{Malino} kebun teh

23 September 2012, pukul 08:50 
Dalam perjalanan menuju Kebun teh

Karena terlalu lama leyeh-leyeh, bercanda-canda dan gossip, makanya jadwal ke kebun teh
jadi melorot. Pada dasarnya memang sih tidak ada rute yang mengikat, harus kemana jam berapa. Namanya juga liburan semau kita, jadi suara terbanyak adalah agenda yang harus ditaati dalam perjalanan ini. Dan kebun teh adalah satu dari sekian banyak objek wisata yang akan kami kunjungi. Jarak kebun teh dari penginapan kami tak begitu jauh, kurang tau juga berapa kilo. Malas tanya-tanya. Yang penting tau jalannya, melewati pasar, hutan pinus, kebun strobery dan taraaaaaa... sampailah kita di kebun teh, kurang lebih waktunya 20 menit dalam perjalanan.




Sebelumnya saya sudah pernah mengunjungi daerah kebun teh ini bersama teman-teman kuliah. Dan sekarang sedikit takjub melihat sudah banyak renovasi yang dilakukan. Mulai banyak penginapan berkelas yang dibangun dan ada cafenya juga. Cafe yang makanyannya dikenakan pajak 21% bo', parah! Kalau dulu dengan pemandangan yang sama tapi fasilitas yang biasa saja, kita bisa bebas masuk. Free! Nah sekarang untuk bisa masuk ke kawasan kebun teh harus bayar 50K/orang. MAHAL! Namanya juga daerah wisata, kalau memang pemerintahan/penduduk setempat "sadar wisata" mereka tidak akan menyia-nyiakan daerah yang memang memiliki potensi besar untuk mendapatkan pundi-pundi.










Allah baik yah memberikan kita dunia yang selalu membuat kita bisa menyegarkan pikiran. Kadang kalau lagi suntuk saya benar-benar butuh yang namanya melihat laut, ke daerah pegunungan atau paling hanya melihat kelangit saja sudah beres. Tapi kadang kalau lagi suntuk se-suntuk-suntuknya malah bikin repot karena maunya naik pesawat terbang, terserah mau kemana tujuannya yang penting saya bisa melihat langit biru dengan gumpalan awan dari jarak dekat. Tapi yah, mungkin itu hanya hasrat semata karena pada dasarnya saya selalu merasa was-was ketika ada dalam pesawat terbang dengan ketinggian sekian beriburibu meter dari daratan. Dan lagi, mana bisa saya bermanja-manja macam itu sementara kondisi keuangan juga *memprihatinkan*, haha... itu sih inti dari segala inti :)

Yah, yang namanya suntuk itu muncul dari kejenuhan rutinitas, berfikir sempit dan maunya main kabur saja. Makanya butuh penyegaran dengan melihat yang LUAS tak berbatas, karena jangkauan fikiran pun akan ikut tak berbatas, bebas dan lepas. Membebaskan segala apa yang memberatkan, melepaskan segala apa yang semestinya sudah tidak pada tempatnya lagi. Kemudian berbicara pada alter-ego, tawar menawar, kompromi dan hmm... biasanya kalau sudah begini saya tiba-tiba kangen rumah, pengen pulang saja.
"apa definisi dari yang terbaik?"
"yang terbaik adalah segala apa yang telah berlalu"
"hmmm..."


But show must goon, mana bisa pulang dan lagi masih ada beberapa tempat yang harus kami datangi, mumpung masih di Malino juga.



Ps. dalam perjalanan menuju pasar si R mendadak pengen *pup*, dari kemarin kerjaannya kalau gak muntah yah gitu deh... heran saya (_._)"
 

-SM-

A blogger who inspired by people, book and music. Loved to Expressing myself through my story and photograph.

0 Comment: