Hongkong: Rosedale hotel di pulau Kowloon

March 10, 2013

Kamis, 24 Januari 2013
Hari pertama
  
Tiba di Hongkong saya langsung terkesima dengan Bandaranya yang luar biasa besarnya. Saat kami menuju gedung terminal kedatangan suasana terasa sepi, bisa dibilang hanya ada orang-orang dari pesawat kami. Barulah saat melewati Imigrasi yang maha menegangkan itu, saya melihat banyak mata-mata sipit dengan bahasa yang terdengar asing dan lucu. Hehe...




Yang tak kalah lucu adalah, rombongan saya yang sejak dari Makassar sudah berpakaian ala-ala musim dingin dibuat tercengan dengan orang-orang yang berlalu lalang dibandara. Orang-orang bule malahan hanya pakai tanktop dengan paduan hotpants, atau orang-orang pribuminya sendiri mondar mandir dengan pakaian biasa berbahan tipis. Lah, katanya musim dingin? Hihi...

Pak Yau
Keluar dari Imigrasi kami disambut oleh seseorang yang wajahnya persis pemeran polisi yang biasanya ada difilm-film Jackie chan. Namanya pak Yau, wajahnya oriental abis dan kejutan... bahasa indonesianya juara! Dia banyak tahu istilah-istilah dari Medan dan Surabaya. Yah walau begitu pada pelafalan beberapa kata dia keteteran, semua kata yang menggunakan huruf "R" total diubah dengan "L", lidahnya tidak biasa.

Setelah selesai urusan bagasi, Pak Yau mengajak kami santap siang sekaligus malam. Sejak tadi memang kami melapar, menempuh perjalanan sebegini jauh dan lamanya. Kami diajak ke restoran cina yang entah apa namanya yang letaknya masih satu gedung dengan bandara, yang ada dibayangan saya adalah "enak" makan makanan ala-ala suki! Dan setelah makanan dikeluarkan satu persatu, mendadak saya mual. Tidak enak! Leher saya terlalu sensitif dengan masakan aneh-aneh, untung saja ada diantara kami yang membawa bekal ayam goreng kecap plus buras dari Indo. Saya minta sedikit, karena makanan restoran ini tak sama sekali bisa saya santap. Sementara yang lain, terlihat sangat berusaha menikmati makanannya. Hoho... ini baru permulaan ;)


Setelah makan kami bergegas menuju lobby, disana sudah ada bus yang akan membawa kami berkeliling Hongkong. Tapi eh tapi, saya yang kurang pengetahuan ini akhirnya tahu bahwa bandara Hongkong ini ternyata tidak terletak di Hongkong tapi di pulau Chek Lap Kok, untuk menuju pulau Hongkong harus menempuh jembatan yang begitu panjang. Tapi kami tidak langsung ke Hongkong, tapi kami dibawa menuju Pulau Kowloon tempat dimana hotel yang telah direservasi oleh pihak travel berada. Bisa dibilang wisata di Hongkong ini termasuk Island Hopping, karena kita dibawa dari satu pulau ke pulau yang lain, yang membuatnya berbeda adalah jika biasanya di Indonesia kita island hopping menggunakan boat, kali ini via darat melewati jembatan panjang atau underpass bawah laut. Kerenlah!

 
Well, dalam perjalanan menuju hotel kami disajikan pemandangan cahaya  lampu dari gedung-gedung yang menjulang tinggi. Pak yau bilang itu adalah rumah, orang hongkong yah rumahnya seperti itu. Tanah di hongkong harganya mahal, makanya mereka hanya membeli flat, semakin tinggi letak lantainya harganya semakin mahal tapi jika memiliki riwayat penyakit jantung jangan coba-coba ambil tempat tinggi karena saat angin kencang rumah mereka kadang terasa goyang. Adalagi satu apartemen yang terlihat wah terletak ditengah pulau kecil, katanya untuk bisa masuk ke apartemen itu harus naik very dulu. Kalau punya kendaraan pribadi otomatis harus menyewa tanah lagi sebagai lahan parkir. Rempong ya orang hidup di hongkong.

Hal itu pulah yang menyebabkan kebanyakan orang hongkong yang berusia lanjut tetap memilih untuk bekerja walau dengan upah seadanya, jika tinggal dirumah yang hanya sepetak kanan kiri yang ada cuman tembok, menyebabkan mudah setress. Sangat tidak bagus untuk kesehatan, itulah mengapa usia produktif orang-orang hongkong lebih lama.

Pukul enam lebih, rombongan kami tiba di hotel. Dari informasi tourguide, hotel Rosedale yang terletak di jalan Tai Kok Tsui yang katanya adalah salah satu daerah lokal terkenal di pulau Kowloon ini merupakan hotel yang bisa dibilang masih baru. Interior lobby hotelnya didominasi oleh patung-patung abstrak, banyak ornamen lampu yang unik, hotel ini tak seberapa luas tapi dibangun menumbuh sehingga memuat banyak kamar. Saya jatuh cinta dengan interior kamarnya, kecil tapi diberi aksen luas dengan dominasi cermin dan jendela besar yang dibuat menyatu dengan kursi panjang. Sangat nyaman untuk baca buku. Saya sudah merekam detail dikepala saya, one day akan saya terapkan di kamar pribadi saya. Haha, kerennya pool!

Lampu lobby - eskalator menuju ruang tunggu - lorong kamar
Cowok-cowok memang susah rapih ya --"

Well, selain rombongan kantor saya di hotel ini pun ada rombongan wisatawan dari Indonesia, orang-orang Jakarta. Rasanya ya seperti dikampung sendiri :). Setelah sampai di Hotel, beres-beres barang trus bersih-bersih badan kami semua berkumpul di Lobby hotel, untuk ke spot selanjutnya: Ladies Market.

You Might Also Like

0 Comment

Instagram