Powered by Blogger.

Test Pack

Test Pack edisi Revisi

Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still loving them, then?
That’s way you need commitment
Don’t love someone because of what/how/who they are 
From now on, start loving someone, because you want to 
 
(Test Pack: Hal 196)


Yah seperti itulah dua paragraph yang tersaji dalam buku Test Pack karangan Ninit Yunita, dua paragraph yang begitu menyentuh, kereeen ah! Sebelumnya, saya tau tentang Test Pack ini setelah difilmkan dan direview oleh banyak orang di blog, rata-rata tanggapan mereka bagus itu mengapa saya memutuskan untuk membeli bukunya saja toh harga nonton sekali di XXI saat weekend hampir sama dengan harga bukunya.

Saya membeli buku ini hari sabtu kemarin, saat jalan bareng Mama saya di Mari. Dan saya menghabiskannya pada hari minggunya, hanya sehari, setelah beres-beres kamar, mandi kemudian saya menenggelamkan diri dalam tulisan Ninit Yunita yang begitu ringan tapi tidak asal. Buku ini sukses membuat saya tertawa, prihatin dan berkaca-kaca. Ada beberapa cerita yang begitu kuat menarik saya untuk merasakan betapa perihnya ada dalam kondisi seperti itu.

Buku ini menceritakan tentang kisah rumah tangga Rahmat dan Tata, dimana setelah 7 tahun menikah mereka belum juga dikarunia anak. Sementara Tata sang istri mulai terobsesi dengan keinginannya itu, sebagai perempuan dia merasa perlu membalas cinta suaminya yang begitu besar dengan memberikannya anak tapi yah apa mau dikata Tuhan berkehendak lain, Tata belum juga bisa mencapai target hidupnya untuk bisa punya anak sebelum berusia 30 tahun.

Bagi Rahmat, kondisi tersebut tidaklah menjadi masalah besar. Toh selama 7 tahun, mereka hidup bahagia. Bukan karena tidak ingin punya anak, tapi kalau memang belum dikasih mau apa?, pikiran seperti itulah yang kadang membuat Tata dongkol dan beranggapan Rahmat tidak benar-benar menginginkan anak. Setelah 7 tahun 7 bulan usia pernikahan mereka, akhirnya Tata memberanikan diri untuk mempertanyakan alasan kenapa dia belum juga bisa hamil secara medis. Tata mengunjungi dokter kandungan yang direkomendasikan oleh sahabatnya, dari dulu Tata takut jika difonis Interfill, dia takut ditinggalkan oleh suaminya seperti pernikahan pada umumnya itu mengapa dia tidak pernah kedokter kandungan.
"Kang… kalau Neng Interfil… will you love me as much as you do now?"
"Nggak cukup kamu interfil untuk membuat saya berhenti nyayangin kamu"

Hasil tes menyatakan…

Tata, sehat.
Rahmat, Interfil!

Pertengkaran demi pertengkaran terjadi, hingga pada satu malam…
"kalo kenyataannya saya interfil… itu juga bukan saya yang mau. Deal with it. Just because we cannot have children, do we have to give up our marriage?"
"you know what? Bukan KITA yang nggak bisa punya anak… tapi KAMU!"

Tata pergi, dan mereka berpisah...

Tata sadis banget yak, yah namanya manusia kalau sudah dikuasai oleh ego dan amarah bisa tiba-tiba berubah wujud menjadi monster yang sangat menyakitkan. Well, selebihnya dalam buku diceritakan banyak kejadian yang akhirnya membuat Tata tersadar dan memutuskan untuk kembali pulang. Bacalah bukunya kalau mau lebih tau detailnya gimana-gimana, tapi kalau saya sarankan sih kalau mau betul-betul dapat feel ceritanya jangan nonton filmnya dulu karena setelah saya melihat trailer dan membaca review filmnya, banyak kisah yang sengaja ditambah-tambahkan untuk membuat kesan dramanya semakin kuat, dan disisi lain juga bagi saya justru mengurangi "nyawa" novel ini. Pokoknya mending baca bukunya saja!

Beruntunglah setiap perempuan yang mendapatkan suami yang baik hati, yang mencintai istrinya karena dia memang mencintainya. Tanpa apa dan kenapa. Dan begitu pula sebaliknya. Saya jadi penasaran, apa memang benar dalam rumah tangga cinta tidak akan pernah cukup untuk tetap membuatnya utuh? Bukan lagi perkara All you need is love, tapi sudah berubah menjadi how far a commitment will take you? Hmm… will see

I heart this book so, I give 3 star from 5 stars for the rating.
Happy reading ^___^

-SM-

12 comments

  1. hiks hiks, , ditinggalin istrinya... :(

    untunglah mau balikan lagi :)

    salam kenal mas matahari, kunjung ke blog aku yah

    ReplyDelete
  2. itu rasanya infertil deh mbak, tidak subur, bukan interfill

    Btw saya baca reviewnya disini aja udah berkaca-kaca, kalo baca bukunya langsung bisa banjir kali :p
    Good!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja kok, interfilitas/infertilitas sama2 ketidak mampuan untuk memiliki anak :)

      Haha, Yen lebay ah.. saya itu berkaca2 maksudnya ua berkaca mata ;p

      Delete
    2. oh sama ya? :P

      hehehe, bisa aja nih :D

      Delete
  3. setuju.... apalagi aku suka pas bagian terakhirnya... menyentuh... :'0

    ReplyDelete
  4. soal anak, kenapa suka ditimpain ke salah satu pihak ya?
    padahal bikinnya bareng bareng..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya gitulah mas, gak ngerti juga. belom pengalaman soalnya :p

      Delete
  5. blm ntn filmnya bukunya, tp jd pgn baca bukunya, dilematis sekali yah...

    ReplyDelete