Furla

Percakapan dengan seorang Marketing dikantor, pada suatu hari:

"Tas baru nih"
"Iyyah, murah meriah"
"Dapat berapaan memangnya?"
"700an lah yah, sudah dengan ongkir itu"
"Wow"
"Ini barang KW, tapi kelihatan seperti ori. Punya anu harga 500an tapi kelihatan banget kalo barang KW. Beda dengan punya si anu, dia belinya 2jeti-an Ori, mana mampu saya bo' duit segitu"
"WOW!"

-kemudian salto-

Demam candy bag furla mewabah dimana-mana, setiap perempuan merasa perlu menjingjingnya mulai dari kalangan kelas bawah hingga kelas atas, tas dari harga ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta. Itulah mengapa istilah Ori, KW1, KW2 dan KW seterusnya begitu akrab ditelinga.

Miris sih sebenarnya, atau mungkin hanya karena sayanya yang kurang update dan pada dasarnya memang kismin? #bedatipis

:p

Furla limited Edition, hahaha...

***

Well, Sabtu kemarin saya iseng beli buku yang judulnya Hermes Temptation, buku yang berisi kumpulan cerita kehidupan perempuan-perempuan kalangan jetset yang begitu menggandrungi tas Hermes bahkan mereka sampai berburu ke Paris, ikut antri panjang berdesakan dengan turis Jepang demi memperoleh satu tas yang diproduksi musiman dan limited edition untuk setiap jenisnya itu, dan yang bikin saya berdecak tak percaya bahwa harga tas itu dibandrol mulai dari USD 5.000 hingga USD 15.000. Seharga mobil, Wow!

Saya belum selesai baca semua sih, tapi baru beberapa halaman saja saya dibuat semakin miris kok bisa yah? Perempuan-perempuan itu sudah seperti orang psyco, menggilai sesuatu pada level tak wajar, they sold their soul! (Istilah Samuel mulya ini). Saya kira teman saya yang membeli tas seharga 2juta atau ada yang bahkan 10jutaan itu sinting, ternyata ada yang lebih sinting. Errr! Memang benar kata pepatah kalau uang itu banyak "setannya", yah kalau tidak membuat sombong yah seperti ini, hidup berlebihan.

Oke... oke... itu bukan urusan saya sebenarnya, duit juga duit mereka. Tapi yah tetap saja kasian. Apalagi ada satu statement dalam buku Hermes Temptation yang nyata-nyata menuliskan bahwa: menjinjing tas Hermes ternyata tidak memastikan pemiliknya bahagia. Itu hanya soalan prestise, dimana ketika ada orang lain yang lebih hebat maka kepala sendiri yang pusing duluan. Ini apa namanya kalau bukan iri hati? hidup oh hidup...
“... and I won't let what I have or what I don't have dictate whether I'm superior or inferior to others”
Kapan-kapan kalau ada kesempatan saya akan mereview bukunya lebih dalam disini, belakangan saya pun begitu tertarik dengan buku-buku yang membahas soalan sosialita. Kehidupan kaum metropolitan. Khususnya kaum perempuan, kaum saya, sasaran utama KONSUMERISME.

***

Percakapan dengan marketing yang sama, pada kesempatan lain;

"Tas baru lagi?"
"Iya nih, Webe harganya cuman 400an. Lucu..."
"Kau di' sinting!"
"haha... memang begitu sayang. Perempuan. Sekarang kau bisa bilang gila, tapi nanti kalau uangmu sudah banyak, yakin saja kau akan masuk pada pola hidup yang akan mementingkan prestise"
"..."

Doakan saya istiqamah teman-teman, jadi kalau umpamanya saya sudah kaya raya dan jadi jutawan (atau istri jutawan) saya tetap tidak akan tergoda membeli Furla, Hermes dan kolega-koleganya #Amin

-SM-

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

28 comments:

  1. Dulu aku beli tas yang harganya di atas 50 ribuan aja rasanya gak rela (maklum, dompet tipis).

    Tapi, sekarang sudah agak mendingan lah, gak terlalu pelit buat beli tas laptop seharga 200 ribu *emang nggak nemu yang lebih murah :'(

    Mungkin mereka bingung, Syam, duit mereka mau diapain, jadi dibeliin tas mahal, deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi ya mbak, kalo dipikir2 kenapa juga musti pelit sm diri sendiri kl memang duitnya ada? yang salah itu kalau sudah berlebihan, ya gak?

      tas leptop yg bahannya bagus emang rada mahal sih :)

      Delete
  2. coomentnya, saya juga msh suka pke furla limited edition itu lho? klo beli furla...hemmm #mikir 1000000000.....X

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl furla yg limited edition itu mah akan eksis sepanjang masa :)

      Delete
  3. pada satu masa, saya pun pernah di posisi sepertiitu, ketika uang tak lagi jadi masalah :)
    tetapi ke sninya, meningkatnya kesadaran juga karena uangnya juga menipis ya tobat. sekarang beli tas aja maunya yang 50rb an hahaha
    apapun udah gak branded
    gak sangka juga sih bisa tobat, tapi itulah di mana ada kemauan di situ ada jalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, komen mbak nik lucu sangat nih...

      musti buru2 tobat yah mbak dari pada jatuh kismin, berabeee!

      Delete
  4. furla?
    apa itu? kok terdengar seperti merek lap

    ReplyDelete
    Replies
    1. lap? hmm... lap apaminjo ada mereknya --"

      Delete
  5. saya gak habis pikir, buat mata saya tas hermes tas bibi saya keliatanya sama aja padahal harganya jauh berbeda. tas bibi saya cuma 80 ribu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, sinting kan? tp kl udah urusan hermes gak liat bagus atau gak lagi yack, udah masuk soalan branded apa gak? itu yg utama...

      Delete
  6. furla,....begitu akrab d telinga....
    akrab dan berdamai dg dompet...?!!!
    nanti dulu...hehehe....

    ReplyDelete
  7. addeh nda kutauki merek2 begitu kak. yang penting nyaman, merek kagak masalah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkw, iyo hima...
      ndak pentingji jg do' untuk ditau :p

      Delete
  8. saya ingat sama salah satu tulisannya Ratih Sang, sembari baca tulisan ini, kak cham. tentang penyesalannya membeli sebuah tas yg pada akhirnya nyadar dengan nilai "sebegitu" bisa membangun sekolah untuk ratusan murid di kampung atau membangun amal jariah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow! furla memang efeknya dahsyat, sampe2 jengput ikut komen :)

      ya bgitumi put, sempatji juga keluar statement dr adekku berapa banyak org miskin bisa dihidupi untuk satu tas mereka. hidup memang terlalu terlihat timpang kalau kita ada digaris antara.

      hmm...

      Delete
  9. Amin..
    saya sendiri juga suka ga habis pikir kenapa mereka suka kayak gitu. ditambah lagi mereka itu biasanya hobinya ngoleksi, jadi tas-tas yang udah susah payah didapetin dengan tenaga dan harga super mahal itu pada akhirnya seringkali cuma dipakai sekali ato engga sama sekali.

    kalo pake logika saya sih, siapa yang tega ngebawa tas puluhan juga buat jalan2 dengan resiko kotor, baret2 ato bahkan hilang

    saya sih cenderung milih yang biasa2 aja 200rb buat aku udah lumayan mahal, secara ntar isi tasnya cuma tisu sama bon utang doang hahahh

    *ini kenapa jd panjang ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan salah yen, orang mereka nyata2 bilang kalau umpamanya dalam keadaan hujan mereka bahkan lebih memayungi tasnya dan membiarkan badan basah kuyub, demi hermes kesayangan. sinting to the max!

      tp kl dipikir2 sy juga pernah sinting gitu sih, kalo umpamanya lg hunting kemana dan tiba2 hujan. lebih menyelamatkan kamera saya dulu. wadduh kebayang kalo kamera basah, berabe...

      tapi tetap aja mereka lebih sinting.

      #eh

      Delete
  10. ndag ngerti sm merek KW1, KW2..dll....
    tapi itu tas yang foto keren, bs di jual onlen hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. KW itu bukan merek, tapi istilah untuk barang2 bukan Original, alias duplikat, tidak asli, imitasi...

      tapi imitasi pun ada levelnya loh, coba dibayangkan.

      Delete
  11. Amin kak.
    Semoga kak syam tetap istiqomah. Jangan berlebih-lebihan. Karena berlebih-lebihan adalah sifatnya setan.

    ReplyDelete
  12. perempuan... sasaran pasar paling empuk.

    ReplyDelete
  13. ada ada saja ni gan tasnya.. pake limited edition segala hehe..

    ReplyDelete
  14. aku juga heran mbak, ngeliat cewek (ada juga cowok) ko udah ga rasional lagi buat beli hal" yang kesannya cuma buat naekin gengsi .. aku doa supaya kita semua gak bakal kaya gitu kalo udah kaya nanti .. hha amin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin yah Ey, semoga kamu juga bisa istiqamah :)

      Delete