Powered by Blogger.

[Hongkong-Macau][13.1] From Hongkong to Macau, welcome to the old city...

Sabtu, 26 Maret 2013
Hari ketiga

Pagi-pagi kami sudah musti siap-siap, dari semalam saya sudah packing jadi bangun sedikit terlambat tidak membuat saya terburu-buru. Pukul delapan, setelah sarapan kami berkumpul di lobby hotel. Semua barang sudah berjejer, tinggal menunggu bus dan pak Yau untuk membawa kami ke pelabuhan.

Saya mempersiapkan kamera, hari ini saya berniat berburu gambar ditempat manapun kami akan disinggahkan. Sepanjang jalan menuju pelabuhan saya gunakan untuk memotret bangunan dan aktivitas pagi hari. Orang Hongkong kebanyakan tetap bekerja dihari sabtu, dan baru libur dihari minggunya. Kata pak Yau, ada satu daerah namanya Victoria park dihari minggu dipadati oleh buruh migran asal indonesia (TKI), sama halnya seperti pekerja kantoran saat berlibur mereka diberi kesempatan untuk memanfaatkannya sebebas yang mereka inginkan, salah satunya berkumpul bersama teman-teman dari satu negara, rata-rata mereka datang dengan penampilan yang modis, tidak nampak seperti pembantu, dari pagi hingga petang mereka bercengkrama satu sama lain, ada malah yang memanfaatkan untuk mencari uang tambahan dengan berjualan makanan khas Indonesia.


Pukul sembilan, kami sudah tiba dipelabuhan. Ini adalah kali pertama saya naik kendaraan laut selama satu jam waktu tempuh Hongkong - Macau. Awalnya saya kira Macau dan Hongkong itu satu daerah administratif, barulah pada saat dipelabuhan Hongkong menuju gate ferry yang akan membawa kami menuju Macau kami harus melewati pintu imigrasi. Macau dan Hongkong adalah dua negata administratif Republik Rakyat Cina (RRC), masing-masing memiliki otonomi daerah sendiri. Keluar masuk Hongkong - Macau tetap harus melalui pintu imigrasi.


Pertama kali naik ferry, rasanya goyang-goyang. Seru sih, kapal yang saya tumpangi ini memuat banyak penumpang dimana untuk kelas VIPnya ditempatkan dilantai 2 kapal. Dari yang saya liat, kebanyakan diferry ini diisi oleh bapak-bapak yang dandanannya khas masyarakat pinggiran cina (yak, lagi-lagi teringat film), kalau di Hongkong kebanyakan kita melihat orang-orang modern yang berpenampilan stylish maka dikapal ini sebaliknya. Satu jam terombang ambing ternyata tidak membuat saya mual, saya malah tertidur karena bingung mau bikin apa.

Satu jam berlalu dan Hop! Welcome to Macau...

Macau terlihat sangat "berumur" sepanjang jalan kita disuguhi banyak bangunan bergaya Eropa, sisa-sisa jajahan Portugis. Cuacanya lebih dingin dari Hongkong, dan yang mengherankan adalah pada jam sibuk seperti ini kenapa kota ini justru terlihat seperti kota mati? Bangunan pertokoan dan cafe-cafe tertutup, tidak begitu nampak aktivitas orang-orang, jalan terlihat lowong..

Ce' Pauline
Selama di Macau kami ditemani oleh tour guide wanita yang bernama Pauline, we called her cece paulin. Orangnya rame, ceriwis lincah dan reaktif. Benar kata pak Yau, kalau kita bicara satu hal sama si cece ini jawabannya akan jadi sepuluh. Bawelnya poll, seperti tidak kehabisan tenaga. Saat dia kehabisan bahan untuk menerangkan setiap sudut kota macau maka dia akan bernyanyi dan mengundang teriakan menggoda dari rombongan kami... akh, tour guidenya juara!

Bayangan saya tentang Macau ada didalam film F4, pantainya yang indah dan suasana eropa dalam sebuah gedung, naik gondola mentusuri sungai kemudian kita dinyanyikan lagi seriosa oleh pengemudinya. Romantic! Tapi itu cuman imajinasi saya, sepanjang bicara cece pauline ini hanya menggembargemborkan soalan Macau adalah "las vegas" asia. Kota judi terbesar di asia, dan terdapat puluhan kasino besar. Orang terkaya di Macau adalah Stepen chau, istrinya ada delapan katanya dia mencari istri kesembilan. Siapa tau ada yang berminat? Haha..

No comments