Wisata udara di Kota Kendari

January 20, 2013


Well, semestinya malam ini saya sudah leyeh-leyeh beristrahat disalah satu hotel di kota Kendari untuk kemudian esok harinya saya bisa lanjut untuk menuntaskan urusan di kantor Hadji Kalla cabang Kendari, tapi karena satu hal makanya keberangkatan saya itu dicancel. Padahal sudah ada di Kendari loh.


Pada perjalanan dinas kali ini, saya ditemani oleh Kiki. Dia marketing yang menangani customer fleet yang sedikit banyak pada setiap bulannya adalah orderan kendaraan untuk wilayah operasional Kendari. Tujuan ke Kendari kali ini pun adalah untuk menyelesaikan apa-apa yang belum selesai terkait penjualan tersebut, sekalian mau menyusun ulang flow pengurusan surat-surat kendaraan yang belakangan kembali bermasalah. Penting, tapi tidak mendesak. Sekalian untuk silaturahim juga, sama mereka-mereka yang selama ini hanya hadir dalam bentuk suara tanpa rupa.

Kemarin siang saya sudah memesan tiket di travel kantor, untuk penerbangan minggu siang tanggal 20 Januari 2013. Dapatnya pukul 13:10, yah okelah tidak terlalu sore juga. Apalagi jarak tempuh Makassar - Kendari hanya sekitar 45 menit, yah paling lama adalah 1 jam. Waktu mbak Linda tanya, pulangnya kapan? Saya bilang nanti sajalah saya telepon lagi, kalau urusannya cepat selesai saya mau pulang senin sore saja, tapi kalau gak yah selasa pagi. Jadi saya hanya booking tiket pergi. Padahal biasanya booking langsung pulang - pergi.

Hari ini, dari subuh hujan deras tak berhenti mengguyur kota Makassar. Sebenarnya ini buat saya sedikit malas beranjak dari tempat tidur, baru pada pukul sembilan pagi saya mulai prepare, ngepack sederhana untuk perjalanan singkat. Pukul sebelas saya keluar rumah, singgah di beberapa tempat dulu kemudian ke kantor, dari kantor saya menuju ke bandara Sultan Hasanuddin. Pukul dua belas lebih saya check-in, dan menunggu Kiki di Gate 4. Sebenarnya kita janjian mau sama-sama kebandara, tapi Kiki agak lama dan masih mau singgah kesana kesini dulu. Padahal sudah jam dua belas lewat. Saya tidak begitu suka kalau urusan pergi-pergi jauh begini bawaannya buru2, lari-larian, takut terlambat, dsb. Jadi saya memutuskan menunggu dia saja di Bandara setelah check-in. Lebih plong!

Tidak lama setelah Kiki datang, pukul satu lebih akhirnya ada panggilan untuk naik ke Pesawat. Karena pesawatnya agak jauh makanya kita diantar naik shuttle bus bandara, turun dari bus saya senyum: hmm... baru kali ini saya naik pesawat kecil yang bahkan untuk masuk ke badan pesawatnya kita hanya butuh menaiki kurang lebih 7 anak tangga. Ya, ini baru pertama kalinya saya naik pesawat Wings Air, milik Lion Air juga.

Waktu Check-in tadi seklian untuk dua kursi, saya memang tidak begitu memperhatikan. Barulah saat dipesawat meraba-raba kursi saya baru sadar bahwa kursi saya itu terletak jauh dari kursi Kiki. Saya di 01F dan Kiki di 10A. Menyebalkan!

Waktu melihat posisi dimana saya harus duduk, saya tertegun. Pintu darurat. Err... saya baru tau kalau pesawat kecil itu ya pintu daruratnya di depan. Belum lagi pramugarinya sempat memberi pesan khusus pada kami yang duduk dibarisan deepan, bahwa pintu darurat ini adalah tanggung jawab anda. Dengan tatapan yang, sumpah ya hororrrr!

Kurang sepuluh menit pukul setengah dua. Pesawat take-off, menembus langit Makassar yang masih basah. Agak gelap, ditutupi awan yang menghitam. Suara mesin berdesing. Baru sekitar sepulu menit pesawat sudah terbang tenang diatas awan-awan yang menggumpal. Saat itu langit biru, awan putih dan terangkai halus. Matahari sempat menyapa saya melalui jendela yang saya biarkan tetap terbuka. Subhanallah, indahnya luasnya kuasa Allah...

Dan cuaca buruk kembali mengganggu penerbangan saya kali ini. Berkali-kali ada peringatan dari pramugari untuk tetap duduk dan memasang seatbelt, guncangan pesawat lebih terasa dari yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Tapi kali ini saya sudah bisa lebih tenang. Walau semakin lama bunyi-bunyi pesawat juga mulai aneh. Beberapa kali terdengar dan terasa seperti roda tengah diturunkan.

Tak berapa lama pramugari pun mengumumkan bahwa tak lama lagi pesawat yang kami tumpangi akan landing di Bandara Haluoleo Kendari, kota Kendari dari tempat saya terlihat begitu kecil, semakin lama semakin besar dan tiba-tiba menghilang ditutup awan putih tebal, guncangan semakin keras. Tak seberapa lama, pesawat terasa banting setir berbelok ke posisi semula, kemudian terbang lebih tinggi lagi. Kejadian ini berlangsung sebanyak dua kali. Saya merasa ada dititik yang sama sebanyak dua kali... ya, cukup melihat kebawah akan ketahuan kok.

Akhirnya Kapten penerbangan kami angkat bicara, bahwasanya cuaca buruk menyebabkan pesawat yang kami tumpangi ini tidak bisa mendarat di Bandara Haluoleo. Oleh karena itu pesawat akan tetap berada diudara selama 10 menit, dan akan mencoba lagi untuk menembus dan melakukan pendaratan. Dan ternyata gagal. Pesawat masih terus melakukan manuver dilangit, perasaan saya? Hmm... Alhamdulillah agak tenang, tidak begitu panik. Soalnya ingat komentar mas Rawins di postingan sebelumnya, yang seperti ini mungkin pertama buat saya tapi bukan hal pertama didunia penerbangan. All is well :)

Tiga kali mencoba menembus Bandara kota Kendari, akhirnya sang kapten memutuskan untuk kembali ke Kota Makassar. Untuk pengisian bahan bakar. Wow, buset... bahan bakar menipis. Worst casenya, pendaratan darurat nih. Mana muka pramugari depan saya juga tegang banget ditambah co-pilot yang nampak beberapa kali mondar mandir. Untung Koko yang duduk disamping saya tenang, jadi ya kebagian tenangnya juga. Akhirnya perjalanan dari langit kendari menuju Bandara Makassar saya nikmati dengan tertidur. Rasa akan pulang itu selalu membuat hati lebih tenang...

Saat pramugari mengumumkan pendaratan, saya sudah terbangun. Hmm, Makassar cerah ceria. Padahal sudah seminggu saat sore hari selalu hujan. Alhamdulillah, pesawat yang saya tumpangi bisa mendarat mulus dan kembali pada posisi semula. Baru saja pesawat parkir, tiba-tiba bunyi2 telepon berdering sahut menyahut. Rata2 kata yang keluar dari mulut mereka sama: mencoba menjelaskan kejadian yang ajaib ini pada seseorang yang mungkin sudah lama menunggu di Kendari sana. Saya sendiri tetap mematikan telepon, masih diatas pesawat soalnya. Tidak lama Kiki muncul dihadapan saya dengan muka yang bengkok kesana kemari, panik bercampur mual katanya.

"Kita cancel saja kak"
"Dari tadi mamaku menelepon, khawatir. Mamaku menangis-nangis, suruh kita pulang saja. Perasaannya tidak enak"

Melihat Kiki seperti itu saya ikut saja. Dia partner saya dalam perjalanan ini. Dan lagi, yang berpesan itu Mamanya. Saya sendiri belum mengabari orang rumah tentang hal ini. Toh kalau ternyata memang saya cancel, mau kasih kejutan saja lewat ucapan salam masuk rumah. Tadi juga saat baru masuk bandara, Bapak saya yang lagi diluar kota menelpon dan menekankan baik-baik pada saya "hati-hati nak"

Sebelum menyampaikan maksud ke pramugari, kami telepon Bapak Boss dikantor. Menceritakan kondisi, Kendari sedang cuaca buruk, entah berapa lama pesawat akan parkir di Bandara Hassanuddin katanya mereka menunggu informasi dari bandara kendari dulu. Sementara jawaban dari Boss juga dicancel aja, besok pagi saja berangkatnya. Sudah keburu sore, biasanya semakin sore semakin buruk cuacanya.

Okey. Cancel...

Tak lama shuttle bus bandara datang menjemput kami (hanya kami berdua), membawa kami menuju terminal kedatangan Bandara Sultan hasanuddin. Hahaha... setelah melalui kejadian ajaib, setelah menemani kiki mengeluarkan semua isi perutnya ditoilet wanita, kami pulang.

Akhirnya terjawab, kenapa saya yang biasanya memesan tiket pulang pergi jika ingin mengunjungi satu kota. Tapi kali ini saya hanya memesan satu? Itu karena disatu tiket itu sudah include penerbangan pulang dan pergi, yah walau Kendati hanya bisa dinikmati dari ketinggian. Anggap saja Wisata udara di kota Kendari. Lumayankan 3 jam terluntang lantang diudara. Hahaha... #kidding, dari pada dibawa setresss =p

Sampai dirumah, saya menceritakan ke Mama saya dan Adik saya. Reaksinya? Semoga ada tidaknya saya dipesawat tadi, pesawat itu tetap bisa mengantarkan penumpangnya selamat sampai tujuan. Amin.

Saya dan Kiki, sepulang dari langit Kendari

You Might Also Like

16 Comment

  1. dibilangin ga percaya
    makanya kalo musim ujan jangan jalan jalan mulu
    tapi gausah takut lah
    toh kalo jatuh juga bareng bareng ga sendirian
    hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaaa, akhirnya percaya mas. Dan Alhamdulillanya yah gara2 komen Masraw kemaren tuh cukup membuat saya tak panik saat pesawat muter2 kagak jelas diudara. hehe... Thankyou

      #muaaach

      Delete
  2. iyaahh, kemarin juga bossku sempat delay pesawatnya. Yang harusnya jam stgh 3 udah pada nyampe KDI pake GA eehh stgh 4 blm ada juga kabar dari mereka udh nyampe apa blm, berhubung sejak jam 2 awan menghitam disusul hujan mengguyur Kendari begitu derasnya.

    so, kapan kesini? kabari yaaakk klo jadi kesini hari ini, saya free koq sore harinya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin yang penerbangan jam dua belas di diah, kalau saya yang jam satu dan sampai 3 jam berikutnya harus kembali mendarat di Makassar.

      sip sip, mungkin sy ke Kendari sekalian awal Februari. ta'kabar2 ya jeng :)

      Delete
    2. ndak say, bossku and the gank flightnya jam 13.50, penerbangan keduanya GA.

      siiip, tak tunggu nah.. mudah2n bisa gantian menemanimu nongkrong dsini, hehehh *kayak ada itu mau ditunjukkan, xixiix

      Delete
  3. kalo musim ujan enaknya diem di rumah..
    jangan jalan2 di udara :P

    ReplyDelete
  4. Iya, cuaca memang lagi buruk. mending di rumah aja..

    ReplyDelete
  5. Wah sudah pernah ngerasaain naik pesawat terbang. pasti enak ya kak?

    ReplyDelete
  6. ngebacanya jadi kebawa tegang, mungkin jadi pengetahuan saya juga ketika utk pertamaklainya saya naik pesawat, entah kapan hehhe...

    ReplyDelete
  7. so, kapan perjalanan dinas ke jakarta lagi? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti, pas abangnya gak di Jakarta. haha...

      Delete

Instagram