Powered by Blogger.

{Pinrang} Menikmati nasupalekko, alam dan hasil alam

Cerita sebelumnya baca disini :)

Asyik ngobrol soal keanehan-keanehan leluhur kami, ternyata sudah sampai di warung Nasupalekko. Yah, saya belum cerita sebelumnya. Sebenarnya tujuan utama dari agenda ke Pinrang ini adalah berburu Nasupalekko, yaitu jenis makanan (lauk) yang berbahan dasar bebek. Kalau makan bebek, saya pernah. Sering malah, apalagi semenjak Bapak saya beternak Bebek dibelakang rumah. Kalau ada yang nakal, potong katanya. Haha… Tapi kalau Nasupalekko ini saya belum mencobanya.

Well, saya speechless seketika melihat lokasi dimana kami akan menyantap Bebek ala Pinrang ini. Wow sekalii… kita dipersilahkan menuju ruang terbuka dan terapung, apa yah namanya… lupa (--“), pokoknya kayak rumah tanpa penyekat jadinya kita bisa menikmati udara bebas. Posisinya sempurna, didepan ada hamparan sawah hijau yang semakin jauh kita memandang akan terlihat deretan pegunungan. Kanan – kiri, pondok-pondok yang juga bisa digunakan. Tapi kami memilih yang paling luas, soalnya kami banyak. Agak ngeri sih waktu menuju ke pondoknya, soalnya hanya dilapisi dengan bambu yang disusun dempet-dempet, mirip rakitlah. Salah pijak, jatuh! Dan yah, boss saya jatuh gara-gara injak bambu yang tidak menumpu pada balok. Sementara bambunya licin karena mungkin terendam air begitu lama.

 
 
 

Dan makanannya keluar, tidak menunggu lama karena pak Rahman sudah order jauh-jauh hari. Kesan saya soal bebek ini yah biasa saja, hehe… masakan Mama saya jauh lebih enak. Saya hanya benar-benar tertarik dengan suasananya. Tapi saya tetap mencoba Nasupalekko ini, aneh sih karena bebek yang dagingnya begitu menempel ditulang justru di potong kecil-kecil, nyaris seperti mencincang jadinya daging sama tulang itu menyatu. Untuk saya yang berkawat gigi agak sedikit bermasalah sih. Bingung mau makan kek model gimana. Dagingnya susah dicubit, musti digigit. Repotlah. Yang bikin Nasupalekko ini enak dilidah saya adalah karena pedasnya yang maknyossss, passs… padahal saya tidak menambah sambel. Hidangan Nasupalekko ini bisa dibilang sangat sederhana, karena hanya disantap dengan Nasi putih yang masih panas. Simple!

 


Usai menyantap sepotong dua potong bebek cincang, hehe… kalau saya menyebutnya seperti itu sajalah. Lebih cocok kayaknya. Saya ikut pak Rahman naik bebek-bebek keliling kolam tempat bebek-bebek ini dipelihara, waaaaahhh… luas sekali. Dan banyak bebek (ya iyyalah…), asal kalian sekalian para bebek ketahui, keberadaan kalian disini untuk dipilah pilih oleh manusia. Ditunjuk potong deh! Hehe… maafkan kami, abis kalian enak sih.

 
 

Setelah menikmati sekaligus menaiki bebek keliling kolam, yah kami bergegas pulang. Belum ke Makassar dulu, kita singgah di rumah pak Rahman. Dan dengan perut yang sebenarnya sudah kenyang kami justru disuguhi banyak makanan yang seperti hasil boleh tanam sendiri. Ronde pertama kami dikasih nangka mengkal, enak. Kedua keluarlah Nanas yang rasanya manissss, terus disambung dengan pisang dan ubi goreng. Wadduh, serasa kebun pindah ke ruang tamu. Tapi enak juga sih, gratis loh. Apalagi waktu pulangnya kami pun dapat pembagian buah nanas, wuih… rejeki nomplok ini. Terimakasih pak Rahman yak, next time kalau sudah panen ajak kita lagi. hehe…

Hanya ada foto ini, potograpernya juga sibuk makan :p

Di Pinrang setengah hari lumayanlah yah, enjoy… penyegaran kembali. Pulangnya kami tetap beriringan, tapi begitu lewat di Pare, beuh… naluri pembalap masing-masing mobil keluar. Tidak lagi saling tunggu menunggu, tapi saling lambung melambung. Sutralah, saya menikmati perjalanan dengan tertidur. Saya terbangun disekitar daerah Kab. Pangkep, dimana kondsi yang mencekam dimulai. Macet parah, jalan satu-satu, jalan dialihkan dan segalanya yang mengulur waktu perjalanan kami dan sukses membuat saya migrain. Dari yang semestinya bisa sampai rumah jam 5 sore ini malah baru sampai jam 9 malam. Wow…

Tentang kondisi ini sudah saya ceritakan sebelumnya, dipostingan ini. Saya tulis langsung dari titik kejadian peristiwa. Yah, hamdalah yah… kita sampai walau agak lama, setidaknya tetap baik-baik saja.

10 comments

  1. Pinrang itu di mana sih mba? aih, suasananya nampak begitu nyaman dan asri ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pinrang itu adalah salah satu kabupaten di Sulsel mbak.

      Delete
  2. ah, pengen banget ke sulsel.. cuma pernah transit aja di bandara Hasanudin hiks...

    ReplyDelete
  3. menikmati hidangan ditengah kolam... mantaaafff gan...


    ReplyDelete
  4. wahh mantap... iia tuh perlu order beberapa hari sebelumnya.. terutama makanan :p keren2 suasana alamnya :)

    ReplyDelete