[Hongkong-Macau][13.1] Menuju pulang !

Minggu, 27 Januari 2013
Hari keempat

Selamat pagi Macau...

Suasana depan hotel, best western Taipa - macau

Pukul delapan lebih, setelah packing dan sarapan kami keluar dari hotel menuju bus yang akan mengantarkan kami menuju pelabuhan Ferry. Saat keluar hotel, brrr... dinginnya pool.. saya dibuat menggigil, tangan saya agak kaku.

Well, dalam perjalanan menuju pelabuhan, cece paulin dan suami berkolaborasi dari tour guide berubah menjadi marketing oleh-oleh khas Macau. Haha... parah nih guide, banyak agenda selipannya. Laris manis pula, padahal harga barangnya tidak bisa dibilang murah. Pertimbangannya adalah menghabiskan dollar, soalnya dari macau ini kita langsung ke pelabuhan Hongkong dan terbang ke Jakarta dan acara belanja-belanja sudah berakhir.

Tiba di pelabuhan, kami dibawa keruang tunggu di samping Mcd. Disana kami menunggu kurang lebih 2 jam. Diruang tunggu kami mendapati seseorang pemuda yang sedari kami datang hingga pergi tetap tidur dengan posisi duduk, dilihat saja rasanya kurang nyaman tapi dia bisa loh tertidur dengan model seperti itu. Hal yang tak kalah menariknya adalah charging spot, dipasang entah sudah berapa lama disana yang jelas saat saya mencoba melihat dari dekat sarana publik tersebut benar-benar terpelihara dengan baik, masih utuh walaupun tidal nampak pengawas yang wara-wiri.

penampakan ruang tunggu terminal ferry, Macau

Saya tidak bermaksud membanding-bandingkan, tapi memang sangat terlihat perbedaan orang kita dan orang asing utamanya soalan tanggung jawab terhadap sarana publik. Sepertinya orang luar, utamanya Hongkong memang sudah tertib dari lahir. Yah yang seperti itu kan hanya soalan kebiasaan, kita mencontoh dari lingkungan, tempat dimana kita berinteraksi sosial. Kata seorang teman: seandainya di Indonesia ini, rusakmi atau kalo ndak adami yang hilang kabelnya ;)

Dari ruang tunggu kami kemudian ke bagian imigrasi, setelah selesai pengecekan dokumen masuklah kami keruang tunggu berikutnya. Ferry merapat dan kami bergegas, ya walaupun kami mendapatkan nomor kursi tapi saat masuk dalam kapal petugasnya berteriak "free seat" berulang-ulang. Kami artikan itu dengan bebas pilih duduk dimana saja, segera saja saya mengambil tempat disamping jendela tujuannya ya jelas biar bisa melihat pemandangan laut lepas. Waktu menuju Macau saya duduknya ditengah-tengah, sama sekali tidak melihat apa-apa.

View dari ruang tunggu

Disamping saya duduk seorang perempuan, cantik khas Thailand. Dengan bahasa Inggris patah-patah, saya membuka percakapan yang ternyata disambut baik. Ternyata dia adalah buruh migran asal Thailand, pedalaman Thailand. Dia di Hongkong sudah 3 tahun lamanya, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dia tidak sendiri, di Macau ini dia mengunjungi saudari kembarnya yang juga seorang buruh migran dengan pekerjaan yang sama. Pulang kampung sekali dalam setahun. Yah memang sih kerja jadi TKI di Hongkong itu standar upahnya tinggi, tapi tetap saja hidup ditanah rantau dan dengan strata hidup yang dianggap rendah pasti lebih banyak dukanya. Belum lagi kalau dilanda rindu..

Well, satu jam perjalanan meninggalkan Macau terasa lebih cepat dibandingkan waktu menuju Macau. Apalagi ini tau-tau kita berlabuh langsung di Bandara International Hongkong. Diterminal kami mengecek kembali bagasi, memastikan barang-barang tidak ada yang tertinggal dan kalau ada yang mau diambil ya diambil karena bagasi akan kami dapatkan lagi nanti setelah sampai di Bandara Makassar. Setelah soalan bagasi selesai, kami kemudian menuju Imigrasi dan ke ruang tunggu kereta listrik, akhirnya bisa merasakan naik kereta cepat, walau cuman 10 menit.

Keluar dari kereta kami mengikuti papan penunjuk jalan yang mengarahkan kami ke gate 36, wow.. bandaranya besaaaar dan sangat mewah. Untuk penumpang VIP terlihat menggunakan kereta kecil, sedangkan kami berjalan kaki menyusuri sepanjang ruang tunggu tapi tak sampai-sampai, dan ternyata gate 36 itu terletak satu sebelum pojok. Jauh bleh...

Perut melapar. Dari tadi makannya tidak teratur. Mau cari makan juga tanggung, waktunya keburu dan lagi dollar cappu! Bablasss! Hehe... tidak lama panggilan naik ke pesawat terdengar juga, antriannya panjang banget adakali berdiri 20menit-an hanya buat ngantri masuk kebadan pesawat. Sampai dipesawat duduk nyaman dan tidurrrr, cuapeeek!

Menunggu pesawat siap di Bandara International Hongkong
Sunset dilangit antara Hongkong - Jakarta

Empat jam penerbangan dari Hongkong ke Jakarta tidak begitu terasa. Tau-tau saya sudah mendengarkan suara pramugari mengingatkan kalau sebentar lagi akan landing si Soetta. Ngelirik jam wah sudah jam sebelas. Diterminal pun sudah nampak sepi, hanya ada kami dan beberapa penumpang yang mungkin sengaja nginap di bandara agar tidak ketinggalan pesawat pagi.

Lagi-lagi untuk menghemat energi, di bandara soetta yang sudah hening itu kami menunggu sambil tiduran dengan posisi yang paling nyaman, kamera sudah tidak ada yang aktif, percakapan atau ketawa-keta pun sudah gak ada. Pada tepar semuanya, kami akan menunggu lumayan lama karena baru akan boarding pada pukul dua dini hari. Penerbangan murah euy...

***

Senin, 28 Januari 2013
Hari kelima

Pukul dua kami pun mulai bergegas masuk kebadan pesawat, begitu dapat kursi ya langsung tidur lagi. Kali ini naik pesawat yang seperti biasanya, 6 kursi dengan satu lorong. Tetap maskapai yang sama. 2 jam penerbangan akhirnya sampai juga di Makassar. Pukul empat kurang saya sudah dalam perjalanan menuju rumah nebeng mobil teman yang dijemput oleh sopirnya, tau-tau pas sampe rumah gak perlu ketok-ketok ya orang rumah sudah pada bangun. 5 hari dikampung orang, gak sama sekali dengar suara Azan dan Alhamdulillahnya pas sampai rumah saya disambut oleh suara Azannya pak Maya dari Masjid belakang rumah.

Finally home...

4 comments:

Powered by Blogger.