Powered by Blogger.

[Hongkong-Macau][13.1] Menikmati santapan Nusantara

Jum'at, 25 Januari 2013
Hari kedua

Untuk hari ini city tour akan diakhiri setelah makan malam. Dari victoria peak kami dibawah ke salah satu restoran yang cukup terkenal di Hongkong. Restoran Indonesia. Akhhh, mendengar kata Indonesia saya mendadak lapaaar! Dipikiran saya dan teman-teman, akhirnya makan enak...

tampakan depan resto
Kami tiba direstoran Indonesia sekita pukul empat lebih. Kami masih diberi waktu untuk belanja lagi di toko-toko yang berjejer disepanjang jalan, serasa di ciwalk bandung euy. Toko berjejer memajang display dari koleksi mereka yang paling oke, apalagi saat kami di Hongkong menjelang tahun baru cina makanya setiap toko memberi diskon tinggi agar barangnya habis terjual. Melihat barang yang memang lucu-lucu saya memutuskan untuk kembali keresto lebih awal. Godaannya tinggi, di restoran ada Pak Yau yang tengah menikmati soto ayam yang masih hangat. Sepertinya enak...

Restoran ini milik orang keturunan cina, pernah lama di Indonesia makanya mereka sangat fasih berbahasa Indonesia. Beberapa karyawannya pun sangat fasih berbahasa indonesia walau dengan tampang mandarin. Yang membuat saya terkesima adalah seorang kakek tua yang masih tampak semangat melayani para pengunjung walau dengan langkah patah-patah. Ini mungkin satu dari banyak orang tua yang memilih untuk tetap bekerja pada usia lanjutnya dari pada duduk-duduk saja dirumah. Selama masih bisa berjalan ya kenapa tidak :)

Mood restoran ini didesign hening, melihat sekeliling orang makan pelan-pelan, santun tanpa ada percakapan dan suara-suara yang mengganggu. Kebayang kalau sedang makan bersama teman-teman, tempat makan selalu menjadi tempat paling onar, sambil makan sambil ngobrol, tidak jarang malah kita makan sambil ketawa-ketawa, tidak memperdulikan kenyamanan pengunjung lain.

Pose nunggu makanan

Akhirnya makanan yang ditunggu-tunggu keluar, ada pecel, kari ayam, sop ayam, ayam goreng, telur rebus dan sayur santan. Jika dibandingkan dengan makanan sebelumnya, tentu saja makanan yang disini lebih nampol. Tapi kembali lagi, rasanya tetap beda. Mungkin bahannya memang tidak khas dari Indonesia, leher tidak pernah bisa berbohong, ini memang masakan Indonesia, tapi citarasa tetap Hongkong punya, lengket dileher... walau begitu, disemua meja makanan bersih tak bersisa. Sebagai makanan penutup kami disuguhkan segelas es cendol yang, enaaaaaaak! Sayang ukurannya kecil, pas minta tambah lagi satu gelasnya seharga 35HKD. Hmm, gak jadi: mendadak kenyang ;)

Dari restoran kita kemudian diantarkan ke Hotel. Masih jam tujuh malam, makanya teman-teman berniat untuk kembali ke ladies market untuk membeli apa yang masih bisa dibeli, soalnya ini adalah hari terakhir kami di Hongkong besok paginya sudah musti kepelabuhan untuk nyeberang ke Macau. Waktu diajak jalan saya memilih untuk stay dihotel menikmati me time dinegara orang, seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa saya jatuh cinta dengan design interior kamarnya, belum sempat berlama-lama dalam kamar.

Dikamar sendirian, saya menyalakan TV pada sembarang channel, memutar lagu-lagu kesukaan saya dari handphone.. kegaduhan yang selalu saya nikmati saat ada dikamar hotel: soalnya kalau tidak ada suara suka parno sendiri. Saya duduk dikursi yang menyatu dengan jendela besar, memegang buku yang tak sama sekali saya baca, hanya nengok keluar jendela: dari ketinggian lantai 9 saya tetap bisa menikmati satu sisi Hongkong yang tak pernah mati dimalam hari. Cantiknyaaaa...

Setelah packing, pukul dua belas lebih saya tidurr. Asli nyaman hotelnya...

No comments