti lebaran.

Awal tercetusnya ide “ayo ke Soroako” pun itu dari Odhani, ketika kami iseng ngobrol (chat) untuk menentukan destinasi liburan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya. Maklumlah, sekarang kami sudah sibuk dengan kerjaan masing-masing, sesekali merasa butuh untuk liburan bersama untuk tetap menjaga apa yang sudah kami bangun, yah mumpung masih belum berkeluarga juga kan yah.

Ada apa disoroako? Itu adalah pertanyaan paling populer yang saya terima, hmm.. saya jawab saja “Ada Alfia”, yah Alfia adalah sahabat saya semenjak kuliah dulu. Dan seumur-umur berteman, saya dan teman-teman lainnya belum pernah sekalipun mengunjungi rumah dia yang memang letaknya tak terjangkau oleh kami yang masih anak kuliahan dulunya.

Soroako adalah desa kecil yang terkenal dengan tambang Nikelnya, ada Inco yang kemudian dikenal dengan nama Vale sebagai perusahaan pertambangan yang menjadi perusahaan tempat Alfia bekerja. Soroako itu kecil tapi luas, sunyi tapi tidak mati. Selain provider merah, tidak ada sinyal komunikasi lain yang aktif disana. Haha… itu akan selalu saya ingat! Oia, Soroako ini banyak mengingatkan saya dengan Belitong.

Hmmm, lebih detailnya saya akan bercerita dengan santai diBlog saya ini dalam beberapa judul postingan, yah biar tidak kepanjangan. Sudah ditunggu-tunggu dan ditagih tagih juga sih #berasaartis

 

14 comments:

  1. suka rada aneh dengan operator telpon
    seputaran tambang tuh banyak orang jauh dan kebutuhan komunikasi tinggi. orang aku saja sebulan pulsa bisa 500 ribu. tapi kenapa sinyal susah..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, iya mas... org yg operator merah itu aja masih suka gak jelas yang diseberang ngomong apa.

      500rb, wow banget! hihi... dijajah operator tuh

      Delete
  2. Nunggu cerita lanjutan, ah. Biar esok bisa dateng lagi :)

    ReplyDelete
  3. Waw 12 jam, kayak Jakarta-Jogja gitu ya... jauh kalau darat...
    Jappa Jokka itu apa mbak?

    ReplyDelete
  4. Soroako kayaknya akan meninggalkan cerita seperti laskar pelangi. Masih banyak yang asri kan kak disana??

    ReplyDelete
  5. Alfia? itu sahabat saya juga :D
    12 jamnya itu lho Mas Syam. Lama sekali..
    oia, pas ada kata Maros, saya juga punya dua teman di daerah maros, terakhir ketemu pas SMP -___-

    ReplyDelete
  6. Di tunggu episode berikutnya dan jangan lupa gambar - gambar nya juga....kalau saya baru sampai Bone dan soppeng.

    ReplyDelete
  7. foto yg plg bawah bagussssssss, aku kira itu buat sampul depan buku >.<

    aku pas lebaran kemarin juga ngunjungin tempat yg sunyi tapi ga mati, di plosok jg sih.

    ReplyDelete
  8. :o sampe segitukah, satu provider aja. yang ada sinyalnya... :wew

    ReplyDelete
  9. kalau ke soroako..jangan lupa nyebur di danau matano ya :)

    ReplyDelete
  10. kalau ke soroako jgn lupa bawa pulang orang soroako...jadikan org makasasar

    ReplyDelete
  11. jadi tidak sabar ingin lebih tahu tentang soroako.

    ReplyDelete
  12. Baru denger daerah yang nama'a Soroako mba ? #hadeh kurang berawawasan aku :(

    ReplyDelete
  13. Tinggi di makassar tapi gak pernah ke soroako, berasa gagal jadi orang sulawesi :( #pffftt

    ReplyDelete

Powered by Blogger.